Minggu, 31 Januari 2016

Obat Ampuh Mengatasi Hama Kutu Daun Pada Cabe

Hama yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi para petani cabe, karena umumnya petani cabe mengalami �Diskriminasi� oleh kelakuan hama kutu daun ini, baiklah karena hama ini termasuk bandel dan harus dikendalikan agar tanaman cabe kesayangan anda tetap menghasilkan buah yang baik dan banyak, mari kita coba ungkap cara mengatasinya.

Kutu daun atau lebih populer dengan nama Bemicia Tabacci, paling senang menyerang tanaman dari family solanace, baik itu cabe maupun terong, namun demikia ia juga hobi merusak tanaman lainnya, perkembangannya meningkat manakala musim berganti ke hujan, ketika curah air tinggi kutu-kutu ini dengan mudahnya berkembang biak, pada tanaman cabe anda bisa temukan dibalik dedaunan cabe, kadangkala ia juga ditemani oleh semut hitam, yang katanya hobi memakan serbuk putih yang dihasilkan oleh kutu kebul.

Banyak cara yang diceriterakan oleh para blogger di dunia maya tentang cara terbaik mengendalikan hama kutu ini, semua trik tersebut sebenarnya bisa cobakan, namun dalam pembahasan kali ini kita akan melihat cara pengendalian kutu ini dengan model lain, dimana hampir sebagian petani kita tidak terlalu memperhatikan cara ini, cara tersebut adalah dengan memanfaatkan kondisi vegetasi tempat dilaukannya usaha budidaya cabe tersebut.

Namun sebeluk kita membahas model pemanfaatan vegetasi tersebut, ada baiknya kita jabarkan terlebih dahulu cara ampuh mengatasi hama kutu putih pada cabe ini.

1. Pengendalian dengan cara ekstrim

Cara ini adalah dengan memanfaatkan minyak tanah dan deterjen dalam mengendalikan kutu putih, agar lebih mudah kita anggap takaran penyajiannya untuk satu botol sprayer tangan, untuk takaran ini yang kita butuhkan adalah, deterjen atau sabun colek, kemudia air, dan minyak tanah.

Perlu pula kami sampaikan, minyak tanah sebenarnya berbahaya sekali untuk tanaman cabe, bahkan bisa mematikan tanaman cabe kesayangan anda, namun aromanya bisa dimanfaatkan untuk mengusir kutu kebul ini, oleh karena ini gunakan minyak tanah sedikit saja, karena fungsinya hanya untuk menciptakan aroma tidak sedap, dan kandungan minyaknya yang tidak baik untuk pencernaan kutu kebul.

Caranya :

Ambil deterjen secukupnya, kemudian campurkan dengan air sambil diaduk, pada mulanya air yang digunakan untuk mengaduk ini sedikit saja, kemudian ambil minyak tanah dengan takaran lebih kurang satu mili saja, atau bisa jadi lebih sedikit lagi, aduk lagi bersama deterjen kemudian diamkan sampai busanya hilang, setelah itu baru dicampurkan dengan air secukupnya untuk spayer tangan, selesai tahap ini anda bisa langsung semprotkan ke balik daun cabe.

2. Pengendalian dengan menggunakan serai

Pengendalian dengan cara ini tergolong mudah, ditambah lagi tanaman serai dengan mudah bisa ditemukan, untuk pengendalian dengan serai juga bermaksud memanfaatkan aroma dan rawa pahit yang dihasilkan oleh air perasan serai, berikut cara membuatnya.

(Foto : Serai yang sudah ditumbuh halus untuk membasmi kutu putih - sumber : warasfarm.wordpress.com)


Caranya :

Ambil serai sebanyak lebih kurang satu kilo, untuk ukuran pemakaian sprayer tadi, kemudian serai ini ditumbuk halus, kalau bisa sehalus-halusnya, atau anda juga bisa memanfaatkan blender atau peralatan lainnya, setelah itu serai direbus dengan air sebanyak tiga liter, kemudian ketika air rebusan sudah mendidih, kemudian angkat dan diamkan beberapa saat, setelah dingin tambahkan sabun deterjen sebanyak tiga sendok the, kemudian kocok dan semprotkan pada tanaman cabe anda.

Model pengendalian hama kutu daun pada cabe dengan memanfaatkan vegetasi lingkungannya, maksudnya adalah dengan membiarkan gulma tumbuh disekitaran batang cabe, membiarkan gulma tumbuh ini bukan berarti membiarkan tanaman cabe anda ditumbuhi semak, namun maksudnya adalah disekeliling batang cabe tersebut dibersihkan dari gulma, dengan radius dua jengkal tangan, pada intinya batang dan daun tanaman cabe tidak bersentuhan langsung dengan gulma.

Mengapa cara ini perlu juga diperhatikan, karena sifat kutu putih yang menyukai daun sebagai tempat hidupnya yang hakiki, maka demikian dengan membiarkan gulma tumbuh disekitar pertanaman cabe, diharapkan kutu kebul tidak terlalu leluasa langsung menuju tanaman cabe, atau jika perlu anda juga bisa menanam bunga-bunga yang berwarna cerah, sehingga kutu kebul lebih tertarik kepada bunga dari pada ke tanaman cabe kesayangan anda.

Memanfaatkan vegetasi disekitar pertanaman cabe untuk pembasmian serangga kutu putih ini sangat manjur, beberapa mitra tani cabe kami di kecamatan Timpeh Kabupaten Dharmasraya, telah membuktikannya dan menyarankan agar petani-petani cabe lainnya tidak mensepelekan keberadaan gulma ini.

Obat Ampuh Mengatasi Hama Kutu Daun Pada Cabe


Nah bagaimana pemirsa, mudah bukan cara mengendalikan hama kutu putih ini, selamat mencoba.

Rabu, 13 Januari 2016

Cara Ekstraksi Jernang Suku Kubu

Suku Kubu atau yang lebih populer dikenal dengan suku anak dalam (SAD), merupakan suku pedalaman yang menggantungkan seluruh hidupnya dari hasil hutan, baik itu hewan liar sebagai buruan, buah-buahan hutan dan �hal-hal lain� yang diproduksi oleh hutan.

Sebagai suku yang memanfaatkan hasil hutan, salah satu tanaman yang dimanfaatkan suku kubu sebagai sumber pendapatan adalah buah rotan, atau lebih dikenal dengan buah jernang, dalam bahasa latinnya dikenal dengan nama �Daemonorops Draco BL�, dikalangan pasar gelap dikenal dengan istilah �Darah Naga� dan banyak istilah lainnya.

Buah jernang dimanfaatkan sebagai bahan mentah berbagai produk, diantaranya untuk obat-obatan, bahan pewarna, dan lain sebagainya, di pasar gelap hasil ekstrak buah ini diekspor ke berbagai Negara, ke China, India, Malaysia, dan Jepang, karena pemasaran getah jernang tidak diatur oleh Negara Indonesia, harga getah ini dibandrol antara Rp 700.000/kg s/d Rp 1.000.000/kg, tergantung kualitas yang dihasilkan.

Tanaman rotan penghasil buah jernang bagi suku kubu sangat sensitive, mengingat pesaing mereka dalam mendapatkannya tidak hanya dari sesama kalangan suku kubu, namun juga dari orang luar (masyarakat kampung), karena itu biasanya ketika musim buah jernang suku kubu sibuk didalam hutan dan mereka semakin sulit ditemukan.

Pendampingan suku kubu yang dilakukan perkumpulan peduli kabupaten Dharmasaraya bersama SSS-Pundi Jambi, mencatat berbagai perkembangan dan fenomena kehidupan suku ini di hutan pedalaman Dharmasraya, salah satunya cara mereka mengolah buah jernang.

Selama pendampingan hampir tidak pernah terdengan suku kubu melakukan budidaya rotan penghasil buah jernang ini, mak Marni salah seorang dari komunitas suku kubu pernah mengatakan, sulit untuk membudidayak rotan penghasil jernang ini, sebab belum tentu setiap bibit yang ditanam tersebut menghasilkan buah jernang, karena itu yang bisa mereka lakukan hanyalah menjaga agar tumbuhan tersebut tidak ditebang, dan �menjaganya� dari pandangan orang luar.

Karena banyaknya pesaing dari orang luar, biasanya kelompok suku kubu lebih awal menjaga �permata� mereka ini, dimana biasanya musim jernang pada bulan September � Desember, mereka mulai berpindah masuk lebih dalam kehutan pada bulan agustus.

Studi penelitian yang dilakukan Totok K Waluyo, Teknik Ekstraksi Tradisional Dan Analisis Sifat-Sifat Jernang Asal Jambi, menyatakan jernang adalah resin yang merupakan hasil sekresi buah rotan jernang, resin tersebut menempel dan menutupi bagian luar buah rotan.

Ekstraksi buah jernang oleh suku kubu biasanya dilakukan dengan cara ekstraksi kering, berikut ini cara ekstraksi buah jernang.

Cara ekstraksi buah jernang

Alat dan bahan : ambung (keranjang rotan), kayu penumbuk, lembaran plastic untuk penampung.

1. Buah jernang dilepaskan dari tandannya

2. Buah jernang kemudian dimasukkan kedalam ambung

3. Kemudian ditumbuk perlahan-lahan

4. Jernang yang keluar melalui celah-celah ambung ditampung dengan plastik

Serbuk hasil ekstraksi dimasukkan kedalam plastik, lebih kurang tiga puluh menit hasil ekstraksi akan mengeras dan menggumpal.

Tidak semua jenis rotan menghasilkan buah jernang, rotan yang menghasilkan buah jernang diantaranya adalah, Daemonorops draco BL.; D. draconcellus BECC.; D. mattanensis BECC.; D. micrantus BECC.; D. motleyi BECC.; D. propinquess BECC.; D. rubber BL.; D. sabut BECC.; D. micracanthus BECC. dan lain-lain Jenis-jenis tersebut tersebar di pulau Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu), Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
Cara Ekstraksi Jernang Suku Kubu


Credit :

- Tatok K Waluyo - TEKNIK EKSTRAKSI TRADISIONAL DAN ANALISIS SIFAT-SIFAT JERNANG ASAL JAMBI
- SSS - Pundi Jambi
- Perkumpulan Peduli, Dharmasraya

Selasa, 22 Desember 2015

Metode Efektif Penyelamatan Tanaman Cabe Polibeg Yang Sedang Kritis

Tuan dan nyonya pengunjung setia kami, di Negara kami Indonesia beberapa waktu belakangan ini dalam tahun 2015, mengalami bencana kabut asap dan musim kemarau berkepanjangan, selain dampak langsung terhadap kesehatan, bencana tersebut juga membuat aktifitas bercocok tanam menjadi terganggu, salah satunya kelompok tani Tedong Bongak di pedalaman Piniki Kabupaten Wajo. 

Sekitar 1000 batang cabe polybag kelompok tani tersebut mengalami apa yang disebut dengan istilah HSMTM (Hidup Segan Mati Tak Mau), bagaimana tidak air yang menjadi sumber kebutuhan utama bagi pertanaman cabe polybag tidak tercukupi, bisa dibayangkan usaha pertanaman cabe polybag mereka kali ini akan gagal total. 

Selama lebih kurang enam bulan masyarakat tani mengalami cobaan nan tak tertanggungkan tersebut, pada akhirnya bulan November 2015 hujan mulai turun membasahi tanah, halnya dengan pertanaman cabe polybag kelompok tani Tedong Bongak pun mulai menggeliat, meski pada akhirnya ada juga beberapa pokok tanaman cabe yang mati meragan, akibat perubahan cuaca yang cukup drastis ini, melihat pemandangan cabe polybag yang sedang berusaha mempertahankan hidup tersebut, salah seorang anggota kelompok berinisiatif untuk mengusahakannya agar tetap menghasilkan, maka tak ayal lagi penyelamatan harus dilakukan agar usaha selama tiga bulan yang dilakukan untuk penanaman tidak sia-sia begitu saja. 

Melalui artikel singkat ini kami coba merangkum, bagaimana usaha penyelamatan cabe yang tidak mungkin lagi berbuah itu, sekiranya tuan dan nyonya mengalami persolan yang sama pula seperti persoalan kelompok tani diatas, bolehlah menyimak bagaimana trik penyelamatan itu dilakukan. 

Trik penyelamatan cabe yang hampir tidak mungkin berbuah 

1. Curah hujan yang meningkat membuat tanah dalam polybag menjadi tergenang oleh air, hal ini salah satu penyebabnya tanaman cabe menjadi stres, oleh sebab itu hal pertama yang dilakukan adalah membuat lobang tempat keluarnya air pada bagian atas polybag tanaman cabe. 

2. Pindahkan polybag ke areal yang cukup mendapatkan sinar matahari, hal ini dimaksud pabila terdapat panas dalam waktu singkat, tanaman cabe polybag mencukupi kebutuhan cahaya untuk fotosintesisnya. 

3. Pangkas daun pada bagian pangkal batang, usahakan daun yang tertinggal tersebut hanya percabangan diatas saja, kemudian biarkan selama dua minggu, selama waktu tersebut tanaman cabe memiliki kekuatan yang cukup untuk memasak makanan untuk percabangan daun yang tidak terlalu banyak. 

4. Selama dua minggu tersebut tetap dilakukan pengamatan intensif bagaimana perkembangan cabe polybag, biasanya pada bagian pangkal batang yang daunnya sudah dipangkas tadi akan tumbuh kembali daun-daun baru, nah jika daun lama pada percabangan atas menunjukkan gejala keriting, maka jangan tunggu lama-lama segera pangkas bagian percabangan atas tersebut, dengan asumsi daun baru pada bagian pangkal batang telah muncul. 

5. Lakukan pemangkasan percabangan atas jika hal seperti point 4 terjadi pada seluruh tanaman cabe polybag. 

6. Sambil mengamati daun muda tumbuh mulai dari pangkal batang, sebaiknya dilakukan pemupukan dengan menambahkan pupuk organik dari kotoran ternak, ingat pupuk organic bukan pupuk kimia atau urea. 

Cara diatas dilakukan oleh kelompok tani Tedong Bongak, untuk menyelamatkan tanaman cabe polybag yang sudah hampir mati tersebut, pada beberapa daerah lainnya tim kami juga menemukan persoalan yang sama dengan kelompok tani Tedong Bongak, tepatnya di Kecamatan Timpeh Kabupaten Dharmasraya, salah seorang dari komunitas Tani Unggul Cabe juga mempraktekkan teori yang sama, hanya saja model penanaman cabe yang dilakukannya di areal perladangan, tidak di dalam polybag seperti kelompok tani Tedong Bongak, namun ada satu tambahan jika penyelamatan dilakukan pada cabe yang ditanam di areal perladangan, yakni dengan membuat bedengan yang teratur, hal ini berguna untuk menjaga kelembapan tanah pada areal pertanaman cabe. 

Demikian kiranya tuan dan nyonya rangkuman yang bisa kami tuliskan untuk menyelamatkan tanaman cabe yang sedang diambang kepunahan, semoga petani cabe Indonesia jaya selalu. 

Mari Merdeka !!

 Metode Efektif Penyelamatan Tanaman Cabe Polibeg Yang Sedang Kritis

Sabtu, 05 Desember 2015

Kenali Dinas Perlindungan Tanaman Pertama di Dunia

Dinas Perlindungan Tanaman Pertama di Dunia

Pada abad ke - 19 ketika ekonomi masyarakat di Eropa masih lemah, kegagalan pertanian hampir selalu berarti kelaparan dan kemelaratan, contoh klasik adalah timbulnya wabah penyakit busuk daun pada tanaman kentang di tahun 1845, seperti dikisahkan pada posting sebelumnya, banyak orang menganggap bahwa malapetaka penyakit hawar kentang inilah merupakan salah satu penyebab lahirnya Fitopathology, walaupun perhatian para cerdik pandai waktu itu belum banyak tercurahkan pada masalah penyakit tanaman.

Mulanya penyakit karat pada gandum yang disebabkan oleh "Puccinia striiformis", yang mendatangkan kelaparan di eropha pada abad kesembilanbelas, juga kurang mendapat perhatian para ahli selayaknya.

Pada penghujung abad kesembilanbelas, perhatian untuk meneliti kehilangan hasil pertanian baru tumbuh, terutama disebabkan oleh hancurnya perkebunan jeruk di California oleh serangga kepik yang diberi nama "Kepik san jose" (Qudraspidionis pernicious). Para ahli dan pejabat pemerintahan baru menyadari ancaman yang datang dari organisme ini yang dapat menyebar antar negara.

Apa yang kita ketahui sekarang mengenai penyakit dan perkiraan kehilangan hasil sebagai akibatnya, sebetulnya berasal dari jerman pada tahun 1880, ketika itu pemerintahan jerman diminta oleh perkumpulan petani untuk mengembangkan sistem registrasi untuk hama dan penyakit tanaman, pemerintah nampaknya tidak begitu merespon dengan baik, sehingga perkumpulan petani jerman merintis upaya tersebut pada tahun 1890, yang kemudian diambil alih juga oleh kementrian pertanian jerman pada tahun 1895.

Konsultasi internasional yang memecahkan masalah kehilangan hasil pertanian dimulai pada kongres internasional pertanian dan kehutanan di Wina pada tahun 1890, yang dirintis oleh J. Ricson seorang pakar Fitopathology dari Swedia.

Kongres pertanian internasional pada tahun 1903 di Roma, merupakan cikal bakal berdirinya organisasi FAO, survey statistik nasional dan internasional dibidang pertanian terus berkembang semenjak tahun 1924, atas dasar keputusan FAO untuk mengadakan konferensi fitopathology pada tahun tersebut. Dalam perkembangannya survey tentang fitopathology ini terhenti akibat perang dunia I, selang waktu inilah yang dinamakan era penjajakan, walaupun metode baku untuk mengukur besar penyakit dan kehilangan hasil belum ada, namun tuntutan penaksiran kehilangan hasil tanaman sudah mulai tumbuh.

Pemerintah Belanda yang khawatir akan datangnya kepik san jose yang sedang mewabah perkebunan jeruk California, menugaskan seorang pakar fitopathology terkemuka bernama J. Ritzema Bos, ke amerika untuk meneliti epidemi tersebut, sebagai hasil dari studi banding yang bersahaja tersebut, dia melaporkan kemungkinan kehilangan hasil yang potensial yang akan sangat merugikan di Belanda, sehingga dia merekomendasikannya untuk mendirikan dinas proteksi tanaman, guna mencegah kehilangan hasil yang disebabkan oleh hama impor tersebut. Inilah dinas perlindungan tanaman pertama di dunia yang didirikan pada tahun 1899.

Selasa, 03 November 2015

Ramuan Ampuh Pengendali Serangga Penghisap Tanaman

Pendekatan pengendalian serangga perusak tanaman (hama) seharusnya lebih kepada tata cara alami, dimana cara ini diyakini lebih beradab dan mampu menjaga ekosistem lingkungan sesuai dengan aslinya, mengenal istilah-istilah Biologi dalam perlakuan serangga hama ini juga penting, sebagaimana yang telah kami bahas sebelum ini, yakninya tentang Biological Control dan Parasitoid, untuk anda yang belum sempat membacanya pemahanan mudah istilah Biological Control silahkan klik [link] ini, dan untuk anda yang ingin membaca tentang Parasitoid silahkan klik [link] ini.

Oke, berikut ini kita masih membahas tentang pengendalian serangga dengan cara yang beradab tadi, hasil pembacaan analytic kami, blog sederhana ini (menanam-tanaman - panduan singkat bercocok tanam) dikunjungi oleh berbagai Negara di dunia, seperti Amerika, Rusia, Eropha, Qatar dan Negara bagian benua amerika lainnya, dunia internasional yang kami kira sudah sangat lebih dahulu dibanding Indonesia soal tata kelola tanaman, ternyata masih membutuhkan artikel-artikel dasar tentang tanaman, kesimpulan besar yang kami dapati dari kunjungan berbagai Negara ini adalah, bahwa ternyata petani-petani di dunia luar sana (diluar indonesia) juga mengalami nasib yang sama dengan petani-petani Indonesia.

Nasib yang sama tersebut paling tidak soal mengendalikan hama dan penyakit tanaman ini, manakala Negara-negara maju sudah berdaulat dengan teknik kimiawi dalam budidaya tanaman, tampaknya mereka juga terus mengalami pertikaian dengan serangga-serangga ini, pembahasan singkat kita tentang �Ramuan ampuh pengendali serangga penghisap� kali ini, kami harap turut pula membantu petani-petani kita di Negara-negara lain, sebelum kita lanjutkan ada perlunya kami memberitahukan kepada anda, bahwa �Ramuan rahasia� ini kami intip dari usaha pertanian organic yang dilakukan oleh IPO (Institute Pertanian Organik) Aie angek, kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Dimana ramuan ini terlebih dahulu sudah diteliti oleh IPO dan sudah diterapkan dalam usaha pertanaman, karena kami meyakini ramuan ampuh ini bermanfaat untuk pertolongan petani-petani di belahan alam semesta ini, maka kredit penghargaan patut kita berikan kepada IPO Aie Angek, baiklah untuk mempersingkat waktu kita langsung saja kepada ramuannya.

Untuk membuat ramuan ini persiapan yang perlu dilakukan adalah ;

1. Alat-alat

Timbangan, gelas ukur, kertas label, saringan, lesung dan alu, sarung tangan, pisau, baki, baskom, ember, botol atau jeriken sebagai wadah penyimpanan.

2. Bahan-bahan

Daun durian 5 ons, daun sirsak (Annona sp) 5 ons, daun sirih (Piper bettle L) seperempat ikat, daun cengkeh (Eugenia aromatic L) 5 ons, serai harum (Cymbopogon citratus) 4 ons, daun sicerek 4 ons, daun mahoni (Switania mahoni ) 5 ons, daun kulit manis 5 ons, garam seperempat ons, urine kambing 4 liter.

3. Cara pembuatan

Semua bahan ditumbuk satu persatu, bahan-bahan yang sudah ditumbuk direndam dalam urine kambing, rendaman bahan diperas dan diambil ekstraknya, kemudian ekstrak tersebut disaring dan ditambahkan garam, berikutnya simpan dalam botol atau jeriken, jangan lupa beri label yang berisi tentang ramuan dan tanggal pembuatan.

Cara menggunakannya (aplikasi)

- 500 cc cairan ramuan diencerkan dengan air sebanyak 10 liter, diaduk dan kemudian dimasukkan kedalam tangki sprayer.

- Penyemprotan dilakukan pada tanaman, terutama pada bagian pucuk, kemudian bagian atas dan bawah daun.

- Aplikasi pada tanaman ini dilakukan selama 2 kali seminggu, sampai populasi kutu penghisap dinilai tidak membahayakan lagi.

Baiklah pemirsa, demikian tadi pembahasan kita tentang ramuan ampuh pengendali serangga penghisap, jika anda berhasil mengendalikan serangga penghisap dengan menggunakan ramuan ini, dengan senang hati kami berharap, anda memberitahukan kepada petani-petani lainnya yang sedang mengalami �intimidasi sosial� oleh serangga-serangga penghisap ini, sekian dari kami, selamat mencoba.



#SelamatkanLingkunganDenganOrganik

Rabu, 28 Oktober 2015

Biological Control Teror atau Suatu Keadilan Untuk Ekologi Tanaman

Pernahkah terlintas dalam pemikiran anda untuk tidak membunuh barang seekorpun hewan dari jenis serangga dan hewan mamalia berukuran besar, atau pernahkah terlintaskan dalam pikiran anda untuk tidak mencabut sehelai rumputpun atau gulma dilingkungan tempat anda tinggal, andai ada seorang manusia yang sanggup berlaku demikian dalam hidupnya dimuka bumi ini, mungkin kami sepakat untuk mengatakannya dialah seorang �pecinta lingkungan tulen�, mulai detik anda membaca artikel ini marilah kita mengamati siapakah manusia yang sanggup untuk tidak melakukan dua hal pada awal paragraph diatas, hehe.
Biological Control Teror atau Suatu Keadilan Untuk Ekologi Tanaman

Oke, Sebelum kita memasuki pembahasan yang lebih mendalam, tiada bosan-bosannya kami untuk menyampaikan bahwa, tujuan kami menuliskan hal-hal saintis seperti ini, adalah untuk memberikan pendekatan pemahaman yang lebih mudah, khusus kepada masyarakat dunia yang tidak �Familiar� dengan istilah-istilah biologi pertanian, Biological control merupakan salah satu pilihan kami pada saat ini untuk disajikan dalam bahasa yang renyah dan mudah dimengerti, agar kita sama-sama memahami situasi dan kondisi pertanian dunia, lebih khususnya di Negara kami Indonesia.

Baiklah, pertanyaan yang kami tuliskan pada awal paragraph diatas merupakan langkah dasar untuk memahami apa yang disebut dalam istilah biologi pertanian dengan nama �Biological control�, karena dalam penjelasannya aslinya banyak istilah-istilah yang cukup memusingkan � terlebih untuk awam � maka lebih tepat kiranya, untuk anda memikirkan pertanyaan pada awal tulisan ini.

Adalah HS. Smith orang pertama yang mempopulerkan istilah biological control pada tahun 1919, meski sebenarnya orang-orang zaman sebelumnya sudah pula melakukan kegiatan tersebut, namun pada abad ke 19 itulah pertama kali ditekuni sebagai suatu bidang kajian ilmu biologi pertanian, untuk mengatasi kesombongan manusia tentang memusnahkan mahluk hidup lainnya, meski pada kenyataannya hal itu tetap juga terjadi hingga detik ini.

Dalam pengertian yang sederhana untuk bidang pertanian biological control adalah mengendalikan lingkungan biologi, dan memanfaatkan lingkungan biologi dalam mensejahterakan tanaman dari berbagai gangguan hama dan penyakit, lingkungan itu bisa saja dari golongan serangga dan tumbuhan, dalam kalimah sederhananya �Mencari tahu siapa musuh serangga hama tersebut, dari golongan serangga juga atau dari golongan tetumbuh�.

Dibawah ini bisa kita simak factor lingkungan yang bisa mempengaruhi serangga hama ;

1. Factor iklim

Berupa iklim makro, dan iklim mikro

2. Factor biotic

Berupa predator, parasitoid, pathogen dan serangga pesaing.

3. Factor makanan

Berupa kualitas dan kuantitsa makanan

4. Factor lainnya

Mengacu pada pertanyaan diawal tadi, maka pertanyaan itu masuk pada factor biotik dan factor makanan, para peneliti biologi pertanian dibidang pengendalian hayati berjuang tanpa kenal lelah untuk mengetahui, hal apa saja yang membuat serangga hama bisa dihambat pertumbuhan populasinya, dari suatu lingkungan tempat usaha pertanaman dilakukan, karena begitu spesifiknya serangga atau tanaman yang bisa disetting untuk bermusuhan dengan serangga hama, sehingganya manusia harus memilah, untuk tidak membunuh dan mencabut tumbuhan sembarangan.

Karena biological control sifatnya memanipulasi dengan memanfaatkan populasi musuh alami, maka dari itu ia dinilai sebagai usaha pengendalian hama penyakit yang adil, meski konsekuansinya manusia tidak dibolehkan membunuh serangga sembarangan dan mencabuti tumbuhan sesuka hati, dan hal ini menurut kami tentunya suatu usaha terpuji dalam bertindak dan memperlakukan serangga �Terdakwa� hama, dalam menciptakan suasana keadilan dilingkungan pertanaman.

Dampak pemakaian kimia dalam mengendalikan hama penyakit tidak baik untuk kesehatan lingkungan, untuk itu kami menyarankan kepada anda pembaca setia kami, untuk berlaku adil dalam bercocok tanam, dari pesatnya penelitian dan perkembangan teknik pengendalian hama penyakit tanaman yang bersifat hayati, semakin memperjelas bukti kepada kita selaku mahluk Manusia, bahwa segala sesuatu yang Diciptakan di alam raya ini memiliki fungsi dan perannya masing-masing, seperti serangga parasitoid dan predator itu.

Sekian ulasan singkat kita pada artikel ini, semoga pertanian anda semakin menyenangkan dan sampai jumpa dipembahasan selanjutnya.

Salam hangat ..

Sabtu, 24 Oktober 2015

MENGENAL PARASITOID PENGENDALI HAMA TANAMAN YANG RAMAH LINGKUNGAN

Tampaknya jenis pengendali hama tanaman yang satu ini tidak cukup populer dikalangan petani, dan penggiat tanaman, bahkan untuk kalangan masyarakat umum istilah parasitoid tidak pula terlalu banyak yang mengenalnya apalagi mengerti �siapa� parasitoid ini, sekilas jika kita simak dari unsur kalimatnya, asalnya dari pengertian �Parasit�, jadi jika kita ingin menterjemahkan arti �parasitoid� secara singkat dan mudah diingat, maka yang harus kita ikut sertakan adalah parasit ,predator (pemangsa) dan parasitoid itu sendiri.

Semenjak kurikulum ilmu biologi diajarkan pada berbagai kelas, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sekolah tinggi, dan pascasarjana, parasit dikenal sebagai sebuah sifat yang lebih berkonotasi negative, �Organisme yang hidup dan mengambil makanan dari organism yang ditempelinya�, dan dalam pemahaman yang lebih umum parasit dan benalu hampir memiliki kriteria yang mirip, hanya saja benalu lebih kepada tumbuhan, sedangkan parasit lebih kepada organisme hidup. Sementara itu istilah parasitoid lebih berkembang pada metode pengendalian secara hayati.

Parasitoid dalam pemahaman ilmu Biologi, diterjemahkan sebagai mahluk yang pola hidupnya berada diantara parasit dan predator, beberapa bagian dari fase metamerfosisnya menjadikan dirinya sebagai pemangsa, sebagai contoh serangga penyengat, fase larva dari serangga penyengat ini hidup dalam seekor inang dan inang itu dimangsanya sampai hancur.

Meski berbagai disiplin ilmu Mikrobiologi mengenal istilah parasitoid, namun tidak semua bidang studi ilmu tersebut mampu mengkaji lebih komplek pemanfaatan sifat parasitoid, misalnya dibidang kedokteran, serangga vector penyakit tanaman, dan lain sebagainya.

PARASITOID DALAM DISIPLIN ILMU PERTANIAN.

Serangga parasitoid lebih populer dalam kajian ilmu pertanian, hal ini serangkai dengan konsep pengenalan �Cara pengendalian hama secara hayati�, sebagai induk dari metode pertanian organic, berbagai kajian ilmiah telah memberikan hasil yang negative terhadap penggunaan bahan kimia dalam pengendalian hama tanaman, baik hasil terhadap lingkungan, nilai kandungan gizi tanaman, dan dampak immun serangga hama yang tercipta akibat penggunaan bahan kimia.

Khusus dalam bidang pertanian sesungguhnya parasitoid sudah dikenal oleh orang-orang dari zaman dahulu, dan pada tahun 1919 HS. Smith mempopulerkannya dengan istilah �Biological control� atau dengan istilah lain mengendalikan serangga hama dengan memanfaatkan serangga lain yang bukan hama, petani-petani China sudah dari dulu memanfaatkan semut rangrang (Oecophylla samaragdina) untuk mengendalikan hama pada tanaman jeruk seperti Tessaratoma papilosa dari ordo Hemiptera.

Dalam kajian ilmu pengendalian hayati yang lebih mendalam lagi, parasitoid tidak hanya membahas tentang serangga hama yang dikendalikan oleh serangga lain, namun dibidang mikroskopisnya juga turut dikembangkan jamur, bakteri, nematoda dan virus begitu pula untuk hewan-hewan yang hidup di air seperti ikan yang bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan penyakit.

PARASITOID DALAM PERTANIAN TERAPAN

Oke Sebaiknya kita tinggalkan sejenak pandangan parasitoid di dunia akademisi kampus, pada keadaan nyata dunia pertanian masyarakat Indonesia, parasitoid menjadi tidak terkenal akibat berbagai persoalan, salah satunya karena tujuan dari pertanian adalah untuk mendapatkan hasil panen sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya (agak mirip dengan teori ekonomi classic Adam Smith), hal itu semakin didukung dengan pengembangan teknologi pestisida dan memasarkannya dalam jumlah yang banyak meski harganya mahal.

Kelompok-kelompok tani di Kabupaten Luwu pada umumnya samar-samar mengenal kalimat Parasitoid, namun hampir tidak mengenal bagaimana bentuk serangganya, dan bagaimana pula unsurnya jika parasitoidnya berasal dari jenis bakteri, jamur, virus dan nematoda, rupanya saja tidak diketahui apalagi menerapkannya dalam aplikasi pertanaman.

Sehingga untuk sementara bisa kita simpulkan upaya pengendalian hama pertanaman dengan parasitoid, pada umumnya terjadi di laboratorium dan pada usaha pertanian dalam skala modal besar, untuk pertanian skala miskin kebawah belum terlalui signifikan kedengarannya.

Karena berbagai rintangan yang ditemui untuk mengembangkan parasitoid ini, beberapa hal patut kita acungkan jempol, seperti pengembangan parasitoid dari jenis bakteri, virus, nematoda dan jamur, dimana untuk jenis ini sudah dikomersilkan dalam bentuk �INSEKTISIDA�, jadi jika anda menemukan merek produk pengendalian serangga dengan tulisan Insektisida maka itu berasal dari parasitoid golongan mikroskopis, namun anda juga perlu hati-hati karena produk seperti itu juga mudah sekali dipalsukan.

JENIS-JENIS SERANGGA PARASITOID

Bagi pembaca yang terbetik hati ingin mengetahui rupa dari serangga-serangga, hewan-hewan dan mahluk mikroskopis parasitoid bisa disimak pada keterangan dibawah ini.

1. Serangga parasitoid dari ordo Hymenoptera

2. Serangga parasitoid dari ordo Diptera

3. Parasitoid dari kelompok ikan Gambusia Affinis, untuk mengendalikan larva nyamuk

4. Parasitoid dari golongan nematoda seperti nematode Steinernema SP

5. Parasitoid dari kelompok burung, burung Mynah (Acridotheres tristis), burung ini dimanfaatkan untuk mengendalikan belalang kembara merah

6. Dan masih banyak jenis mahluk lainnya.

Nah, bagaimana pemirsa hebat bukan ternyata parasitoid ini, jika kita mengendalikan tanaman dengan cara ini bisa dipastikan keadaan lingkungan kita akan semakin ramah, sampai jumpa pada pembahasan selanjutnya.








Sumber Foto * Dokumentasi foto fakultas pertanian Universitas Andalas (www.faperta.unand.ac.id)