Tampilkan postingan dengan label pertanian organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertanian organik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Oktober 2015

MENGENAL PARASITOID PENGENDALI HAMA TANAMAN YANG RAMAH LINGKUNGAN

Tampaknya jenis pengendali hama tanaman yang satu ini tidak cukup populer dikalangan petani, dan penggiat tanaman, bahkan untuk kalangan masyarakat umum istilah parasitoid tidak pula terlalu banyak yang mengenalnya apalagi mengerti �siapa� parasitoid ini, sekilas jika kita simak dari unsur kalimatnya, asalnya dari pengertian �Parasit�, jadi jika kita ingin menterjemahkan arti �parasitoid� secara singkat dan mudah diingat, maka yang harus kita ikut sertakan adalah parasit ,predator (pemangsa) dan parasitoid itu sendiri.

Semenjak kurikulum ilmu biologi diajarkan pada berbagai kelas, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sekolah tinggi, dan pascasarjana, parasit dikenal sebagai sebuah sifat yang lebih berkonotasi negative, �Organisme yang hidup dan mengambil makanan dari organism yang ditempelinya�, dan dalam pemahaman yang lebih umum parasit dan benalu hampir memiliki kriteria yang mirip, hanya saja benalu lebih kepada tumbuhan, sedangkan parasit lebih kepada organisme hidup. Sementara itu istilah parasitoid lebih berkembang pada metode pengendalian secara hayati.

Parasitoid dalam pemahaman ilmu Biologi, diterjemahkan sebagai mahluk yang pola hidupnya berada diantara parasit dan predator, beberapa bagian dari fase metamerfosisnya menjadikan dirinya sebagai pemangsa, sebagai contoh serangga penyengat, fase larva dari serangga penyengat ini hidup dalam seekor inang dan inang itu dimangsanya sampai hancur.

Meski berbagai disiplin ilmu Mikrobiologi mengenal istilah parasitoid, namun tidak semua bidang studi ilmu tersebut mampu mengkaji lebih komplek pemanfaatan sifat parasitoid, misalnya dibidang kedokteran, serangga vector penyakit tanaman, dan lain sebagainya.

PARASITOID DALAM DISIPLIN ILMU PERTANIAN.

Serangga parasitoid lebih populer dalam kajian ilmu pertanian, hal ini serangkai dengan konsep pengenalan �Cara pengendalian hama secara hayati�, sebagai induk dari metode pertanian organic, berbagai kajian ilmiah telah memberikan hasil yang negative terhadap penggunaan bahan kimia dalam pengendalian hama tanaman, baik hasil terhadap lingkungan, nilai kandungan gizi tanaman, dan dampak immun serangga hama yang tercipta akibat penggunaan bahan kimia.

Khusus dalam bidang pertanian sesungguhnya parasitoid sudah dikenal oleh orang-orang dari zaman dahulu, dan pada tahun 1919 HS. Smith mempopulerkannya dengan istilah �Biological control� atau dengan istilah lain mengendalikan serangga hama dengan memanfaatkan serangga lain yang bukan hama, petani-petani China sudah dari dulu memanfaatkan semut rangrang (Oecophylla samaragdina) untuk mengendalikan hama pada tanaman jeruk seperti Tessaratoma papilosa dari ordo Hemiptera.

Dalam kajian ilmu pengendalian hayati yang lebih mendalam lagi, parasitoid tidak hanya membahas tentang serangga hama yang dikendalikan oleh serangga lain, namun dibidang mikroskopisnya juga turut dikembangkan jamur, bakteri, nematoda dan virus begitu pula untuk hewan-hewan yang hidup di air seperti ikan yang bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan penyakit.

PARASITOID DALAM PERTANIAN TERAPAN

Oke Sebaiknya kita tinggalkan sejenak pandangan parasitoid di dunia akademisi kampus, pada keadaan nyata dunia pertanian masyarakat Indonesia, parasitoid menjadi tidak terkenal akibat berbagai persoalan, salah satunya karena tujuan dari pertanian adalah untuk mendapatkan hasil panen sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya (agak mirip dengan teori ekonomi classic Adam Smith), hal itu semakin didukung dengan pengembangan teknologi pestisida dan memasarkannya dalam jumlah yang banyak meski harganya mahal.

Kelompok-kelompok tani di Kabupaten Luwu pada umumnya samar-samar mengenal kalimat Parasitoid, namun hampir tidak mengenal bagaimana bentuk serangganya, dan bagaimana pula unsurnya jika parasitoidnya berasal dari jenis bakteri, jamur, virus dan nematoda, rupanya saja tidak diketahui apalagi menerapkannya dalam aplikasi pertanaman.

Sehingga untuk sementara bisa kita simpulkan upaya pengendalian hama pertanaman dengan parasitoid, pada umumnya terjadi di laboratorium dan pada usaha pertanian dalam skala modal besar, untuk pertanian skala miskin kebawah belum terlalui signifikan kedengarannya.

Karena berbagai rintangan yang ditemui untuk mengembangkan parasitoid ini, beberapa hal patut kita acungkan jempol, seperti pengembangan parasitoid dari jenis bakteri, virus, nematoda dan jamur, dimana untuk jenis ini sudah dikomersilkan dalam bentuk �INSEKTISIDA�, jadi jika anda menemukan merek produk pengendalian serangga dengan tulisan Insektisida maka itu berasal dari parasitoid golongan mikroskopis, namun anda juga perlu hati-hati karena produk seperti itu juga mudah sekali dipalsukan.

JENIS-JENIS SERANGGA PARASITOID

Bagi pembaca yang terbetik hati ingin mengetahui rupa dari serangga-serangga, hewan-hewan dan mahluk mikroskopis parasitoid bisa disimak pada keterangan dibawah ini.

1. Serangga parasitoid dari ordo Hymenoptera

2. Serangga parasitoid dari ordo Diptera

3. Parasitoid dari kelompok ikan Gambusia Affinis, untuk mengendalikan larva nyamuk

4. Parasitoid dari golongan nematoda seperti nematode Steinernema SP

5. Parasitoid dari kelompok burung, burung Mynah (Acridotheres tristis), burung ini dimanfaatkan untuk mengendalikan belalang kembara merah

6. Dan masih banyak jenis mahluk lainnya.

Nah, bagaimana pemirsa hebat bukan ternyata parasitoid ini, jika kita mengendalikan tanaman dengan cara ini bisa dipastikan keadaan lingkungan kita akan semakin ramah, sampai jumpa pada pembahasan selanjutnya.








Sumber Foto * Dokumentasi foto fakultas pertanian Universitas Andalas (www.faperta.unand.ac.id)

Selasa, 28 Juli 2015

Beralih ke Usaha Pertanian Organik

Eri demikian nama lelaki paruh baya yang berprofesi sebagai petani cabe di Sungai Kambuik, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya. Ia sudah menghabiskan dana lima puluh jutaan agar areal seperempat hektar yang ia jadikan tempat bertanam cabe, bisa tumbuh dengan baik dan berbuah lebat, namun nasib berkata lain, ditengah perjalanannya areal pertanaman cabenya diserang berbagai penyakit dan hama, salah satunya penyakit virus kuning keriting dan Antraknosa.

Tim P3L-Dharmasraya berkunjung ke kebun Eri pada awal puasa Ramadhan Juni lalu, ia putus asa melihat areal perkebunan cabenya sudah tidak punya harapan lagi, ditengah kemelut yang mendera hatinya, tim P3L-Dharmasraya mencoba memberikan solusi terkait penyakit yang diderita tanaman cabenya.

Sebagaimana tujuan utama dari pejuang P3L-Dharmasraya yakni, usaha menciptakan pertanian organic, ramah lingkungan, dan memproduksi hasil tani yang sehat untuk dikonsumsi keluarga, tanpa ketergantungan kepada produk kimia, serta mempersiapkan lahan tanah yang baik untuk keberlangsungan anak cucu, kami menawarkan solusi yang kiranya baik untuk menyelamatkan cabe Eri yang sudah diserang berbagai penyakit tersebut.

Pada akhirnya dalam situasi yang sangat genting tersebut, kami menawarkan biang bakteri organic yang baik untuk mengatasi berbagai penyakit tersebut, biang bakteri itu terangkum dalam botol pupuk cair �Bio � Organik Herbafarm�, akhirnya Eri mencoba menyelamatkan tanaman cabenya dengan 2 botol pupuk cair herbafarm. 

Pada hari lebaran ketiga tepatnya hari selasa tanggal 21 Juli 2015, salah seorang tim P3L-Dharmasraya kembali memantau perkembangan cabe yang sudah diperlakukan Eri dengan pupuk cair Herbafarm tersebut, diluar dugaan setibanya tim di lokasi areal pertanaman cabe Eri terlihat buah cabe yang tumbuh lebat, meski daun terlihat kuning keritiang, usaha penyelamatan oleh herbafarm ini masih sanggup membantu cabe untuk berbuah lebat. 

Aher salah seorang Karyawan Eri kepada tim P3L-Dharmasraya, dilokasi mengatakan ia sudah berkali panen dengan situasi pertanaman yang demikian.

Ambo kira cabe ini hanya sekali saja berbuahnya, namun uda bisa lihat sendiri batang cabe itu berbunga lagi, dan kami sudah berkali-kali panen setelah pemberian pupuk cair Herbafarm ini�, katanya bersemangat.

Setelah mengamati dan mencatat perkembangan cabe Eri, tim kembali ke posko P3L di Sitiung, sebelum pulang Aher membeli tiga botol lagi pupuk cair Bio-Organik Herbafarm, ia juga berjanji pada periode berikutnya ia dan Eri akan kembali bertanam cabe dengan metode hidroponik, dan meminta kami (P3L-Dharmasraya) untuk mendampingi hingga panen.

Beralih ke Usaha Pertanian Organik
(Foto : Aher ditengah tanaman cabenya yang terserang berbagai penyakit Virus, namun masih berbuah lebat, berkat pemberian pupuk cair Bio-Organik Herbafarm yang ramah lingkungan)