Tampilkan postingan dengan label kendali hama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kendali hama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2016

Memahami Peledakan Hama Akibat Penggunaan Pestisida

peledakan hama akibat pestisida

Tuan dan Puan yang berprofesi sebagai petani tentunya pernah menggunakan pestisida dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman, terlebih lagi bagi tuan petani yang mengejar hasil panen melimpah menjelang bulan puasa hingga lebaran Idul Fitri, agar hasil panen meningkat berbagai upaya dihalalkan supaya tanaman tidak diserbu oleh berbagai hama dan penyakit, yang tentunya menurunkan hasil panen tuan petani.

Karena kebanyakan penggunaan pestisida terlalu ambisius sehingga melupakan keseimbangan lingkungan, maka kali ini blog tanaman ini mencoba membahas apa itu �Peledakan Hama� akibat penggunaan pestisida berlebihan.

Didalam literature akademik para ahli penulis buku panduan pertanian khususnya pestisida, selalu menyarankan agar tuan petani menggunakan pestisida secara bijaksana dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman, meski tuan penulis selalu berpesan demikian dalam buku-buku panduan, namun tuan petani sepertinya tidak ambil pusing, sehingganya tanpa disadari penggunaan pestisida berlebihan ternyata juga memiliki dampak negative yang banyak, salah satunya terjadinya peledakan hama.

Sesungguhnya peledakan hama akibat penggunaan pestisida ini tidak saja pada hama sasaran, namun ada pula meningkatnya perkembangan hama sekunder, dalam kajian akademika universitas diistilahkan dengan �peledakan hama sekunder�.

Lalu kemudian timbul pertanyaan, bagaimana bisa terjadi peledakan hama akibat penggunaan pestisida pada tanaman, untuk pertanyaan seperti ini sebenarnya harus kita jawab dengan hasil penelitian yang berkelanjutan, namun tentunya tidak semua tuan petani memahami bahasa-bahasa asing akademik dalam penjelasan hasil penelitian, untuk itu kita persingkat saja dengan pengertian sebagaimana dibawah ini.

Salah satu �Karomah� yang diberikan Sang Pencipta terhadap hewan yang tertuduh hama ini, adalah adanya kemampuan hama untuk menciptakan antibody tersendiri ketika ia selalu berhadapan dengan zat yang akan menganiaya tubuhnya, hama dan mikroorganisme penyakit tanaman memiliki kemampuan untuk memanfaatkan toxit yang disemprotkan melalui pestisida, pemanfaatan itu adalah dengan menjadikan racun tersebut sebagai bagian dari tubuhnya, sehingga manakala tuan petani pada waktu yang cukup lama selalu menyemprotkan pestisida yang sama, maka yang terjadi berikutnya pada tubuh hama dan penyakit adalah ketahanan terhadap pestisida tersebut.

Para ahli bioteknologi pertanian memberinya istilah dengan nama �Ketahanan alami� serangga terhadap racun kimia, sebagai bahan pertimbangan tuan pembaca tentunya pernah menyemprotkan pestisida yang sama terhadap serangga hama, namun yang terjadi serangga tersebut tidak mati, hal itu karena didalam tubuhnya telah tercipta �vaksin� alami dari bahan pestisida.

Penjelasan dua paragraph diatas mungkin tidak terlalu menakutkan bagi tuan petani, namun ternyata ada pula �Karomah� yang lain yang diluar dugaan tuan petani, hal tersebut adalah akibat penggunaan pestisida dalam jangka waktu yang lama, karomah yang lain itu adalah, terjadinya percepatan pembuahan atau kelahiran pada serangga hama sasaran, hal itu karena dipicu oleh zat pestisida itu sendiri, jika ini yang terjadi pada areal pertanaman tuan petani, maka ketahuilah yang demikian tersebut dinamakan dengan �Peledakan hama�.

Serangga hama sasaran tidak mati ketika disemprotkan dengan pestisida, malah bertambah banyak telur dan semakin cepat telur tersebut menetas, jika demikian yang terjadi maka sepakatlah kita bahwa diareal pertanaman tuan tersebut telah terjadi peledakan hama akibat penggunaan pestisida.

Lalu bagaimana pula dengan yang disebut dengan �Peledakan hama sekunder�, sebenarnya jalan peristiwanya sama dengan penjelasan kita pada paragraph diatas, hanya saja bedanya hama yang berkembang semakin pesat tersebut bukanlah hama sasaran dari pestisida yang disemprotkan, namun hama lain yang juga hidup pada inang yang sama.

Untuk lebih memudahkan tuan pembaca dan tuan petani menelaah pengertian �Peledakan hama sekunder ini�, marilah kita bahas sebuah contoh, misalkan tuan petani melakukan penyemprotan pestisida untuk membunuh serangga kepik pada areal pertanaman padi sawah, setelah melakukan penyemprotan dalam waktu dua minggu, serangga kepik mati dan musnah, namun ternyata ada pula kumbang penghisap yang hidup di malai daun padi tuan petani, dimana zat yang dikandung pestisida tersebut ternyata menguntungkan bagi kumbang pengisap, sehingga kumbang penghisap sering kawin lalu bertelur dalam waktu singkat dan telur itu menetas dalam waktu yang lebih cepat lagi.

Karena serangga penghisap bertambah cepat dan banyak pertumbuhannya, pada akhirnya serangga ini juga menghisap cairan putih dalam bulir padi yang masih muda, akhirnya padi tuan petani jua yang menjadi sasaran makanannya, nah demikianlah ilustrasi �Peledakan hama sekunder� akibat penggunaan pestisida.

Suka atau tidak tanpa disadari hal ini sering terjadi di areal pertanaman tuan petani, maka dari itu produsen-produsen pestisida selalu mendapat keuntungan yang luar biasa banyaknya, karena mereka akan terus menciptakan pestisida single target.

Sekarang tuan pembaca dan tuan petani bisa membayangkan, berapa banyaknya jenis serangga hama yang terdapat pada areal pertanaman, jika untuk setiap jenis serangga diberikan satu jenis pestisida, tentunya tuan petani akan mengeluarkan ongkos yang lebih mahal lagi, agar tanamannya terbebas dari semua hama pengganggu.

Mudah-mudahan tuan pembaca dan tuan petani yang sedang berkunjung ke blog ini menyadari, ketika terjadi serangan hama yang begitu dahsyat, jangan dulu menyalahkan pemerintah yang tidak sudi menurunkan harga pupuk dan harga pestisida, namun bercermin dirilah terhadap apa yang tuan lakukan sebelumnya, adakah tuan pengguna pestisida yang kurang bijak sehingga tanpa disadari tuan sudah menjadikan hama tersebut tahan terhadap racun pestisida.

Demikianlah pembahasan kita untuk peledakan hama akibat penggunaan pestisida, jika ada yang ingin tuan pertanyakan dan diskusikan, jangan sungkan silahkan tuliskan pada kolom komentar.

Salam hijau �

Foto : Bahan ajar pestisida, Fakultas Pertanian Universitas Andalas



Selasa, 03 November 2015

Ramuan Ampuh Pengendali Serangga Penghisap Tanaman

Pendekatan pengendalian serangga perusak tanaman (hama) seharusnya lebih kepada tata cara alami, dimana cara ini diyakini lebih beradab dan mampu menjaga ekosistem lingkungan sesuai dengan aslinya, mengenal istilah-istilah Biologi dalam perlakuan serangga hama ini juga penting, sebagaimana yang telah kami bahas sebelum ini, yakninya tentang Biological Control dan Parasitoid, untuk anda yang belum sempat membacanya pemahanan mudah istilah Biological Control silahkan klik [link] ini, dan untuk anda yang ingin membaca tentang Parasitoid silahkan klik [link] ini.

Oke, berikut ini kita masih membahas tentang pengendalian serangga dengan cara yang beradab tadi, hasil pembacaan analytic kami, blog sederhana ini (menanam-tanaman - panduan singkat bercocok tanam) dikunjungi oleh berbagai Negara di dunia, seperti Amerika, Rusia, Eropha, Qatar dan Negara bagian benua amerika lainnya, dunia internasional yang kami kira sudah sangat lebih dahulu dibanding Indonesia soal tata kelola tanaman, ternyata masih membutuhkan artikel-artikel dasar tentang tanaman, kesimpulan besar yang kami dapati dari kunjungan berbagai Negara ini adalah, bahwa ternyata petani-petani di dunia luar sana (diluar indonesia) juga mengalami nasib yang sama dengan petani-petani Indonesia.

Nasib yang sama tersebut paling tidak soal mengendalikan hama dan penyakit tanaman ini, manakala Negara-negara maju sudah berdaulat dengan teknik kimiawi dalam budidaya tanaman, tampaknya mereka juga terus mengalami pertikaian dengan serangga-serangga ini, pembahasan singkat kita tentang �Ramuan ampuh pengendali serangga penghisap� kali ini, kami harap turut pula membantu petani-petani kita di Negara-negara lain, sebelum kita lanjutkan ada perlunya kami memberitahukan kepada anda, bahwa �Ramuan rahasia� ini kami intip dari usaha pertanian organic yang dilakukan oleh IPO (Institute Pertanian Organik) Aie angek, kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Dimana ramuan ini terlebih dahulu sudah diteliti oleh IPO dan sudah diterapkan dalam usaha pertanaman, karena kami meyakini ramuan ampuh ini bermanfaat untuk pertolongan petani-petani di belahan alam semesta ini, maka kredit penghargaan patut kita berikan kepada IPO Aie Angek, baiklah untuk mempersingkat waktu kita langsung saja kepada ramuannya.

Untuk membuat ramuan ini persiapan yang perlu dilakukan adalah ;

1. Alat-alat

Timbangan, gelas ukur, kertas label, saringan, lesung dan alu, sarung tangan, pisau, baki, baskom, ember, botol atau jeriken sebagai wadah penyimpanan.

2. Bahan-bahan

Daun durian 5 ons, daun sirsak (Annona sp) 5 ons, daun sirih (Piper bettle L) seperempat ikat, daun cengkeh (Eugenia aromatic L) 5 ons, serai harum (Cymbopogon citratus) 4 ons, daun sicerek 4 ons, daun mahoni (Switania mahoni ) 5 ons, daun kulit manis 5 ons, garam seperempat ons, urine kambing 4 liter.

3. Cara pembuatan

Semua bahan ditumbuk satu persatu, bahan-bahan yang sudah ditumbuk direndam dalam urine kambing, rendaman bahan diperas dan diambil ekstraknya, kemudian ekstrak tersebut disaring dan ditambahkan garam, berikutnya simpan dalam botol atau jeriken, jangan lupa beri label yang berisi tentang ramuan dan tanggal pembuatan.

Cara menggunakannya (aplikasi)

- 500 cc cairan ramuan diencerkan dengan air sebanyak 10 liter, diaduk dan kemudian dimasukkan kedalam tangki sprayer.

- Penyemprotan dilakukan pada tanaman, terutama pada bagian pucuk, kemudian bagian atas dan bawah daun.

- Aplikasi pada tanaman ini dilakukan selama 2 kali seminggu, sampai populasi kutu penghisap dinilai tidak membahayakan lagi.

Baiklah pemirsa, demikian tadi pembahasan kita tentang ramuan ampuh pengendali serangga penghisap, jika anda berhasil mengendalikan serangga penghisap dengan menggunakan ramuan ini, dengan senang hati kami berharap, anda memberitahukan kepada petani-petani lainnya yang sedang mengalami �intimidasi sosial� oleh serangga-serangga penghisap ini, sekian dari kami, selamat mencoba.



#SelamatkanLingkunganDenganOrganik

Sabtu, 24 Oktober 2015

MENGENAL PARASITOID PENGENDALI HAMA TANAMAN YANG RAMAH LINGKUNGAN

Tampaknya jenis pengendali hama tanaman yang satu ini tidak cukup populer dikalangan petani, dan penggiat tanaman, bahkan untuk kalangan masyarakat umum istilah parasitoid tidak pula terlalu banyak yang mengenalnya apalagi mengerti �siapa� parasitoid ini, sekilas jika kita simak dari unsur kalimatnya, asalnya dari pengertian �Parasit�, jadi jika kita ingin menterjemahkan arti �parasitoid� secara singkat dan mudah diingat, maka yang harus kita ikut sertakan adalah parasit ,predator (pemangsa) dan parasitoid itu sendiri.

Semenjak kurikulum ilmu biologi diajarkan pada berbagai kelas, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sekolah tinggi, dan pascasarjana, parasit dikenal sebagai sebuah sifat yang lebih berkonotasi negative, �Organisme yang hidup dan mengambil makanan dari organism yang ditempelinya�, dan dalam pemahaman yang lebih umum parasit dan benalu hampir memiliki kriteria yang mirip, hanya saja benalu lebih kepada tumbuhan, sedangkan parasit lebih kepada organisme hidup. Sementara itu istilah parasitoid lebih berkembang pada metode pengendalian secara hayati.

Parasitoid dalam pemahaman ilmu Biologi, diterjemahkan sebagai mahluk yang pola hidupnya berada diantara parasit dan predator, beberapa bagian dari fase metamerfosisnya menjadikan dirinya sebagai pemangsa, sebagai contoh serangga penyengat, fase larva dari serangga penyengat ini hidup dalam seekor inang dan inang itu dimangsanya sampai hancur.

Meski berbagai disiplin ilmu Mikrobiologi mengenal istilah parasitoid, namun tidak semua bidang studi ilmu tersebut mampu mengkaji lebih komplek pemanfaatan sifat parasitoid, misalnya dibidang kedokteran, serangga vector penyakit tanaman, dan lain sebagainya.

PARASITOID DALAM DISIPLIN ILMU PERTANIAN.

Serangga parasitoid lebih populer dalam kajian ilmu pertanian, hal ini serangkai dengan konsep pengenalan �Cara pengendalian hama secara hayati�, sebagai induk dari metode pertanian organic, berbagai kajian ilmiah telah memberikan hasil yang negative terhadap penggunaan bahan kimia dalam pengendalian hama tanaman, baik hasil terhadap lingkungan, nilai kandungan gizi tanaman, dan dampak immun serangga hama yang tercipta akibat penggunaan bahan kimia.

Khusus dalam bidang pertanian sesungguhnya parasitoid sudah dikenal oleh orang-orang dari zaman dahulu, dan pada tahun 1919 HS. Smith mempopulerkannya dengan istilah �Biological control� atau dengan istilah lain mengendalikan serangga hama dengan memanfaatkan serangga lain yang bukan hama, petani-petani China sudah dari dulu memanfaatkan semut rangrang (Oecophylla samaragdina) untuk mengendalikan hama pada tanaman jeruk seperti Tessaratoma papilosa dari ordo Hemiptera.

Dalam kajian ilmu pengendalian hayati yang lebih mendalam lagi, parasitoid tidak hanya membahas tentang serangga hama yang dikendalikan oleh serangga lain, namun dibidang mikroskopisnya juga turut dikembangkan jamur, bakteri, nematoda dan virus begitu pula untuk hewan-hewan yang hidup di air seperti ikan yang bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan penyakit.

PARASITOID DALAM PERTANIAN TERAPAN

Oke Sebaiknya kita tinggalkan sejenak pandangan parasitoid di dunia akademisi kampus, pada keadaan nyata dunia pertanian masyarakat Indonesia, parasitoid menjadi tidak terkenal akibat berbagai persoalan, salah satunya karena tujuan dari pertanian adalah untuk mendapatkan hasil panen sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya (agak mirip dengan teori ekonomi classic Adam Smith), hal itu semakin didukung dengan pengembangan teknologi pestisida dan memasarkannya dalam jumlah yang banyak meski harganya mahal.

Kelompok-kelompok tani di Kabupaten Luwu pada umumnya samar-samar mengenal kalimat Parasitoid, namun hampir tidak mengenal bagaimana bentuk serangganya, dan bagaimana pula unsurnya jika parasitoidnya berasal dari jenis bakteri, jamur, virus dan nematoda, rupanya saja tidak diketahui apalagi menerapkannya dalam aplikasi pertanaman.

Sehingga untuk sementara bisa kita simpulkan upaya pengendalian hama pertanaman dengan parasitoid, pada umumnya terjadi di laboratorium dan pada usaha pertanian dalam skala modal besar, untuk pertanian skala miskin kebawah belum terlalui signifikan kedengarannya.

Karena berbagai rintangan yang ditemui untuk mengembangkan parasitoid ini, beberapa hal patut kita acungkan jempol, seperti pengembangan parasitoid dari jenis bakteri, virus, nematoda dan jamur, dimana untuk jenis ini sudah dikomersilkan dalam bentuk �INSEKTISIDA�, jadi jika anda menemukan merek produk pengendalian serangga dengan tulisan Insektisida maka itu berasal dari parasitoid golongan mikroskopis, namun anda juga perlu hati-hati karena produk seperti itu juga mudah sekali dipalsukan.

JENIS-JENIS SERANGGA PARASITOID

Bagi pembaca yang terbetik hati ingin mengetahui rupa dari serangga-serangga, hewan-hewan dan mahluk mikroskopis parasitoid bisa disimak pada keterangan dibawah ini.

1. Serangga parasitoid dari ordo Hymenoptera

2. Serangga parasitoid dari ordo Diptera

3. Parasitoid dari kelompok ikan Gambusia Affinis, untuk mengendalikan larva nyamuk

4. Parasitoid dari golongan nematoda seperti nematode Steinernema SP

5. Parasitoid dari kelompok burung, burung Mynah (Acridotheres tristis), burung ini dimanfaatkan untuk mengendalikan belalang kembara merah

6. Dan masih banyak jenis mahluk lainnya.

Nah, bagaimana pemirsa hebat bukan ternyata parasitoid ini, jika kita mengendalikan tanaman dengan cara ini bisa dipastikan keadaan lingkungan kita akan semakin ramah, sampai jumpa pada pembahasan selanjutnya.








Sumber Foto * Dokumentasi foto fakultas pertanian Universitas Andalas (www.faperta.unand.ac.id)

Kamis, 22 Oktober 2015

Metode Pengendalian Tikus dengan Kultur Teknis

Di dalam pengendalian hama tikus ada beberapa metode yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan pengendalian kultur teknis. Prinsip dasar dari metode ini adalah dengan membuat lingkungan yang tidak menguntungkan atau tidak mendukung bagi kehidupan dan perkembangan populasi hama tikus. Pengendalian ini terbgai dalam beberapa cara, yaitu:

1. Pengaturan pola tanam
Cara ini hanya berlaku untuk tanaman semusim, dengan tujuan untuk membatasi ketersediaan makanan yang sesuai bagi reproduksi tikus. Misalnya, pola tanam padi yang dapat dilakukan untuk penanaman tiga kali dalam jangka waktu satu tahun adalah:
padi-padi-palawija,
padi-palawija-padi,
padi-palawija-palawija.

Hal ini didasarkan pada pola reproduksi tikus yang biasanya meningkat pada akhir musim tanam padi sehingga perlu diselingi dengan tanaman palawija. Nutrisi palawija kurang cocok bagi metabolisme tikus dibandingkan dengan nutrisi padi sehingga populasi tikus di areal pertanaman akan menurun. Jenis palawija yang dapat ditanam adalah jagung, kedelai, kacang tanah, ubi jalar, atau dapat juga dengan menanam hortikultura sayuran yang berumur pendek.

2. Pengaturan waktu tanam
Pengaturan waktu tanam adalah menanam secara serempak jenis komoditas dan varietas yang sama dalam areal yang cukup luas (minimal 10 ha). Tujuannya adalah untuk menyebar kerusakan yang diakibatkan oleh tikus pada hamparan tersebut atau dengan kata lain kerusakan oleh tikus tidak terpusat pada satu petakan saja. 

3. Pengaturan jarak tanam
Yaitu mengatur jarak tanam lebih lebar dari biasanya dengan tujuan agar tercipta lingkungan yang lebih terbuka yang kurang disukai oleh tikus atau menghambat pergerakan tikus.

4. Penggunaan tanaman perangkap (trap crop)
Metode ini sebenarnya merupakan perpaduan antara metode pengendalian secara kultur teknis dengan pengendalian secara mekanis. Pada areal yang sempit, yang berada di tengah-tengah pertanaman yang luas, ditanami terlebih dahulu dengan tanaman yang disukai oleh tikus, misalnya padi. Selanjutnya pada sisa lahan yang luas di sekitarnya ditanami komoditas yang diinginkan, atau dapat juga tanaman padi. Pada saat tanaman padi yang berada di tengah pertanaman memasukii fase generatif, tikus akan berkumpul di areal tersebut, pada saat itulah dapat dilakukan perburuan atau gropyokan.

Beberapa keuntungan yang diperoleh dari pengendalian kultur teknis ini adalah:
1. Tidak memerlukan waktu khusus untuk pengendalian karena dapat dilaksanakan bersama-sama dengan tindakan budidaya tanaman.
2. Menumbuhkan sifat gotong royong bagi masyarakat tani di dalam merencanakan suatu penanaman komoditas tanaman pangan.
3. Sistem ini efisien dalam hal biaya dan waktu.

Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah:
1. Hasilnya tidak dapat dipastikan karena banyak faktor luar yang dapat mempengaruhi keberhasilan pengendalian ini.
2.  Memerlukan perencanaan yang sangat matang sehingga kesalahan di dalam perencanaan dapat mengakibatkan kegagalan.

menanam-tanaman
(Sumber foto: naturalnusantara.org)