Tampilkan postingan dengan label ekologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Oktober 2015

Biological Control Teror atau Suatu Keadilan Untuk Ekologi Tanaman

Pernahkah terlintas dalam pemikiran anda untuk tidak membunuh barang seekorpun hewan dari jenis serangga dan hewan mamalia berukuran besar, atau pernahkah terlintaskan dalam pikiran anda untuk tidak mencabut sehelai rumputpun atau gulma dilingkungan tempat anda tinggal, andai ada seorang manusia yang sanggup berlaku demikian dalam hidupnya dimuka bumi ini, mungkin kami sepakat untuk mengatakannya dialah seorang �pecinta lingkungan tulen�, mulai detik anda membaca artikel ini marilah kita mengamati siapakah manusia yang sanggup untuk tidak melakukan dua hal pada awal paragraph diatas, hehe.
Biological Control Teror atau Suatu Keadilan Untuk Ekologi Tanaman

Oke, Sebelum kita memasuki pembahasan yang lebih mendalam, tiada bosan-bosannya kami untuk menyampaikan bahwa, tujuan kami menuliskan hal-hal saintis seperti ini, adalah untuk memberikan pendekatan pemahaman yang lebih mudah, khusus kepada masyarakat dunia yang tidak �Familiar� dengan istilah-istilah biologi pertanian, Biological control merupakan salah satu pilihan kami pada saat ini untuk disajikan dalam bahasa yang renyah dan mudah dimengerti, agar kita sama-sama memahami situasi dan kondisi pertanian dunia, lebih khususnya di Negara kami Indonesia.

Baiklah, pertanyaan yang kami tuliskan pada awal paragraph diatas merupakan langkah dasar untuk memahami apa yang disebut dalam istilah biologi pertanian dengan nama �Biological control�, karena dalam penjelasannya aslinya banyak istilah-istilah yang cukup memusingkan � terlebih untuk awam � maka lebih tepat kiranya, untuk anda memikirkan pertanyaan pada awal tulisan ini.

Adalah HS. Smith orang pertama yang mempopulerkan istilah biological control pada tahun 1919, meski sebenarnya orang-orang zaman sebelumnya sudah pula melakukan kegiatan tersebut, namun pada abad ke 19 itulah pertama kali ditekuni sebagai suatu bidang kajian ilmu biologi pertanian, untuk mengatasi kesombongan manusia tentang memusnahkan mahluk hidup lainnya, meski pada kenyataannya hal itu tetap juga terjadi hingga detik ini.

Dalam pengertian yang sederhana untuk bidang pertanian biological control adalah mengendalikan lingkungan biologi, dan memanfaatkan lingkungan biologi dalam mensejahterakan tanaman dari berbagai gangguan hama dan penyakit, lingkungan itu bisa saja dari golongan serangga dan tumbuhan, dalam kalimah sederhananya �Mencari tahu siapa musuh serangga hama tersebut, dari golongan serangga juga atau dari golongan tetumbuh�.

Dibawah ini bisa kita simak factor lingkungan yang bisa mempengaruhi serangga hama ;

1. Factor iklim

Berupa iklim makro, dan iklim mikro

2. Factor biotic

Berupa predator, parasitoid, pathogen dan serangga pesaing.

3. Factor makanan

Berupa kualitas dan kuantitsa makanan

4. Factor lainnya

Mengacu pada pertanyaan diawal tadi, maka pertanyaan itu masuk pada factor biotik dan factor makanan, para peneliti biologi pertanian dibidang pengendalian hayati berjuang tanpa kenal lelah untuk mengetahui, hal apa saja yang membuat serangga hama bisa dihambat pertumbuhan populasinya, dari suatu lingkungan tempat usaha pertanaman dilakukan, karena begitu spesifiknya serangga atau tanaman yang bisa disetting untuk bermusuhan dengan serangga hama, sehingganya manusia harus memilah, untuk tidak membunuh dan mencabut tumbuhan sembarangan.

Karena biological control sifatnya memanipulasi dengan memanfaatkan populasi musuh alami, maka dari itu ia dinilai sebagai usaha pengendalian hama penyakit yang adil, meski konsekuansinya manusia tidak dibolehkan membunuh serangga sembarangan dan mencabuti tumbuhan sesuka hati, dan hal ini menurut kami tentunya suatu usaha terpuji dalam bertindak dan memperlakukan serangga �Terdakwa� hama, dalam menciptakan suasana keadilan dilingkungan pertanaman.

Dampak pemakaian kimia dalam mengendalikan hama penyakit tidak baik untuk kesehatan lingkungan, untuk itu kami menyarankan kepada anda pembaca setia kami, untuk berlaku adil dalam bercocok tanam, dari pesatnya penelitian dan perkembangan teknik pengendalian hama penyakit tanaman yang bersifat hayati, semakin memperjelas bukti kepada kita selaku mahluk Manusia, bahwa segala sesuatu yang Diciptakan di alam raya ini memiliki fungsi dan perannya masing-masing, seperti serangga parasitoid dan predator itu.

Sekian ulasan singkat kita pada artikel ini, semoga pertanian anda semakin menyenangkan dan sampai jumpa dipembahasan selanjutnya.

Salam hangat ..

Selasa, 14 Oktober 2014

Ekologi Tanaman Tebu (Saccharum officinarum)

Tanaman tebu adalah tanaman penghasil gula terpenting di dunia. Produksi gula dunia dari gula tebu adalah sebanyak 60 % sedangkan 40 % sisanya adalah dari gula bit.

Ada banyak pendapat mengenai daerah asal tanaman tebu ini, antara lain ada yang mengatakan berasal dari lembah sungai gangga India dan ada juga yang menyatakan berasal dari Pasifik Selatan, Papua New Guinea, Polynesia termasuk Indonesia. Tanaman tebu ini tersebar di negara tropik maupun sub tropik antara 35 derajat sebelah Utara dan Selatan Ekuator. Beberapa negara penghasil gula di dunia adalah Cuba, Brazilia, India, Hawaii, Australia Timur, USA, Peru, Argentina, termasuk Indonesia dan lain sebagainya.

Tanaman tebu merupakan tanaman tropik yang sangat menyukai iklim panas, cahaya matahari yang banyak serta bebas dari salju. Curah hujan yang dikehendaki adalah minimum 1300 m per tahun. Hujan yang merata sepanjang tahun dengan total lebih dari 1300 m per tahun dapat memenuhi kabutuhan air tanaman tebu tanpa membutuhkan air pengairan. Akan teapi jika curah hujannya kecil atau kurang dari 750 mm/tahun, maka air pengairan mutlak diperlukan. Penkanan pemberian air pengairan untuk tebu dapat meningkatkan produksi asal dilakukan dengan tepat. Penekanan pemberian air sampai batas 33,3% dari kebutuhan biasanya dapat meningkatkan produksi sebanyak 4,1%.

Tanaman tebu dapat hidup pada daerah dengan ketinggian antara 0 sampai 1300 meter di atas permukaan laut. 

Suhu tanah merupakan suhu yang juga berpengaruh penting terhadap pertumbuhan tanaman tebu. Suhu tanah 80 derajat Fahrenheit akan menstimulir perkembangan akar dan peningkatan pengambilan unsur hara. Jika di bawah 70 derajat Fahrenheit perkembangan akar akan terhambat dan jika mencapai 50 derajat pertumbuhan akar akan terhenti.

Tanaman tebu dapat tumbuh baik hampir pada semua jenis tanah asalkan diberikan pupuk organik. Tetapi iklim juga memiliki pengaruh yang cukup besar. Jika curah hujan tinggi, maka tanah yang ringan dan porous sangat baik untuk tebu, teapi jika hujan sedikit tanah berat juga dapat digunakan untuk pertanaman tebu.

Reaksi atau pH tanah yang disukai oleh tanamn tebu adalah tanah netral atau sedikit alkalin.
menanam-tanaman
(Sumber foto: ptpn10.co.id)


Senin, 22 September 2014

Ekologi, Syarat Tumbuh Tanaman Teh (Thea sinensis)

Produksi yang diharapkan dari tanaman Teh (Thea sinensis) adalah daunnya, yang dikeringkan dan diolah sedemikian rupa hingga menjadi bahan minuman yang nikmat. Daun Teh selain memberikan aroma dan cita rasa yang enak juga memberikan warna yang menarik pada air yang digunakan untuk menyeduhnya dan memberikan rasa segar karena mengandung alkaloid thein. 

Jika Teh ditanam di daerah tropis, maka teh menginginkan curha hujan antara 2000 sampai 2500 mm per tahun. Tanaman teh ini tidak tahan terhadap musim kemarau yang panjang. Mengenai ketinggian tempat di daerah tropika, teh menyukai di atas 1100  meter, tetapi teh dapat juga tumbuh baik di daerah tropis antara 250 sampai 1200 meter di atas permukaan laut.

Di daerah sub tropis yang suhunya sering rendah, tanaman teh dapat tumbuh di tempat yang memiliki ketinggian yang sama dengan permukaan laut.

Tanaman teh kurang tahan terhadap cahaya matahari yang terlalu banyak. Oleh karena itu, di daerah-daerah yang tidak banyak awan diperlukan pohon-pohon pelindung. Intensitas cahaya yang tinggi untuk tanaman teh yang tidak diimbangi dengan pemupukan akan menurunkan produksi. Tanaman pelindung untuk tanaman teh dapat juga membahayakan jika terjadi kelembaban mikro yang tinggi, karena dapat menstimulir berkembangnya cacar daun pada teh yang disebabkan oleh Exobasidium vexans. Oleh karena itu, jika terlihat adanya gejala serangan penyakit ini, maka sering-sering lah melakukan penjarangan pohon pelindung di perkebunan teh.

Tanah yang disukai oleh tanaman teh adalah tanah-tanah dengan sedikit asam dimana pH optimal berkisar antara  5 sampai 6, serta bertekstur gembur dan porous.

menanam-tanaman
(Sumber foto: travelmatekamu.com)

Ekologi, Syarat Tumbuh Tanaman Kelapa (Cocos nucifera)

Kelapa (Cocos nucifera) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati, terutama untuk minyak makan atau minyak goreng. Selain digunakan untuk minyak makan, kelapa juga digunkaan sebagai bahan mentah untuk industri sabun dan margarine. Bahan produksi utama yang diharapkan dari kelapa adalah bagian buahnya. Akan tetapi walaupun begitu, jika diperinci lebih dalam lagi ternyata seluruh bagian tanaman kelapa sangat bermanfaat. Buahnya seperti yang telah dijelaskan di atas, daunnya dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk organik atau sebagai pakan ternak, lidinya digunakan untuk sapu lidi, batangnya dapat digunakan untuk bahan bangunan, serta akarnya dapat dijadikan sebagai bahan baku obat atau dapat juga sebagai bahan baku pupuk organik. Kopra merupakan hasil endosperm biji yang dikeringkan yang memiliki nilai jual yang tinggi.

Tanaman kelapa tumbuh baik pada latitud (ketinggian tempat) dari ekuator sampai 15 derajat. Tinggi tempat yang diinginkan adalah 0 sampai 300 meter di atas permukaan laut. Pada latitud dan altitud yang lebih tinggi kelapa dapat juga tetap hidup tetapi produksi buah ditinjau dari kualitas dan kuantitas akan jauh menurun.

Kelapa menginginkan keadaan yang hangat dengan suhu sekitar 25 sampai 20 derajat celsius. Temperatur di bawah 20 deraajat celsius akan menurunkan produksinya. Temperatur yang terlalu tinggi, di atas 38 derajat celsius akan mengakibatkan kerusakan dan kemunduran produksi buah, apalagi jika tidak diimbangi dengan persediaan air yang cukup, karena energinya banyak hilang akibat proses transpirasi.

Curah hujan yang diinginkan kelapa, minimum 1500 mm per tahun dan merata sepanjang tahun. Tanaman kelapa akan sangat menurun produksinya jika pada tahun sebelumnya mengalami kekeringan atau curah hujannya di bawah 1200 mm per tahun. Kelapa dapat tumbuh pada daerah dengan curah hujan di atas 3000 mm per tahun yang penting drainase tanah baik.

Penyinaran matahari penting untuk menghasilkan assimilat dalam rangka membentuk senyawa-senyawa minyak dalam endospermanya. Karena itu lah tanaman kelapa yang tumbuh di daerah-daerah yang selalu banyak awan, produksinya sangat rendah.

Tanaman kelapa toleran terhadap kelembaban udara dan yang dikehendakinya berkisar antara 80 - 90 %, minimum 65 %. Jika kelembaban sangat rendah akan mengakibatkan terhalangnya pembentukan bunga betina atau gugurnya bunga yang masih muda.

Kelapa sangat menyukai tanah-tanah berpasir di pinggir pantai, dimana muka air tanahnya relatif tinggi. Aerasi dan drainase tanah yang baik, akan mendorong pertumbuhan akar yang sempurna. Tanah-tanah abu vulkanik juga disenangi oleh kelapa, tanah alluvial juga disukai oleh kelapa. Kelapa juga termasuk tanaman yang toleran terhadap salinitas (tingkat keragaman) tanah yang tinggi.

menanam-tanaman
(Sumber foto: kaloriku.com)

Rabu, 17 September 2014

Ekologi Tanaman Ubi Kayu, Singkong (Manihot utilissima)

Ubi kayu atau dikenal juga dengan nama singkong merupakan tanaman yang menghasilkan umbi yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan tepung tapioka, karena ituubi kayu disebut juga tapioka atau manioc. Ubi kayu adalah tanaman monoceous (biji berkeping satu) dan seringkali terjadi perkawinan silang atau perkawinan sendiri. Umbinya mengandung karbohidrat berkalori tinggi. Bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan padi dan jagung sehingga banyak digunakan sebagai bahan makanan pencampur utama makanan pokok di berbagai daerah di Indonesia.

Tanaman ubi kayu ini dapat tumbuh dengan baik di daerah tropika basah dan daerah dengan distribusi curah hujan yang merata antara 1000 sampai 2000 mm per tahun. Bahkan dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 500 mm per tahun dan 5000 mm per tahun, asalkan air jangan sampai tergenang di daerah sekitar perakaran. Keistimewaan tanaman ini adalah dapat bertahan hidup pada musim kering dan hujan. Namun di daerah dengan hujan yang tidak teratur dapat menurunkan produksinya bahkan kualitas umbinya.

Tanah yang baik untuk pertanaman ubi kayu adalah tanah-tanah lempung berpasir  atau lempung yang gembur dengan drainase yang baik. Walaupun demikian, ubi kayu dapat juga tumbuh di tanah-tanah gersang dari ringan sampai berat. Derajat kemasaman tanah yang diinginkan oleh ubi kayu adalah kisaran antara 6 - 7,5. Akan tetapi, pada tanah-tanah lateritik gembur pada pH 5,5 ubi kayu dapat juga tumbuh dengan baik. Yang terpenting adalah menjaga agar drainase tetap baik karena jika drainasenya buruk dapat mengakibatkan busuknya umbi dan produksi akan jauh menurun.

Walaupun tanaman ubi kayu dapat tumbuh di dataran tinggi, akan lebih produktif jika di tanam di daerah dataran rendah dan lembah. Karena adanya kolerasi positf antara kandungan HCN di dalam umbi ubi kayu dengan semakin tingginya tempat. 

Cahaya matahari mutlak diperlukan walaupun tanaman ini termasuk heliophytes atau tanaman dengan hari pendek. Suhu optimal yang disukainya adalah antara 18 sampai 35 derajat celsius dengan kelembaban rata-rata sebesar 65 %.

menanam-tanaman
(Sumber foto: log.viva.co.id)

Ekologi Tanaman Kopi (Coffea sp)

Kopi merupakan salah satu anggota famili Rubiacaea yang dimanfaatkan sebagai bahan minuman yang dapat menghilangkan rasa kantuk karena mengandung sofeein atau kafein. Terdapat beberapa spesies, tetapi pada umumnya yang diusahakan pertanamannya ada 3 jenis yaitu Coffea robusta, Coffea liberica dan Coffea arabica yang berasal dari Abyssinia (Ethiopia) sedangan dua jenis yang pertama kemungkinan besar berasal dari Congo dan Liberia.

Kopi termasuk dalam tanaman tropika karena banyak tersebar di daerah-daerah tropik. Penghasil kopi terbanyak di dunia adalah Brazillia (kira-kira memproduksi 50% dari produksi kopi dunia). Selain itu, negara-negara penghasil kopi yang lain adalah Congo, Guatemala, Colombia, Costa rica, Indonesia, Kenya, West Malaysia, Equador, Hawaii serta masih banyak negara lainnya.

Kopi merupakan tanaman sciophytes atau tanaman yang kurang menyukai pencahayaan matahari yang banyak, sehingga terkadang dalam pertanaman kopi sering ditanam pohon pelindung. Akan tetapi saat ini, petani cenderung menanam kopi tanpa menggunakan penaung atau pohon pelindung tetapi dibarengi dengan pemupukan yang baik, dan ternyata hasil produksi yang didapatkan oleh petani jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertanaman kopi yang dinaungi.

Kopi dapat tumbuh pada berbagai ketinggian tempat mulai dari 0 sampai pada ketinggian 2100 meter di atas permukaan laut. Umumnya pertanaman kopi di negara-negara penghasil kopi yang telah disebutkan di atas tadi, berada  pada daerah dataran tinggi, namun ada juga yang ditanam di daerah dataran rendah seperti di Rio de Jeneiro. Coffea arabica dapat beradaptasi dengan lebih baik di daerah dataran tinggi sedangkan Coffea liberia dan Coffea robusta lebih suka jika ditanam di daerah dataran rendah. Kualitas kopi yang baik biasanya berasal dari tanaman yang tumbuh pada ketinggian antara 1200 sampai 1700 meter di atas permukaan laut. Kebanyakan kebun kopi di berbagai negara mempunyai temperatur rata-rata 21 derajat celsius, suhu minimum rata-rata yang disukai tanaman kopi adalah 16 derajat celsius sedangkan suhu maksimum rata-ratanya adalah 22 derajat celsius.

Tanah yang cocok untuk tanaman kopi adalah tanah yang tidak terlalu ringan atau gembur dan tidak pula terlalu berat atau liat. Tanahnya harus kaya akan bahan organik, tanah yang memiliki solum yang dalam lebih baik serta memiliki drainase yang baik. pH yang diinginkan oleh tanaman kopi adalah dalam kisaran 4,2 sampai 5,1.

Mengenai curah hujan untuk tanaman kopi adalah dalam kisaran 750 sampai 2500 mm per tahun dan curah hujan yang paling baik untuk tanaman kopi adalah antara 1250 sampai 1750 mm per tahun.

menanam-tanaman
(Sumber foto: www.nasionalisme.co)

Jumat, 05 September 2014

Ekologi Tanaman Kakao (Theobroma cacao)

Coklat atau lebih dikenal dengan nama kakao merupakan tanaman penghasil bahan campuran minuman atau makanan seperti cake, roti dan lain sebagainya. 

Coklat masuk dalam anggota famili Streculiaceae. Coklat dapat tumbuh pada lintang 20 derajat lintang utara dan 20 derajat lintang selatan. Ada dua jenis coklat yang dipasarkan di dunia saat ini yaitu edel cacao atau fine flavoured cocoas dan bulk cocoas. Bulk cocoas adalah coklat yang berasal dari tipe Foraster sedangkan edel cacao berasal dari hibrida Coriolla dan Forestero.

Coklat akan tumbuh dengan baik di dataran rendah pada ketinggian 0 - 500 meter dari permukaan laut. Ketinggian yang terbaik untuk tanaman coklat adalah di bawah 300 meter di atas permukaan laut.

Suhu yang cocok untuk tanaman coklat ini adalah berada pada kisaran antara 26 sampai 28 derajat celcius. Pada daerah-daerah yang mempunyai kisaran suhu sampai jatuh di bawah 18 derajat celcius atau naik sampai 35 derajat celcius tidak baik untuk tanaman coklat.

Curah hujan yang baik untuk tanaman coklat adalah berkisar antara 1500 sampai 2000 mm per tahun dimana hujannya terbagi merata sepanjang tahun. Ternyata angka tersebut sedikit berbeda dengan kenyataan di Filipina, dimana curah hujan yang baik untuk tanaman coklat disana adalah antara 1600 sampai 2200 mm per tahun. Coklat sangat sensitif terhadap kekeringan dan mengalami moisture strea yang dapat menyebabkan pembungaan melambat, akibatnya produksi bunga  berkurang dan keguguran pada buah muda.
Angin yang terlalu kencang tidak baik untuk tanaman coklat. Jika suatu daerah sering diserang angin kencang maka daerah tersebut tidak ideal untuk tanaman coklat. Akibat yang ditimbulkannya selain kerusakan mekanis seperti dahan patah atau pohon tumbang, juga dapat mengakibatkan banyaknya energi hilang karena transpirasi yang tinggi. Keadaan tersebut tentu saja pada akhirnya akan menurunkan produksi buah.

Tanah yang disukai oleh coklat adalah tanah-tanah bersolum (lapisan) yang dalam dengan drainase yang baik pada top soil (permukaan tanahnya), porous dengan tekstur lempung berpasir yang kaya akan bahan organik. Reaksi tanah (kemasaman tanah) yang diinginkan oleh tanaman coklat adalah tanah netral dengan pH 6 sampai 7. Akan tetapi, tanaman coklat mempunyai kisaran toleransi yang cukup luas yaitu pH antara 4 sampai 7,4 untuk top soilnya dan 4 sampai 8,3 pada sub soil (lapisan tanah bawah).

Serangga hama pada tanaman kakao

Penggerek buah kakao (PBK) 

Hama yang menyerangnya Conopomorpha cramerella, harga kakao yang rendah biasanya selalu dihubungkan dengan adanya serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK) ini, serangga ini bisa dikatakan sebagai hama utama yang menyerang tanaman kakao.

Buah kakao terserang dapat dilihat dengan gejala belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva, pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil, karena biji-biji saling melekat menyebabkan buah terserang jika dikocok tidak berbunyi, sedangkan buah sehat akan berbunyi, tanaman selain kakao yang dapat terserang yaitu rambutan.

Petani sulit mengidentifikasi apakah tanaman coklat  terserang hama PBK atau tidak, gejalanya hanya dapat dilihat ketika buah kakao/cokelat dibelah, apabila buah kakao dibelah terlihat isinya sudah tidak beraturan akibat gerekan larva dari dalam buah, petani akan menderita kerugian besar, sehingga upaya pembahasan PBK dan alternatif pengendaliannya menjadi penting.

Jika pada hamparan tanaman kakao terserang berat diprediksi tidak dapat menghasilkan produksi optimal, akibatnya buah kakao menjadi rusak dan cacat akibat serangan hama ini, dengan demikian perlu diupayakan semaksimal mungkin untuk mengendalikan serangan hama tersebut baik secara preventif maupun kuratif, setidaknya meminimalkan kerusakan dan kerugian.

Hama PBK biasanya meletakkan telurnya setelah matahari terbenam pada alur kulit buah kakao. Setelah telur menetas akan menjadi larva.

Pengendalian hama penggerek buah kakao

Pengendalian dapat dilakukan baik secara preventif maupun kuratif. serangan PBK dapat mencapai 0 % apabila dilakukan aplikasi 1 x insektisida yang telah direkomendasikan oleh Komisi Pestisida sebelum sarungisasi menggunakan kantong plastik.

Tindakan Pencegahan Serangan PBK

?Karantina

Metode karantina dilakukan bertujuan mencegah masuknya hama dari negara lain seperti Philipina dan Malaysia atau dari satu daerah ke daerah lain dengan cara menghindari masuknya buah yang terjangkit serta bahan maupun alat yang mengandung hama PBK.

Frekuensi Panen

Kakao yang dipanen sering kurang beresiko terserang hama PBK . Kulit buah yang telah dipanen perlu dikumpulkan dan dibenamkan ke dalam tanah sehingga mampu menekan populasi serta perkembangbiakan PBK karena banyak larva yang juga ikut terbenam bersama kulit buah menjadi kompos.

Pemangkasan

Pemangkasan kakao dapat dilakukan sebagai salah satu teknik pengendalian hama PBK, karena kanopi menjadi tidak terlalu rimbun. Kondisi kanopi yang rimbun sangat kondusif bagi pertumbuhan hama PBK. Dengan pertimbangan bahwa kelemahan imago PBK  tidak menyukai sinar matahari langsung, sehingga bila sering dilakukan pemangkasan teratur akan dapat menekan populasi hama karena distribusi sinar matahari pada bagian tanaman maupun areal kebun menjadi merata. Pemangkasan bentuk pohon kakao dilakukan dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4m memudahkan saat pengendalian dan panen.

Pemupukan

Apabila unsur hara yang dibutuhkan tanaman terpenuhi akan memperlancar proses metabolisme tanaman. Selanjutnya akan mempercepat masaknya buah, sehingga dapat mengurangi tingkat kerusakan buah dan memungkinkan frekuensi panen lebih sering. Pertumbuhan tanaman yang sehat akan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama PBK.

Tindakan Kuratif Pengendalian  PBK

Sanitasi dan Sistem Rampasan.

Sanitasi berarti membersihkan areal kebun dari daun kering, ranting kering, kulit buah dan gulma yang berada di sekitar tanaman. Keadaan yang bersih menjadikan kondisi yang tidak sesuai bagi hama PBK.

Sistem Rampasan dimaksudkan memetik buah terserang PBK. Pada akhir panen, semua sisa buah kakao dipetik dan dimusnahkan. Daur hidup hama akan terputus, sehingga serangan pada periode berikutnya akan rendah.

Kondomisasi/ Pembungkusan.

Kondomisasi atau sarungisasi berarti membungkus buah kakao dengan plastik. Caranya yaitu ujung bagian atas kantong plastik diikatkan pada tangkai buah, sedangkan ujung buah tetap terbuka. Dengan cara penyelubungan buah tersebut, hama tidak dapat meletakkan telur pada kulit buah sehingga buah terhindar dari serangan larva. Pembungkusan dilakukan ketika buah berukuran kecil, 8-12 cm


Untuk menjaga stabilitas tingkat serangan hama PBK 0 % dapat dilakukan tindakan berikut :


  • Didahului dengan aplikasi insektisida satu kali pada saat panjang buah 8-12 cm, selanjutnya buah tersebut dibungkus plastik 

  • Panen sering, buah yang masak dijemur.

  • Disertai pemangkasan dan pemupukan sesuai dosis anjuran

menanam-tanaman
(Sumber foto: ragambudidaya.blogspot.com)

Sumber :
* BPPP Ketindan (Hama kakao)