Tampilkan postingan dengan label bioteknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bioteknologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016

Cara Mudah Pembuatan Pupuk Organik Cair Untuk Buah

Banyak hal yang menarik dari perkembangan teknologi pemuliaan berbasis rakyat jelata di Group jejaring social facebook, salah satunya di Group Facebook �Surono Danu�, group yang beranggotakan 2.663 anggota ini (Diakses pada jumat/15/April /2016) terlihat antusias sekali mengupas berbagai persoalan pertanian, khususnya pertanian padi, group ini terkenal dengan merek produk padinya dengan merek sertani, ada berbagai ragamnya mulai dari sertani 1 sampai sertani 18, anda juga bisa mengikuti diskusi tentang berbagai persoalan pertanian di group ini, silahkan bergabung.

Karena resep membuat pupuk organic cair (POC) kita kali ini di ambil dari diskusi group tersebut, sebagai suatu langkah untuk turut berbagi pengetahuan kepada sesame petani di dunia, kami coba tayangkan resep pembuatan pupuk organic cair untuk buah ini, terima kasih yang mendalam sebelumnya kami sampaikan kepada akun facebook atas nama �Nur Ichsan Ichsan Icong�, atas kemurahan hati beliau turut membagi ilmu sederhananya untuk semua petani di dunia, mari kita simak berikut cara pembuatan Pupuk Organik Cair untuk Buah.

Bahan-bahan yang dipersiapkan untuk pembuatan POC buah

1. Pisang matang 2 buah

2. Kuning telur ayam 1 butir

3. 1 sachet madurasa

4. 1 kiter air kelapa

5. 1 liter air perasan kunyit

6. 1 botol yakult kecil

Cara pembuatan

Blender pisang, telur dan madu kemudian masukkan kedalam toples/drigen sekaligus campurkan dengan bahan-bahan lainnya seperti madurasa, air kelapa, air perasan kunyit dan yakult, setelah semua campuran dimasukkan kocok beberapa menit kemudian dibuka tutupnya, untuk mengeluarkan gas metan yang dihasilkannya, lakukan pengocokan berulang-ulang sampai semua campuran dirasa sudah merata, kemudian diamkan selama 1 hari (24 jam), dan paling bagus jika dilakukan pengendapannya selama satu minggu.

Kontrol proses pembuatan.


Sewaktu penyimpanan perhatikan proses fermentasinya, jika gas metan tinggi buka lagi tutup derigennya, kemudian tutup lagi.

Cara aplikasi.

Disemprotkan langsung ke buah, dengan dosis takaran 5 ml perliter air campuran.

Berikut ini foto penampakan untuk penggunaannya pada tanaman padi, yang diunggah oleh Nur Ichsan Ichsan Icong di Group Surono Danu.



Sumber : Nur Ichsan Ichsan Icong, diposting di group Facebook : Surono Danu

Rabu, 28 Oktober 2015

Biological Control Teror atau Suatu Keadilan Untuk Ekologi Tanaman

Pernahkah terlintas dalam pemikiran anda untuk tidak membunuh barang seekorpun hewan dari jenis serangga dan hewan mamalia berukuran besar, atau pernahkah terlintaskan dalam pikiran anda untuk tidak mencabut sehelai rumputpun atau gulma dilingkungan tempat anda tinggal, andai ada seorang manusia yang sanggup berlaku demikian dalam hidupnya dimuka bumi ini, mungkin kami sepakat untuk mengatakannya dialah seorang �pecinta lingkungan tulen�, mulai detik anda membaca artikel ini marilah kita mengamati siapakah manusia yang sanggup untuk tidak melakukan dua hal pada awal paragraph diatas, hehe.
Biological Control Teror atau Suatu Keadilan Untuk Ekologi Tanaman

Oke, Sebelum kita memasuki pembahasan yang lebih mendalam, tiada bosan-bosannya kami untuk menyampaikan bahwa, tujuan kami menuliskan hal-hal saintis seperti ini, adalah untuk memberikan pendekatan pemahaman yang lebih mudah, khusus kepada masyarakat dunia yang tidak �Familiar� dengan istilah-istilah biologi pertanian, Biological control merupakan salah satu pilihan kami pada saat ini untuk disajikan dalam bahasa yang renyah dan mudah dimengerti, agar kita sama-sama memahami situasi dan kondisi pertanian dunia, lebih khususnya di Negara kami Indonesia.

Baiklah, pertanyaan yang kami tuliskan pada awal paragraph diatas merupakan langkah dasar untuk memahami apa yang disebut dalam istilah biologi pertanian dengan nama �Biological control�, karena dalam penjelasannya aslinya banyak istilah-istilah yang cukup memusingkan � terlebih untuk awam � maka lebih tepat kiranya, untuk anda memikirkan pertanyaan pada awal tulisan ini.

Adalah HS. Smith orang pertama yang mempopulerkan istilah biological control pada tahun 1919, meski sebenarnya orang-orang zaman sebelumnya sudah pula melakukan kegiatan tersebut, namun pada abad ke 19 itulah pertama kali ditekuni sebagai suatu bidang kajian ilmu biologi pertanian, untuk mengatasi kesombongan manusia tentang memusnahkan mahluk hidup lainnya, meski pada kenyataannya hal itu tetap juga terjadi hingga detik ini.

Dalam pengertian yang sederhana untuk bidang pertanian biological control adalah mengendalikan lingkungan biologi, dan memanfaatkan lingkungan biologi dalam mensejahterakan tanaman dari berbagai gangguan hama dan penyakit, lingkungan itu bisa saja dari golongan serangga dan tumbuhan, dalam kalimah sederhananya �Mencari tahu siapa musuh serangga hama tersebut, dari golongan serangga juga atau dari golongan tetumbuh�.

Dibawah ini bisa kita simak factor lingkungan yang bisa mempengaruhi serangga hama ;

1. Factor iklim

Berupa iklim makro, dan iklim mikro

2. Factor biotic

Berupa predator, parasitoid, pathogen dan serangga pesaing.

3. Factor makanan

Berupa kualitas dan kuantitsa makanan

4. Factor lainnya

Mengacu pada pertanyaan diawal tadi, maka pertanyaan itu masuk pada factor biotik dan factor makanan, para peneliti biologi pertanian dibidang pengendalian hayati berjuang tanpa kenal lelah untuk mengetahui, hal apa saja yang membuat serangga hama bisa dihambat pertumbuhan populasinya, dari suatu lingkungan tempat usaha pertanaman dilakukan, karena begitu spesifiknya serangga atau tanaman yang bisa disetting untuk bermusuhan dengan serangga hama, sehingganya manusia harus memilah, untuk tidak membunuh dan mencabut tumbuhan sembarangan.

Karena biological control sifatnya memanipulasi dengan memanfaatkan populasi musuh alami, maka dari itu ia dinilai sebagai usaha pengendalian hama penyakit yang adil, meski konsekuansinya manusia tidak dibolehkan membunuh serangga sembarangan dan mencabuti tumbuhan sesuka hati, dan hal ini menurut kami tentunya suatu usaha terpuji dalam bertindak dan memperlakukan serangga �Terdakwa� hama, dalam menciptakan suasana keadilan dilingkungan pertanaman.

Dampak pemakaian kimia dalam mengendalikan hama penyakit tidak baik untuk kesehatan lingkungan, untuk itu kami menyarankan kepada anda pembaca setia kami, untuk berlaku adil dalam bercocok tanam, dari pesatnya penelitian dan perkembangan teknik pengendalian hama penyakit tanaman yang bersifat hayati, semakin memperjelas bukti kepada kita selaku mahluk Manusia, bahwa segala sesuatu yang Diciptakan di alam raya ini memiliki fungsi dan perannya masing-masing, seperti serangga parasitoid dan predator itu.

Sekian ulasan singkat kita pada artikel ini, semoga pertanian anda semakin menyenangkan dan sampai jumpa dipembahasan selanjutnya.

Salam hangat ..

Jumat, 15 Mei 2015

Proses Awal Pembuatan Biogas

Mengatasi carut marutnya situasi harga BBM termasuk Gas, ada baiknya dilakukan upaya cepat untuk menetralisir kepanikan masyarakat, salah satu upaya tersebut adalah, dengan memanfaatkan hasil akhir peternakan seperti sapi atau kambing sebagai sumber Biogas.

Usaha tersebut setidaknya menjadi pemikiran dasar untuk mengatasi ketergantungan masyarakat terhadap sumber energy, terutama sumber energy yang disubsidi oleh pemerintah, seperti BBM jenis premium, solar, dan Gas.

Beberapa pemuda yang tergabung dalam kelompok P3L-Dharmasraya, bersama pemuda jorong Bungo Tanjung, dengan narasumber bapak Hery dari jambi, melakukan percobaan pembuata Biogas dengan memanfaatkan urine sapi, karena hal ini baru pertama kali dilakukan peserta sangat bersemangat.

Percontohan pembuatan Biogas ini dilakukan di areal perkandangan kerbau, jorong Bungo Tanjung, kenagarian Gunung Medan, disekeliling kandang digali saluran tempat penampung urine kerbau, sekaligus dibuat tempat degenerator pengurai seyawa organic menjadi senyawa metana, dibawah ini bisa dilihat kegiatan pertama dalam rangkaian proses pembuatan biogas.

Proses Awal Pembuatan Biogas

Selasa, 07 April 2015

Potensi Daun Kering untuk Biogas

biogas plant
Setiap detik daun-daun kering dari berbagai pohon dan tanaman berguguran di muka bumi, mulai dari rimba lebat nan gelap gulita, di hamparan ladang petani, di pemukiman rumah-rumah penduduk, hingga di taman-taman kota metropolitan.

Daun gugur dan memberikan manfaat yang baik untuk kehidupan alam semesta, selain bermanfaat sebagai pelengkap unsur hara pada saat pelapukan daun, ternyata daun juga bermanfaat untuk mengantisipasi kebijakan pencabutan subsidi BBM dan Gas, bagaimana caranya? Berikut kita bahas potensi daun menjadi biogas sebagai penyelamat bagi 245,9 juta jiwa rakyat Indonesia yang sebagian besarnya merupakan rakyat miskin, dari kemalangan dicabutnya subsidi BBM dan Gas.

Biogas merupakan suatu gas yang dihasilkan melalui pembusukan bahan organik yang dilakukan oleh bakteri anaerob, seperti bakteri Pseudomonas, Flavobacterium, Methanobacterium, Jika ditinjau dari komposisi dan cara pembuatan, biogas terdiri dari campuran metana (50-75%), CO2 (25-45%), serta sejumlah kecil H2, N2, dan H2S yang dihasilkan dari proses fermentasi, prosesnya berlangsung dalam ruanag kedap udara.

Daun yang sudah menjadi sampah merupakan salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan biogas, dengan cara pembusukan sampah daun berpeluang menjadi biogas, jika sudah menjadi biogas maka energy tersebut tersebut dapat juga dikonversikan menjadi kalor, energy listrik dan lain sebagainya, pada prinsipnya pemanfaatan daun ini adalah merubah senyawa organic menjadi senyawa metana.

Pembuatan biogas dengan menggunakan daun kering akan lebih baik hasilnya jika dicampurkan dengan sampah organic lainnya, seperti limbah rumah tangga, kotoran ternak, dan kotoran manusia, untuk menciptakan biogas maka perbandingan bahan yang dicampur adalah 42 % dari sampah organic dan 27 % sampah sisa makanan.

Proses pembuatan biogas sederhana skala rumah tangga, sebagai berikut .

skema sederhana pembuatan biogas untuk skala rumah tangga
(skema sederhana pembuatan biogas untuk skala rumah tangga)


1. Buatlah sebuah reactor dari bahan plastic, dua buah (satu untuk reactor satu lagi untuk penampung gas), kemudian siapkan slang dan klepnya, lalu sipakan kompor gasnya.

2. Buatlah campuran sampah organic dengan air dengan perbandingan 1 : 1

3. Masukkan bahan biogas kedalam reactor, melalui tempat pengisian sebanyak 2000 liter, selanjutnya didalam reactor tersebut akan berlangsung proses produksi biogas.

4. Setelah sepuluh hari plastic reactor dan penampung biogas sudah kelihatan menggembung dan mengeras, itu pertanda biogas sudah jadi, biogas sudah bisa digunakan untuk bahan bakar.

5. Sesekali plastic reaktro biogas di goyang-goyang supaya terjadi penguraian yang sempurna, dan gas yang terbentuk dibagian bawah akan naik keatas, lakukan juga pada setiap pengisian reactor.

6. Pengisian bahan biogas selanjutnya dapat dilakukan setiap hari, dengan memasukkan lebih kurang 40 liter setiap pagi dan sore hari, sisa pengolahan biogas berupa sludge secara otomatis akan keluar setiap kali dilakukan pengisian bahan biogas, sisa hasil pengolahan biogas tersebut dapat pula langsung dijadikan pupuk organic, baik dalam keadaan basah maupun kering.

Jika serius memanfaatkan sampah, maka kita tidak perlu lagi merasa ketergantungan terhadap Gas LPG yang harganya ditentukan sesuka hati si kapitalis.

Pada pembahasan artikel berikutnya kita usahakan membahas tentang menjadikan biogas untuk penerangan listrik, selamat mencoba.

Salam hijau �

Sumber : Wikipedia, Heru Setyo Cahyono (UNM), P3L Dharmasraya.

Minggu, 05 April 2015

Potensi Biogas Sumatera Barat

Kebijakan tentang pencabutan subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak) awal periode pemerintahan Jokowi � JK, menjadi isu sentra bagi rakyat Indonesia khususnya masyarakat miskin, ide pemerintah untuk tidak memanjakan rakyatnya dengan subsidi BBM seakan menjadi pukulan telak bagi rakyatnya, walau terkadang kebijakan tentang penghapusan subsidi GAS dan BBM tersebut dinilai aneh bagi para pengamat ekonomi, namun pemerintah seakan tidak ambil pusing dengan apa yang dikatakan mereka.

Mengenai carut marutnya persoalan subsidi BBM dan Gas, tentu ada baiknya pula dibicarakan tentang energy alternative selain dari energy alam dan fosil tersebut, salah satu alternative yang mungkin untuk dijadikan energy cadangan adalah dengan memanfaatkan ternak sebagai sumber energy baru.

Pemanfaatan ternak sebagai sumber energy terbarukan baru berkembang di pulau jawa saja, sementara itu daerah-daerah lain belum dilakukan dengan maksimal, termasuk di Sumatera Barat.

Situs berita www.tempo.co, kamis 17 Maret 2013 memberitakan di Jawa Timur ada sekitar 5.100 Reaktor Biogas, energy tersebut dimanfaatkan dari hewan ternak masyarakatnya, proyek yang di motori oleh Yayasan Rumah Energi dalam program BIRU (Biogas Rumah), menurut Koordinator Program BIRU Provinsi Jawa Timur, Wasis Sasmito, dari 8.300 reaktor yang telah dibangun secara nasional, jumlah terbanyak di Jawa Timur. Sedangkan provinsi lain yang juga telah memiliki reactor biogas adalah di Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Lampung.

Tentu tidak bermaksud membandingkan Sumatera Barat dengan pulau yang selalu mendapat perhatian penuh tersebut, Provinsi Jawa Timur membangun energy Biogas tersebut juga dengan kerja keras, sehingganya yayasan rumah energy yang bekerjasama dengan Hivos Norwegia mampu menjadikan potensi daerah Jawa Timur sebagai program Biru yang berhasil.

Halnya dengan Sumatera Barat, tahun 2010 Provinsi ini mendapat kucuran dana yang fantastis lewat program Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP), melalui kredit KKPE dan KUPS, situs Gubernur Sumbar www.irwan-prayitno.com dalam artikel �Sumatera Barat Bangkit� terbitan tanggal 24 Agusntus 2014, menjelaskan dengan rinci, bahwa melalui program GPP sudah didistribusikan sapi sebanyak 29.248 ekor, meliputi 16.943 KK dengan nilai Rp 400 miliar. Ternak unggas sejumlah 74.000 ekor dengan nilai Rp 4 miliar. Penerima kredit KKPE Peternakan telah berjumlah 886 kelompok dengan nilai Rp 95 miliar dan KUPS dengan peserta 106 orang dengan nilai Rp 52 miliar, selain itu berbagai pihak dan pemangku kepentingan ikut juga terlibat dalam pengembangan ternak di Sumatera Barat.

Sementara itu tahun 2012 terjadi lagi penambahan plafon KUPS sebanyak 10 Miliar, mengutip dari pemberitaan situs www.antarasumbar.com , kata Kepala Dinas Peternakan Sumbar, Edwardi, data dari realisasi KUPS diterima Disnak Sumbar dari bank-bank penyalur, secara keseluruhan sebesar Rp27,53 miliar lebih, khusus Bank Nagari plafon sebesar Rp23,27 miliar dan Bank Nagari Syariah dengan plafon senilai Rp1,75 miliar, kini sudah terealisasi sebesar Rp23 miliar.

Nilai yang disebutkan diatas merupakan angka yang luar biasa untuk bantuan kepada masyarakat dibidang peternakan, sangat besar peluangnya untuk menciptakan energy terbarukan dari puluhan ribu bantuan ternak yang sudah di kucurkan dalam bentuk KKPE dan KUPS, namun agaknya pergerakan kepada penciptaan energy biogas dengan memanfaatkan hewan ternak ini, belum sepenuhnya dilakukan atau bisa jadi belum dilakukan sama sekali.

Alangkah baiknya kita mulai mengembangkan alternative energy biogas ini, untuk mengantisipasi pencabutan penuh subsidi Gas dan BBM yang setiap hari menghantui ekonomi rakyat, lalu bagaimana cara kita yang di Sumatera Barat ini memulainya, kita simak pada artikel selanjutnya.
Potensi Biogas Sumatera Barat
(Foto : Sapi ternak P3L Dharmasraya)

Selasa, 14 Oktober 2014

Potensi Pemanfaatan Bioteknologi pada Bidang Pertanian, Keuntungan dan Issue Kerugian

Bioteknologi tanaman pada hakikatnya adalah perluasan dari teknik pemulian tanaman tradisional. Akan tetapi, berbeda dengan pemuliaan tradisional, yang dalam prakteknya melibatkan ratusan bahkan ribuan gen, maka teknik bioteknologi memungkinkan hanya mentransfer satu atau beberap gen saja yang dikehendaki. Dengan demikian teknik bioteknologi memiliki tingkat akurasi yang lebih tingi dan lebih terkendali sehinga memungkinkan para pemulia tanaman bekerja dengan lebih tepat untuk mengembangkan tanaman dengan sifat-sifat yang menguntungkan dan membuang sifat-sifat yang tidak dikehendaki.

A. Keuntungan Bioteknologi Tanaman
Bioteknologi tanaman memberikan keuntungan pada berbagai aspek kehidupan mulai dari kesehatan, lingkungan maupun industri. Khusus di dibidang pertanian, beberapa keuntungan yang dapat diperoleh adalah:

1. Memberikan efisiensi produksi yang lebih tinggi
Hasil tanaman bioteknologi dapat mengatasi ancaman kekurangan pangan dunia di masa depan sebagai akibat pertumbuhan penduduk dunia semnetara luas lahan untuk produksi pertanian tidak bisa bertambah atau bahkan cenderung berkurang.

2. Pengurangan pencemaran lingkungan
Teknik bioteknologi tanaman membuka kemungkinan untuk menghasilkan tanaman-tanaman resisten dan toleran terhadap hama dan penyakit, sehingga penggunaan pestisida untuk mengatasi kedua masalah tersebut dapat diminimalkan, bahkan pada kondisi-kondisi tertentu dapat dihilangkan sama sekali.

3. Diperolehnya tanaman yang lebih adaptif pada kondisi lingkungan marginal
Bioteknologi tanaman memungkinkan untuk merancang tanaman-tanaman yang lebih adaptif pada lingkungan dimana kondisinya mraginal, seperti lingkungan dengan pH rendah atau tinggi, kadar logam-logam berat seperti aluminium, besi, mangan dan mineral lainnya yang tinggi, kekeringan, tingkat salinitas yang tinggi serta kondisi cuaca yang kurang mendukung bagi pertumbuhan tanaman.

4. Peningkatan kualitas produk pertanian
Kualitas produk pertanian dapat ditingkatkan dengan menggunakan teknik bioteknologi tanaman. Kandungan bilai nutrisi produk pertanian seperti vitamin dapat ditingkatkan pada tanaman-tanaman tertentu. Di sisi lain, senyawa-senyawa tertentu dari suatu produk pertanian dapat diminimalkan atau bahkan dihilangkan karena dapat menyebabkan alergi atau penyakit-penyakit lainnya seperti senyawa asam lemak jenuh.

5. Menjadikan tanaman sebagai pengganti sumber energi dan bahan baku alternatif
Bioteknologi tanaman memungkinkan untuk menciptakan tanaman-tanaman yang dapat digunakan sebagai biofarming untuk menghasilakn bahan baku industri seperti bioplastik, kosmetik, biopestisida dan sebagainya yang bersifat ramah lingkungan.

B. Issue Kekhawatiran Potensi Bahaya Bioteknologi
Issue negatif terhadap penerapan biotekbologi tanaman adalah adanya potensi bahaya terhadap organisme non-target. Gen-gen resisten diselipkan pada salah satu organisme dikhawatirkan akan terlepas secara bebas di alam dan terintegrasi dengan mikrorganisme sehingga mempercepat perkembangan resistensi organisme terhadap pestisida. Namun demikian, sejauh ini kekhawatiran tersebut masih berupa dugaan belaka dan belum menunjukkan adanya bukti yang terukur sevara keilmuan.

Kekhawatiran lainnya adalah adanya transfer pollen dari tanaman transgenik kepada populasi tanaman lain non-transgenik yang bersifat berpenyerbukan silang (out crossing). Untuk mengatasi hal tersebut, saat ini sedang dipikirkan upaya pengintegrasian gen asing ke dalam organel kloroplast. Oleh karena pewarisan kloroplast biasanya bersifat maternal (maternal inheritance), maka diharapkan penyebaran gen asing yang tidak terkendali akibat penyebaran pollen di alam dapat dicegah.

menanam-tanaman
(Sumber foto: sains.kompas.com)

Selasa, 12 Agustus 2014

Kualitas Sayuran Pertanian (PKL - Perawatan Kasihsayang Lembut)

Kualitas sayuran tergantung dari beberapa faktor yang bila dikombinasikan akan menentukan dapat diterima atau tidaknya hasil pertanaman oleh pembeli atau konsumen. Kualitas sayuran ini terbagi dalam beberapa kategori yang berbeda seperti:
1. Sifat-sifat yang mudah teramati (dirasakan) seperti kenampakan fisik, warna, tekstur dan ketegaran (turgidity);
2. Sifat-sifat yang kurang mudah diamati (dirasakan) seperti dari aroma dan nilai gizi.

Kualitas sayuran adalah sifat yang tidak stabil yang harus dipertahankan selama suatu jangka waktu tertentu. Usaha untuk mempertahankan kualitas sayuran yang demikian ini akan dapat menguntungkan siapapun dalam rantai produksi hingga konsumen: seperti petani, pedagang perantara, bahkan konsumen sekalipun. Produsen akan diuntungkan dari tambahan pendapatan karena kerugian yang telah ada akan berkurang dari harga setiap unit hasil sayuran yang terjual. Perantara seperti pedagang pengumpul dan pedagang pengecer juga akan mendapatkan keuntungan dalam pengertian finansial, karena perlindungan konsumen atau pelanggan terjamin karena konsumen mendapatkan nilai tambah untuk uangnya maupun keuntungan gizi dari produk yang baik.

Kemerosotan Kualitas Pada Sayuran yang Dipanen
Masalah kemerosotan kualitas sayuran dimulai selama periode pertumbuhan dan berlangsung sampai sesudah hasil dipanen, karena hasil panen itu secara fisiologi masih aktif. Berbagai faktor dalam dan luar menentukan laju kemerosotan dan kehilangan kualitas. Terbagi dalam tiga kategori: pra panen, panen dan pasca panen.

Faktor-Faktor Pra Panen
Meliputi kondisi lingkungan yang berlaku selama pertumbuhan, tingkat kemasaman pada waktu panen, hama dan penyakit tanaman, kultivar yang ditanam, dan tindakan-tindakan budidaya yang digunakan.

Faktor-Faktor Panenan dan Pasca Panen
Cara pemanenan, baik secara mekanik maupun secara manual, akan mempengaruhi  tingkat dan tipe pelukaan, kememaran, dan sayatan yang terjadi. Bagian-bagian yang rusak demikian itu merupakan titik-titik masuk bagi jasad renik yang dapat menurunkan kualitas, atau lubang-lubang kehilangan air yang lebih besar dan selanjutnya penurunan ketegaran (turgidity) terutama pada sayuran daun.

Jadi pada dasarnya, cara-cara memperbaiki pemanenan, penanganan, penyimpanan, dan angkutan sayuran dapat disimpulkan sebagai ketentuan dari PKL - Perawatan Kasihsayang Lembut, dan di negara-negara sedang berkembang yang mungkin belum memiliki gudang berpendinginan atau angkutan berpendinginan ini mungkin merupakan faktor yang paling penting dalam kualitas sayuran pasar.


Menanam - Tanaman
(Sumber foto: brzns.blogspot.com)

Jumat, 01 Agustus 2014

Cara Bertanam Kubis (Brassica oleracea)

Budidaya
Kubis dapat ditanam dihampir semua jenis tanah dan sangat toleran pada tanah lempng berat. Kubis juga tanggap baik terhadap kapur, dan tentu saja hal ini akan mengurangi penyakit akar pekuk. Membudidayakan tanaman Kubis (Brassica oleracea) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Benih terlebih dahulu harus disemaikan dalam kotak-kotak atau kantong-kantong kertas ataupun polybag yang berisi tanah di pembibitan dan dipindahtanamkan pada umur empat minggu. Polybag dengan ukuran kira-kira 6 x 4  cm sesuai untuk semai dengan umur 3 - 4 minggu, atau dapat juga dibiarkan lebih lama jika jarak antar polybag dijauhkan jaraknya sekitar 8 cm. 

2. Berikan siraman ringan untuk menghindari penyakit rebah semai dan atau perlakuan tanah dengan thiram atau captan. Tanah dapat juga disterilisasikan dengan panas. Sangat dianjurkan untuk menggunakan perlakuan (perawatan) benih seperti menggunakan thiram atau Ceresan (kalomel bila terdapat penyakit akar pekuk), terutama bila sumber benih tidak diketahui.

3. Setelah pemindahtanaman, tanaman semai harus diberikan naungan selama kira-kira satu minggu. Setelah tumbuh dengan baik, penyiraman rutin secara teratur akan mendorong pertumbuhan kubis. Varietas-varietas tertentu seperti "Y.R. Cross" dan "K.k. Cross" tidak dianjurkan untuk ditanam pada tanah gambut karena adanya kecendrungan timbulnya penyakit busuk hati di tanah tersebut, meskipun telah diberikan tambahan boron dan pemupukan yang cukup. Varietas terbaik untuk tanah demikian adalah "Spring Light". Kompos dan bahan organik busuk juga baik untuk kubis dengan takaran 20 ton/ha per tahun, sebagai tambahan pada pupuk anorganik. Kapur diperlukan sebanyak 2 ton/ha yang dapat bertahan sampai beberapa tahun kecuali jika tanahnya sangat masam.

Perlindungan Tanaman
Penyakit akar pekuk (Plasmodiophora brassicae) yang dapat masuk dalam biji, merupakan penyakit penting dan pengendaliannya yang terbaik masih dengan menggunakan 'kalomel' (merkuri klorida), yang juga dapat memberikan perlindungan terhadap tempayak akar. Pemberian kapur juga dapat menghalangi penyakit akar pekuk. Di daerah yang bebas penyakit akar pekuk, perlakuan benih dengan thiram mungkin dapat digunakan untuk melindungi terhadap penyakit terbawa benih lain. Alterinaria brassicae dan A. brassicicola adalah penyakit daun yang umum merusak kubis dan penyakit kaki hitam (Leptophaeria maculans) dapat menjadi penyakit penting di daerah tropika pada ketinggian yang lebih tinggi. Higiene atau kebersihan, benih dan perlakuan benih akan dapat mengendalikan semua penyakit tersebut.

Dua penyakit bakteri penting lainnya adalah penyakit busuk hitam (Xanthomonas campestris) dan penyakit busuk buah (Erwinia spp.). Keduanya dapat menyebabkan pembusukan seluruh bagian tanaman. Pergiliran tanaman, kebersihan lahan serta benih yang bersih adalah hal mutlak. Perlakuan air panas pada benih (25 menit pada suhu 50 derajat celcius untuk kubis atau 15 menit untuk Cruciferae lainnya) ditambah perlakuan benih dengan senyawa merkuri akan menghilangkan bakteri.

Hama tropika utama adalah ulat punggung intan (Plutella xylostella). Berbagai insektisida akan mengendalikannya sama baiknya dengan Bacillus thuringiensis, suatu bakteri pengendali hayati. Serangga dapat cepat menjadi tahan terhadap insektisida kimia dan akan bijaksana untuk menggunakan insektisida berbeda secara bergantian, terutama yang berasal dari kelompok insektisida yang berbeda. Perangkap cahaya di dekat bedengan dengan baskom yang berisi air di bawahnya akan menangkap ngengat dalam jumlah besar. berbagai kumbang pemakan daun, ulat dan afid merupakan hama umum dan dapat dikendalikan dengan berbagai zat kimia.

Pada tanah gambut, penyemprotan hara mikro dan borak mungkin diperlukan. Untuk pengendalian gulmanya, Amels dan Prefar sudah cukup baik.

menanam - tanaman
Penyakit busuk hitam
(Sumber foto: trubushijau.blogspot.com)

Minggu, 20 Juli 2014

Memelihara Semai Di Persemaian

Kebanyakan sayuran berbiji halus di daerah tropika pertama kali ditumbuhkan dalam persemian dan kemudian dipindah tanamkan. Ada beberapa faktor yang dapat mempengarui keberhasilan persemaian, seperti:

Naungan
Persemaian sayuran paling baik dibuat di bawah naungan. Suatu keangka pancang dengan tinggi melebihi kepala orang dewasa yang menopang penutup plastik sudah cukup untuk keperluan ini. Penutup harus mempunyai bubungan yang cukup untuk menghindari berkumpulnya air hujan dan harus dilindungi terhadap tiupan angin dengan jaring kawat. Lembaran plastik pertanian modern yang cocok untuk tujuan ini adalah yang tahan terhadap sinar ultraviolet dan tahan sampai beberapa tahun. Lembaran atau jaring plastik ringan akan memberikan sekedar naungan (shade), tetapi idak boleh melebihi 40%. Lembaran plastik untuk naungan dapat dianjurkan karena juga dapat memberikan perlindungan semai terhadap hujan.

Tanah
Tanah untuk kotak-kotak benih atau untuk mengisi kantong polybag harus merupakan cmpuran pasir, geluh dan bahan oganik dalam keseimbangan yang tepat, yang memugkinkan pengatusan yang baik. Campuran yang cocok terdiri atas dua bagian (menurut volume) geluh, satu bagian pasir dan satu bagian kompos, gambut, sabut kelapa atau bahan organik lain yang cocok. Jika lempung yang digunakan menggantikan geluh, kandungan pasirnya harus ditambah. Tanah harus diaduk dan disaring untuk membuang gumpalan-gumpalan. Untuk setiap meter kubik tanah, harus dicampurkan 2 kg pupuk dengan susunan 12:12:17:2 atau pupuk majemuk yang sama, secara merata: pupuk harus dihaluskan untuk mencegah adanya gumpalan-gumpalan.

Transplanting (Pemindah tanaman)
Taraf yang tepat untuk pemindahan bervariasi menurut kerapatan penyebarannya atau ukuran wadahnya dan menurut ketegaran atau pertumbuhan semainya. Jika menggunakan kantong kertas bergaris tengah 2,5 - 3 cm dan panjang 5 - 7 cm, semai akan siap tanam pada umur tiga atau empat minggu. Jika dipindahtanam sebagai semai cabutan diperlukan naungan pada waktu hari panas selama minggu pertama.

Waktu yang tepat untuk mencabut dan menanam semai ke tanah adalah ada saat menjelang siang hari kurang lebih pukul 09.00 sampai pukul 12.00 karena tanaman sudah memasak makanannya sehingga ketika dipindahtanam tanaman akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

menanam-tanaman
(Sumber foto: pengertian-definisi.blogspot.com )

Kamis, 17 Juli 2014

Pembuatan Bedengan di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi

Daerah Datar (Daerah Dataran Rendah)
Daerah datar memiliki masalah yang paling kecil jika dilihat dari segi pembuatan bedengan, tetapi sangat mutlak diperlukan untuk terjaminnya pembuangan air yang baik. Pengatusan yang baik dapat dicapai jika dibuatkan parit-parit pengatusan lapangan menuju ke saluran-saluran pengatus alami dan bedengan-bedengan yang relatif tinggi untuk pertanaman sayuran. Parit-parit pengatusan biasanya dibuat menurut pola kisi-kisi (grid pattern). Di daerah yang bercurah hujan tinggi dimana periode kering bukan merupakan masalah, airnya seharusnya selalu tersedia untuk pengairan setiap waktu, tetapi di daerah yang mengalami kekurangan air secara berkala, diperlukan adanya sekat-sekat (tile bunds) sepanjang parit pengatusan untuk meningkatkan penerimaan curah hujan. Dalam hal ini pembuatan guludan dan paliran leboih baik digunakan daripada bedengan yang lebar (bedengan dengan lebar 1 m atau lebih) karena hal ini akan memberikan kemudahan bagi tanaman untuk mencapai air. Di tanah yang sangat rendah, harus dibuatkan bedengan cembung.

Daerah Berbukit (Daerah Dataran Tinggi)
Daerah berbukit seringkali diteras untuk banyak tipe budidaya sayuran. Ini terutama disebabkan karena bedengan memerlukan perhatian lebih untuk semua produksi sayuran pasar, dan jalan masuk ke lahan pertanaman tidak mudah apabila tidak dibuat teras-teras. Pertanaman dengan barisan-barisan berjarak lebar dapat diusahakan dalam barisan tunggal sepanjang lereng bukit.

Pembuatan bedengan menurut menurut garis tinggi diperlukan di daerah berbukit untuk mencegah erosi tanah, yang dapat sangat parah jika tanah diolah naik dan turun bukit. Bedengan dapat dibuat pada teras yang telah dibuat terlebih dahulu atau dapat dibuat sehingga permukaan bedengan sesuai dengan kemiringan umum bukit. Hal ini umumnya dilakukan pada kemiringan yang lebih kecil.

Dalam pembuatan bedengan atau teras perlu dibedakan antara tanah-tanah yang tidak stabil, seperti yang berbahan induk batu lempung (shale) dan batuan pasir dengan tanah-tanah yang stabil sperti tanah-tanah granit dan basalt. Tanah yang pertama membutuhkan pengelolaan yang jauh lebih cermat. Masalah utama pada tanah-tanah tersebut di daerah berbukit adalah kecenderungannya untuk tererosi. Di daerah datar hal ini hanya akan mengakibatkan rebahnya tanaman, tetapi di daerah berbukit resiko tanah longsor sangat besar. Oleh karena itu, dalam perhitungan curah hujan tinggi, teras harus dibuat sedemikian rupa agar mendorong aliran permukaan yang cukup tetapi sekaligus akan menghindari erosi tanah. Di daerah yang curam harus dibuat teras-teras bangku dengan kemiringan 1 - 2o sepanjang teras, dengan lubang-lubang unutk pengatusan pada selang jarak yang tepat. Lubang-lubang ini harus dilindungi terhadap erosi, dengan membuat pintu air dari batu atau semen atau bisa juga dengan membuat daerah pembuangan yang cukup berumput. Pertumbuhan rumput dalam saluran pengatusan dapat dikendalikan dengan pembabatan secara berkala, dan hasilnya dapat dijadikan sumber bahan mulsa. Erosi bedengan pada teras juga dapat dikurangi dengan pemulsaan. Sebaiknya penggunaan tanah-tanah tak stabil, usaha tani sayuran dibatasi pada derah yang kurang curam, tetapi sayangnya dalam praktik, lereng-lereng yang sangat curam kadang-kadang digunakan untuk budidaya sayuran di daerah tropika. Biasanya usaha tani sayuran semacam ini terletak di stasiun pegunungan (hill station) dimana jenis sayuran iklim sedang yang bernilai ekonomi tinggi dapat diusahakan. Persiapan lahan yang mahal, tetapi produksi sayuran dekat dengan pasar yang sesuai biasanya menguntungkan dan dapat menutup biaya awal yang tinggi. 

Pada tanah-tanah granit dan vulkanik/gunung berapi, lereng yang lebih curam dapat diusahakan dengan aman dan tindakan-tindakan pencegahan yang seksama terhadap longsornya tanah umumnya tidak diperlukan.

menanam-tanaman
Gambar bedengan/teras pada daerah berbukit
(Sumber foto: pkm.openthinklabs.com)

Rabu, 16 Juli 2014

Kapur, Pengapuran Tanah Masam untuk Meningkatkan pH Tanah

Di daerah-daerah tropika kebanyakan tanahnya bersifat masam, karena pengaruh curah hujan yang tinggi sehingga basa-basa dapat tukarnya tercuci. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemasaman  tersebut adalah dengan melakukan pengapuran jika akan dilakukan usaha pertanaman sayuran, terutama untuk kerabat Cruciferae (kerabat kubis, kubis bunga dan sebagainya). Tanah-tanah yang terutama membutuhkan kapur adalah tanah Oxisol, Alfisol dan Ultisol yang mengalami pencucian berat. Tanah gambut dataran rendah dan tanah sulfat masam pesisir (sering terdapat bersamaan) tidak dapat digunakan untuk lahan pertanian tanpa terlebih dahulu diberikan kapur, karena pada tingkat kemasaman dibawah sekitar pH 5,5, ion-ion aluminium dan pada bebberapa ion-ion tanah magnesium, dibebaskan dari mineral-mineral lempung dan beracun bagi kebanyakan jenis tanaman.
Kapur, Pengapuran Tanah Masam untuk Meningkatkan pH Tanah
(Ilustrasi)
Banyaknya kapur yang dibutuhkan untuk tanah dan pertanaman tropika berbeda dengan yang telah lazim berlaku di Amerika utara dan Eropa. Ini disebabkan karena tanaman tropika dan varietas-varietasnya teradaptasi lebih baik pada tanah-tanah masam daripada tanaman iklim sedang. Rizobia kacang-kacangan tropika, seperti dari kelompok kacang tunggak yang kadang-kadang digunakan untuk menginokulasi akar legum (kacangan) lain, dapat berfungsi pada tingkat pH yang lebih rendah.

Takaran pupuk yang dianjurkan bervariasi menurut  pH. Pada tanah yang sangat masam seperti tanah-tanah sulfat masam (Tanah sulfat masam biasanya adalah tanah yang terbentuk di daerah pantai), mungkin diperlukan sebanyak 5 ton/ha selama beberapa tahun untuk menetralkan asam yang terbentuk pada waktu pengairan atau pengatusan. Kebanyakan tanah tropika dengan pH dalam kisaran 5,0 sampai 5,5, akan lebih baik jika diberika perlakuan pengapuran kira-kira 1 ton/ha kapur.

Manfaat utama dari kapur adalah sebagai berikut:
1. Kapur meningkatkan mineralisasi nitrogen organik dalam, sisa-sisa tanaman, membebaskan nitrogen sebagai ion ammonium dan nitrat yang demikian tersedia bagi tanaman.
2. Kalsium dan magnesium, yang merupakan unsur pokok utama kapur, adalah hara esensial yang dapat membatasi pertumbuhan tanaman pada tanah-tanah tropika masam.
3. Pada tanah lempung masam, kapur dapat membantu memperbaiki kegemburan tanah dengan meningkatkan struktur remah atau gembur.

Tetapi tanah-tanah tropika dengan nilai pH lebih besar dari 6, tidak akan mendapatkan manfaat dari kapur bahkan pengapuran dapat merugikan atau merusak.

Bahaya pengapuran yang berlebihan dapat menampakkan diri dalam bentuk-bentuk sebagai berikut:
1. Tanaman menjadi klorotik (kuning atau pucat) karena kekurangan zat besi.
2. Seng, tembaga, mangan dan boron dapat menjadi kurang terlarutkan dan dengan demikian akan kurang tersedia bagi tanaman.
3. Fosfor dan molibdenum dapat menjadi kurang tersedia karena pH yang meningkat.

Cara paling lazim untuk mengatasi pengapuran yang berlebihan adalah dengan pemberian bahan organik, seperti pupuk organik hewani dalam jumlah yang besar.

Dalam usaha budidaya sayuran, karena tanah sering diolah, kapur dapat diberikan dalam takaran terbatas pada setiap pertanaman sampai kemudian pH tanah mencapai nilai 6. Beberapa pertanaman, terutama kerabat kubis sangat tanggap baik terhadap kapur dan takaran yang lebih tinggi biasanya menguntungkan, bahkan pada tanah yang relatif tidak masam.

Kapur harus disebarkan merata pada bedengan dan dibenamkan pada waktu pengolahan tanah bedengan.


Selasa, 15 Juli 2014

Pemulsaan Sebagai Suatu Perlakuan Budidaya Tanaman

Pemulsaan adalah penutupan tanah dengan sisa-sisa tanaman, jerami, sekam, potongan rumput dan bahan sisa lainnya. Pangkasan dari semak-semak legum (seperti semak penahan angin dari Sesbania atau Leucaena) menghasilkan mulsa yang sangat baik karena kandungan nitrogennya yang tinggi sehingga dapat menambah nitrogen tanah. 

Sekam padi tidak begitu efektif di lokasi yang berangin. Beberapa petani hanya menggunakan pupuk kandang dan kompos sebagai bahan mulsa, tetapi ini tidak dianjurkan karena banyak dari nitrogennya akan hilang bila pupuk kandang tidak dicampurkan atau dibenamkan ke dalam tanah. Lembaran plastik hitam kadang-kadang juga digunakan untuk menutup tanah, ini bermanfaat di daerah dataran tinggi tetapi di daerah dataran rendah tropika perlakuan ini dapat menjadi sangat panas untuk tanah dan tanaman. 

Adapun efek atau pengaruh utama mulsa untuk tanah dan tanaman adalah sebagai berikut:

1. Mulsa melindungi tanah atasan atau top soil dari erosi dan kehilangan struktur yang disebabkan oleh curah hujan yang lebat. Kehilangan struktur dan pergerakan tanah dapat sangat menghambat munculnya semai.

2. Kehilangan lengas berkurang sehingga perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman lebih meningkat.

3. Peningkatan suhu tanah yang tinggi dapat dikurangi.

4. Setelah mengalami dekomposisi atau penguraian, mulsa dapat menambah kandungan bahan organik tanah yang tergantung dari nisbah C/N-nya, dapat memperbaiki atau menahan hara (jika digunakan mulsa berkarbon tinggi seperti jerami, diperlukan tambahan nitrogen untuk menguraikannya sehingga cukup untuk pertumbuhan tanaman berikutnya, diperlukan sekitar 20 g/m pangkat 3 urea.

5. Untuk dampak yang lebih luas, walaupun tidak selalu dapat diasumsikan sama, pemulsaan dapat mengurangi pertumbuhan alang-alang yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Catatan: plastik hitam sangat efektif untuk mencegah pertumbuhan alang-alang.

menanam-tanaman
Leucaena atau lamtoro, semak penahan angin yang baik untuk mulsa
(Sumber foto: wildlifeofhawaii.com)