Tampilkan postingan dengan label kualitas sayur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kualitas sayur. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2015

Panduan Praktis Pengelolaan Tanah untuk Bertanam Sayuran

COLLECTIE TROPENMUSEUM 'Bemestingsproef van bi...
COLLECTIE TROPENMUSEUM 'Bemestingsproef van bibit in ingegraven potten TMnr 10012056 (Photo credit: Wikipedia)
Tanah walaupun dilihat sepintas sama, tetapi memiliki sifat-sifat yang berbeda antara satu jenis tanah dengan jenis tanah yang lainnya. Bahkan, dalam setiap jengkal tanah memiliki sifat yang berbeda, apalagi jikalau tanah tersebut berbeda tempat. Oleh karena itu, ketika kita hendak bertanam sayuran harus diperhatikan cara pengelolaan tanah tersebut, khususnya dalam segi karakteristik wilayah. Berikut panduan praktis dalam pengelolaan tanah.

Tipe tanah dan pengolahan Lahan

Tipe tanah yang dimaksud disini adalah sifat kimia dari tanah tersebut seperti apakah terlalu banyak mengandung pasir, debu (lempung) ataukah terlalu banyak mengandung liat. Tipe tanah dan lahan utama yang mungkin dihadapi dalam usaha pertanian sayuran di daerah tropika khususnya adalah sebagai berikut:

Areal atau daerah datar atau lempungan rendah dengan pengelolaan sebagai masalah utama. Daerah demikian dapat terdiri dari beberapa jenis tanah Inceptisol, Entisol (yang merupakan tanah-tanah muda yang masih berkembang), Mollisol (tanah-tanah lunak atau tanah dengan solum dangkal), tanah Vertisol (tanah dengan sifat plastis yang mudah mengembang dan mengerut), dan di kawasan dengan intrusi garam serta tanah Aridisol (tanah di daerah dengan curah hujan yang rendah atau kering). Kebanyakan tanah ini adalah tanah masam (pH di bawah 7), tetapi tanahVertisol dan Aridisol dapat mendekati netral atau basa. Kebanyakan tanah-tanah tersebut berasal dari fraksi yang sangat mudah lapuk daribahan induknya dan sangat sukar dikelola, kecuali Vertisolyang berasal dari bahan induk basalt. Beberapa tanah marin atau tanah di daerah pantai, bila dikelola, dapat menjadi sangat masam (tanah sulfat masam). Beberapa daerah rendah mungkin juga mempunyai lapisan gambut di lapisan subsoilnya. 

Tanah-tanah pasir koluvial, daerah dengan kontur datar atau sedikit berbukit dengan pengatusan yang lebih baik, atau terbentuk dari hasil endapan sedimen di dekat atau diantara bukit-bukit atupun didaerah atas dataran banjir (flood plain). Beberapa tanah koluvial berasal dari bahan letusan gunung api atau batu kapur sehingga dari segi pengolahannya lebih mudah ditangani.
Tanah-tanah pedalaman berbukit, mencakup daerah landai sedang sampai curam yang dalam pengelolaannya memerlukan penterasan konstruksi bedengan untuk budidaya sayuran. Tanah dalam kategori ini adalah tanah Oxisol, Alfisol dan Ultisol. Tergantung bahan induknya, tanah-tanah ini dapat mudah atau sukar diolah dan mantap atu sangat peka terhadap erosi

Banyak tanah dataran yang mengandung fraksi debu yang sangat mudah lapuk memiliki sifat yang kurang baik, yaitu mengeras jika kering. Sifat ini akan menghalangi pertumbuhan semai dan memerlukan pengolahan permukaan tanah yang intensif untuk memecah keraknya. Untuk pengolahan tanah jenis ini dapat digunakan mulsa untuk menjaga agar permukaan tanah tetap basah. 

Tanah-tanah tersebut juga dapat menjadi sangat lekat dan sukar diolah ketika basah. Dalam kondisi basah, juga sangat sulit untuk berjalan atau menggunakan peralatan di tanah tersebut, karena tanah melekat pada alas kaki dan roda kendaraan serta mesin-mesin. Untuk melakukan kegiatan pertanian sangat diperlukan papan-papan untuk berjalan. Ini dapat berupa papan pendek biasa yang panjangnya 1-2 m, dilengkapi dengan gelang-gelang kaki sehingga dapat dipindah-pindahkan atau dibuat permanen. 

Masalah utama lainnya (khususnya pada tanah lempung dan berpasir) adalah kerentanannya yang besar terhadap erosi. Hujan lebat selama beberapa hari dapat melarutkan banyak tanah. Oleh karena itu, solusi untuk masalah ini adalah penggunaan mulsa. Pemberian mulsa organik pada bedengan yang baru ditanami selalu menguntungkan pada tanah yang bertekstur halus. Pada akhirnya, mulsa akan terurai tetapi pada saat itu tajuk tanaman akan sudah menutup tanah dengan baik. Bila bedengan diberi mulsa jerami, kompetisi gulma akan ditekan selama beberapa minggu sesudah pengolahan tanah. Setelah itu, apabila tanaman tumbuh baik, mulsa boleh di sisihkan karena sudah tidak dibutuhkan lagi untuk menutup permukaan tanah.

Panduan Praktis Pengelolaan Tanah untuk Bertanam Sayuran

Minggu, 23 November 2014

Bahaya Sayur dan Buah berpestisida

Buah dan sayur merupakan makanan yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan tubuh dan paling baik untuk kesehatan, buah mengandung zat gizi vitamin dan mineral penting untuk metabolisme tubuh dan meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit dan infeksi.

Sayur mengandung serat dan vitamin, serat penting untuk memudahkan proses buang air besar atau defikasi, dan mencegah kanker saluran cerna.

Warna yang ada pada buah tidak saja menarik, tetapi merupakan pertanda bahwa sayur dan buah tersebut mengandung vitamin yang cukup banyak.

Vitamin pada umumnya mudah rusak atau tidak stabil, penyimpanan yang lama atau proses pemanasan untuk tujuan pemasakan misalnya, akan banyak menghancurkan vitamin seperti vitamin C, vitamin A, vitamin D dan vitamin E, perubahan warna sayur dan buah sebetulnya menunjukkan tingkat kerusakan vitamin yang ada, dengan demikian mengkonsumsi sayur dan buah dalam keadaan segar akan memberikan zat gizi yang optimal.

Namun dibalik itu bila sayur dan buah tidak dicuci bersih justru akan menyebabkan masalah, sayur dan buah bisa saja tidak bersih dan tercemar bahan kimia tertentu, pada sayur yang tidak bersih bisa tercemar oleh tanah, dan kotoran, baik pada saat pemanenan, pengangkutan, penyimpanan, pendistribusian maupun pada proses pemasakan.

Kotoran yang menempel pada sayur bisa saja mengandung senyawa yang beracun atau juga dapat mengandung kuman yang berbahaya bagi tubuh, senyawa beracun yang ada dalam kotoran dari tanah biasanya dari logam berat, disamping itu saat ini pada umumnya petani menyemprot sayur dan buah dengan pestisida.

Ada pula buah yang disuntik dengan larutan pemanis buatan dan tidak tertutup kemungkinan dengan zat warna yang tidak diizinkan, disamping itu ada juga pestisida yang masuk atau diserap kedalam sayur, sehingga tidak akan hilang pada saat pencucian.

Hal-hal inilah yang menakutkan bila tidak dicegah atau ditanggulangi dengan baik, konon ada info sayur dan buah yang berasal dari negara kita ditolak oleh pihak pengimport di luar negeri.

Saat ini dengan adanya alat-alat canggih semua jenis pestisida atau senyawa kimia lainnya dapat diketahui dengan mudah dan cepat, walaupun dalam kadar yang sangat kecil. Petani kita tampaknya menggunakan pestisida dengan jumlah dan cara yang kurang tepat.

Berbagai sayur dan buah diketahui mengandung residu (sisa) pestisida, pestisida adalah senyawa kimia atau berupa jasad renik yang penggunaannya ditujukan untuk mengendalikan berbagai hama, hama mengandung pengertian yang luas, ia dapat berupa mikroorganisme atau mahluk kecil seperti jamur, bakteri, virus dan nematoda, atau berupa serangga, tungau, siput, tikus, burung serta hewan atau tumbuhan pengganggu lain yang merugikan.

Pengendalian hama antara lain bertujuan untuk memberantas atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman atau hasil pertanian, memberantas gulma, mematikan daun dan mencegah pertumbuha tanaman yang tidak diinginkan, memberantas atau mencegah hama air, mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman, kecuali yang tergolong pupuk. Memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah tangga, serta memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.

Jika sisa pestisida tersebut terlalu banyak dikonsumsi, maka lambat laun akan menumpuk dan dalam waktu jangka panjang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan, beberapa masalah yang mungkin akan muncul karena adanya sisa pestisida yang berbahaya jika dikonsumsioleh tubuh terlalu banyak antara lain pemicu timbulnya penyakit kanker, mutasi genetik, dan reaksi alergi serta iritasi. Beberapa pestisida yang dapat bertindak sebagai pencetus penyakit kanker antara lain adalah ; Aldrin, dieldrin, prathion, carbaryl, lindane, DDT, endosulfan, dan formaldehyde.

Pestisida yang dapat memicu mutasi genetik pada tubuh antara lain Fenitrithion, carbaryl, DDT, dicrotovos, captan, dan monocrotophos, sementara beberapa pestisida yang bersifat alergen dan iritan antara lain adalah lindane, malathion, parathion, dan mancozeb.

Pestisida pada buah dan sayur bisa berbahaya bagi janin yang ada dalam kandungan, hamil adalah keadaan yang ditunggu-tunggu oleh pasangan yang baru menikah, kehadiran sang buah hati merupakan kebahagiaan yang tiada taranya bagi kebanyakan orang, sudah barang tentu si buah hati yang diinginkan adalah yang lengkap semua organ dan anggota tubuhnya serta sehat dengan tumbuh kembang yang baik. Memilih makanan sehat merupakan syarat mutlak untuk tumbuh kembang janin, buah dan sayur penting bagi kesehatan tubuh, apalagi bagi ibu hamil, menyusui sekaligus untuk janin atau bayinya, bila sayur dan buah mengandung pestisida dimakan oleh ibu hamil atau menyusui akan berbahaya bagi janin atau bayinya, ibu hamil harus memastikan sayuran yang dimakannya bebas dari pestisida dan bersih dari kotoran sebelum mengkonsumsinya.

Sayur dan buah yang mengandung pestisida disinyalir sangat mudah dijumpai di pasar, baik pasar tradisional maupun pasar swalayan, adapun ciri-ciri bahan pangan mengandung sisa pestisida bisa terlihat secara kasat mata, mulai dari tekstur fisiknya yakni tampak lebih mengkilap, licin, menarik dan tidak buruk karena bahan pangan, seperti sayur dan buah juka sudah tersemprot pestisida tidak akan berulat, hal ini sangat jauh bebeda dengan sayur organik yang biasanya cepat busuk dan layu jika sudah dipetik dari batangnya dalam jangka waktu hitungan hari atau jam.

Kalau ada bahan pangan organik, sebaiknya pilih saja yang organik ketimbang memilih bahan pangan yang bagus, karena bahan pangan yang dipupuk dengan pupuk kimia juga berbeda dengan bahan pangan yang dipupuk dengan cara organik, bila buah tampak licin dan mengkilat sebaiknya dihindari, ini menunjukkan buah tersebut sudah dilapisi dengan senyawa yang sukar dan tidak larut air. Buah seperti ini harus dicuci bersih, sayur yang semua daunnya terlihat bagus berkemungkinan sudah disemprot pestisida, lebih baik memilih sayur yang sedikit berulat atau tampak bekas dimakan ulat. Bila sayur atau buah memberikan rasa yang aneh yang mungkin berasal dari pestisida atau senyawa kimia lainnya segera hentikan dan amati gejala yang timbul bagi penggunanya.

Gejala tersebut bisa berupa kulit atau mata terasa gatal atau terbakar, pusing, sakit kepala, berkeringat banyak, mual, mencret, gemetar, bahkan pingsan, gejala demikian lebih sering muncul pada petani yang menggunakan pestisida, apabila satu atau lebih gejala tersebut timbul segera lakukan pertolongan pertama dan pergilah ke puskesmas, rumah sakit atau dokter terdekat.

Selasa, 12 Agustus 2014

Kualitas Sayuran Pertanian (PKL - Perawatan Kasihsayang Lembut)

Kualitas sayuran tergantung dari beberapa faktor yang bila dikombinasikan akan menentukan dapat diterima atau tidaknya hasil pertanaman oleh pembeli atau konsumen. Kualitas sayuran ini terbagi dalam beberapa kategori yang berbeda seperti:
1. Sifat-sifat yang mudah teramati (dirasakan) seperti kenampakan fisik, warna, tekstur dan ketegaran (turgidity);
2. Sifat-sifat yang kurang mudah diamati (dirasakan) seperti dari aroma dan nilai gizi.

Kualitas sayuran adalah sifat yang tidak stabil yang harus dipertahankan selama suatu jangka waktu tertentu. Usaha untuk mempertahankan kualitas sayuran yang demikian ini akan dapat menguntungkan siapapun dalam rantai produksi hingga konsumen: seperti petani, pedagang perantara, bahkan konsumen sekalipun. Produsen akan diuntungkan dari tambahan pendapatan karena kerugian yang telah ada akan berkurang dari harga setiap unit hasil sayuran yang terjual. Perantara seperti pedagang pengumpul dan pedagang pengecer juga akan mendapatkan keuntungan dalam pengertian finansial, karena perlindungan konsumen atau pelanggan terjamin karena konsumen mendapatkan nilai tambah untuk uangnya maupun keuntungan gizi dari produk yang baik.

Kemerosotan Kualitas Pada Sayuran yang Dipanen
Masalah kemerosotan kualitas sayuran dimulai selama periode pertumbuhan dan berlangsung sampai sesudah hasil dipanen, karena hasil panen itu secara fisiologi masih aktif. Berbagai faktor dalam dan luar menentukan laju kemerosotan dan kehilangan kualitas. Terbagi dalam tiga kategori: pra panen, panen dan pasca panen.

Faktor-Faktor Pra Panen
Meliputi kondisi lingkungan yang berlaku selama pertumbuhan, tingkat kemasaman pada waktu panen, hama dan penyakit tanaman, kultivar yang ditanam, dan tindakan-tindakan budidaya yang digunakan.

Faktor-Faktor Panenan dan Pasca Panen
Cara pemanenan, baik secara mekanik maupun secara manual, akan mempengaruhi  tingkat dan tipe pelukaan, kememaran, dan sayatan yang terjadi. Bagian-bagian yang rusak demikian itu merupakan titik-titik masuk bagi jasad renik yang dapat menurunkan kualitas, atau lubang-lubang kehilangan air yang lebih besar dan selanjutnya penurunan ketegaran (turgidity) terutama pada sayuran daun.

Jadi pada dasarnya, cara-cara memperbaiki pemanenan, penanganan, penyimpanan, dan angkutan sayuran dapat disimpulkan sebagai ketentuan dari PKL - Perawatan Kasihsayang Lembut, dan di negara-negara sedang berkembang yang mungkin belum memiliki gudang berpendinginan atau angkutan berpendinginan ini mungkin merupakan faktor yang paling penting dalam kualitas sayuran pasar.


Menanam - Tanaman
(Sumber foto: brzns.blogspot.com)