Tampilkan postingan dengan label analisis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label analisis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Agustus 2014

Cara Bertanam Kubis (Brassica oleracea)

Budidaya
Kubis dapat ditanam dihampir semua jenis tanah dan sangat toleran pada tanah lempng berat. Kubis juga tanggap baik terhadap kapur, dan tentu saja hal ini akan mengurangi penyakit akar pekuk. Membudidayakan tanaman Kubis (Brassica oleracea) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Benih terlebih dahulu harus disemaikan dalam kotak-kotak atau kantong-kantong kertas ataupun polybag yang berisi tanah di pembibitan dan dipindahtanamkan pada umur empat minggu. Polybag dengan ukuran kira-kira 6 x 4  cm sesuai untuk semai dengan umur 3 - 4 minggu, atau dapat juga dibiarkan lebih lama jika jarak antar polybag dijauhkan jaraknya sekitar 8 cm. 

2. Berikan siraman ringan untuk menghindari penyakit rebah semai dan atau perlakuan tanah dengan thiram atau captan. Tanah dapat juga disterilisasikan dengan panas. Sangat dianjurkan untuk menggunakan perlakuan (perawatan) benih seperti menggunakan thiram atau Ceresan (kalomel bila terdapat penyakit akar pekuk), terutama bila sumber benih tidak diketahui.

3. Setelah pemindahtanaman, tanaman semai harus diberikan naungan selama kira-kira satu minggu. Setelah tumbuh dengan baik, penyiraman rutin secara teratur akan mendorong pertumbuhan kubis. Varietas-varietas tertentu seperti "Y.R. Cross" dan "K.k. Cross" tidak dianjurkan untuk ditanam pada tanah gambut karena adanya kecendrungan timbulnya penyakit busuk hati di tanah tersebut, meskipun telah diberikan tambahan boron dan pemupukan yang cukup. Varietas terbaik untuk tanah demikian adalah "Spring Light". Kompos dan bahan organik busuk juga baik untuk kubis dengan takaran 20 ton/ha per tahun, sebagai tambahan pada pupuk anorganik. Kapur diperlukan sebanyak 2 ton/ha yang dapat bertahan sampai beberapa tahun kecuali jika tanahnya sangat masam.

Perlindungan Tanaman
Penyakit akar pekuk (Plasmodiophora brassicae) yang dapat masuk dalam biji, merupakan penyakit penting dan pengendaliannya yang terbaik masih dengan menggunakan 'kalomel' (merkuri klorida), yang juga dapat memberikan perlindungan terhadap tempayak akar. Pemberian kapur juga dapat menghalangi penyakit akar pekuk. Di daerah yang bebas penyakit akar pekuk, perlakuan benih dengan thiram mungkin dapat digunakan untuk melindungi terhadap penyakit terbawa benih lain. Alterinaria brassicae dan A. brassicicola adalah penyakit daun yang umum merusak kubis dan penyakit kaki hitam (Leptophaeria maculans) dapat menjadi penyakit penting di daerah tropika pada ketinggian yang lebih tinggi. Higiene atau kebersihan, benih dan perlakuan benih akan dapat mengendalikan semua penyakit tersebut.

Dua penyakit bakteri penting lainnya adalah penyakit busuk hitam (Xanthomonas campestris) dan penyakit busuk buah (Erwinia spp.). Keduanya dapat menyebabkan pembusukan seluruh bagian tanaman. Pergiliran tanaman, kebersihan lahan serta benih yang bersih adalah hal mutlak. Perlakuan air panas pada benih (25 menit pada suhu 50 derajat celcius untuk kubis atau 15 menit untuk Cruciferae lainnya) ditambah perlakuan benih dengan senyawa merkuri akan menghilangkan bakteri.

Hama tropika utama adalah ulat punggung intan (Plutella xylostella). Berbagai insektisida akan mengendalikannya sama baiknya dengan Bacillus thuringiensis, suatu bakteri pengendali hayati. Serangga dapat cepat menjadi tahan terhadap insektisida kimia dan akan bijaksana untuk menggunakan insektisida berbeda secara bergantian, terutama yang berasal dari kelompok insektisida yang berbeda. Perangkap cahaya di dekat bedengan dengan baskom yang berisi air di bawahnya akan menangkap ngengat dalam jumlah besar. berbagai kumbang pemakan daun, ulat dan afid merupakan hama umum dan dapat dikendalikan dengan berbagai zat kimia.

Pada tanah gambut, penyemprotan hara mikro dan borak mungkin diperlukan. Untuk pengendalian gulmanya, Amels dan Prefar sudah cukup baik.

menanam - tanaman
Penyakit busuk hitam
(Sumber foto: trubushijau.blogspot.com)

Jumat, 18 Juli 2014

Cara Membuat Alat Penguji Benih Sederhana untuk Peningkatan Hasil Usaha Pertanian

Salah satu bagian dari proses produksi pertanian yang kadang dianggap sepele tetapi penting untuk mendapatkan hasil pertanian yang baik adalah ketersediaan benih yang bermutu baik. Benih yang baik merupakan hal yang mutlak untuk keberhasilan sistem produksi semua jenis tanaman khususnya untuk sayuran, yang kualitas serta keragaman hasilnya sangat penting dalam hal pemasarannya kepada konsumen. Bagaimanapun usaha pemeliharaan yang baik dan masukan bahan kimiawi mahal yang dicurahkan tidak akan dapat mengatasi hambatan awal dikarenakan penggunaan benih yang berkualitas jelek. Beberapa petani menjual hasil terbaik dari pertaniannya dan menyimpan yang terjelek untuk benih, suatu yang berlawanan dengan apa yang seharusnya diperbuat. Cara yang demikian ini hanya akan menyebabkan penurunan kualitas dan hasil untuk pertanaman selanjutnya yang pada akhirnya akan menurunkan keuntungan bagi petani.

Salah satu cara untuk mengetahui apakah benih yang akan digunakan merupakan benih yang bermutu baik atau jelek adalah dengan melakukan pengujian benih. Pengujian benih sederhana dapat menunjukkan kemampuan perkecambahan sebenarnya dan vigor dari persediaan benih dan apakah takaran penyebaran perlu ditingkatkan sehingga populasi tanaman yang tepat dapat tercapai, sehingga hasil lanjutannya jika keadaan lain-lain tepat dalam usaha pertanamannya maka dapat diperoleh hasil maksimum. Tidak masuk akal jika menyebar atau menanam benih dengan daya kecambah rendah, dengan mengharapkan adanya keajaiban yang akan mengatasi cacat dasar dari benih. Dalam praktiknya, keajaiban seperti itu jarang terjadi dan rencana pertanian yang didasarkan pada pada harapan tersebut biasanya mahal dan mengecewakan.

Petani dapat menguji benihnya sendiri dengan cara menaruh 100 benih di atas media yang basah seperti kapas, kertas koran atau pasir basah. Tergantung dari jenis tanamannya, dalam satu sampai dua minggu dapat diperoleh perkiraan yang layak dari persentase tanaman yang tumbuh normal. Semai yang abnormal dalam bentuk apapun tidak dihitung.

Dapat pula dibuat semacam desikator atau alat sederhana untuk pengujian benih dengan cara: menyiapkan stoples kaca bening, pada dasarnay dimasukkan bahan pengering (desiccant) berupa silica gel (butiran berwarna biru yang harus diovenkan terlebih dahulu hingg berwarna pink cerah, biasanya dijual di toko-toko kimia) atau menggunakan biji buncis kering yang telah diovenkan terlebih dahulu sampai kering. Kemudian lapisan di atasnya dipasangi dasar lengas dari kardus atau lempeng logam, kemudian ditaruh beberapa bungkus benih yang telah dibuka dibagian atasnya (jangan dilipat, biarkan terbuka), dan terakhir di tutup rapat agar kedap udara.

Cara Membuat Alat Penguji Benih Sederhana untuk Peningkatan Hasil Usaha Pertanian

Kamis, 17 Juli 2014

Pembuatan Bedengan di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi

Daerah Datar (Daerah Dataran Rendah)
Daerah datar memiliki masalah yang paling kecil jika dilihat dari segi pembuatan bedengan, tetapi sangat mutlak diperlukan untuk terjaminnya pembuangan air yang baik. Pengatusan yang baik dapat dicapai jika dibuatkan parit-parit pengatusan lapangan menuju ke saluran-saluran pengatus alami dan bedengan-bedengan yang relatif tinggi untuk pertanaman sayuran. Parit-parit pengatusan biasanya dibuat menurut pola kisi-kisi (grid pattern). Di daerah yang bercurah hujan tinggi dimana periode kering bukan merupakan masalah, airnya seharusnya selalu tersedia untuk pengairan setiap waktu, tetapi di daerah yang mengalami kekurangan air secara berkala, diperlukan adanya sekat-sekat (tile bunds) sepanjang parit pengatusan untuk meningkatkan penerimaan curah hujan. Dalam hal ini pembuatan guludan dan paliran leboih baik digunakan daripada bedengan yang lebar (bedengan dengan lebar 1 m atau lebih) karena hal ini akan memberikan kemudahan bagi tanaman untuk mencapai air. Di tanah yang sangat rendah, harus dibuatkan bedengan cembung.

Daerah Berbukit (Daerah Dataran Tinggi)
Daerah berbukit seringkali diteras untuk banyak tipe budidaya sayuran. Ini terutama disebabkan karena bedengan memerlukan perhatian lebih untuk semua produksi sayuran pasar, dan jalan masuk ke lahan pertanaman tidak mudah apabila tidak dibuat teras-teras. Pertanaman dengan barisan-barisan berjarak lebar dapat diusahakan dalam barisan tunggal sepanjang lereng bukit.

Pembuatan bedengan menurut menurut garis tinggi diperlukan di daerah berbukit untuk mencegah erosi tanah, yang dapat sangat parah jika tanah diolah naik dan turun bukit. Bedengan dapat dibuat pada teras yang telah dibuat terlebih dahulu atau dapat dibuat sehingga permukaan bedengan sesuai dengan kemiringan umum bukit. Hal ini umumnya dilakukan pada kemiringan yang lebih kecil.

Dalam pembuatan bedengan atau teras perlu dibedakan antara tanah-tanah yang tidak stabil, seperti yang berbahan induk batu lempung (shale) dan batuan pasir dengan tanah-tanah yang stabil sperti tanah-tanah granit dan basalt. Tanah yang pertama membutuhkan pengelolaan yang jauh lebih cermat. Masalah utama pada tanah-tanah tersebut di daerah berbukit adalah kecenderungannya untuk tererosi. Di daerah datar hal ini hanya akan mengakibatkan rebahnya tanaman, tetapi di daerah berbukit resiko tanah longsor sangat besar. Oleh karena itu, dalam perhitungan curah hujan tinggi, teras harus dibuat sedemikian rupa agar mendorong aliran permukaan yang cukup tetapi sekaligus akan menghindari erosi tanah. Di daerah yang curam harus dibuat teras-teras bangku dengan kemiringan 1 - 2o sepanjang teras, dengan lubang-lubang unutk pengatusan pada selang jarak yang tepat. Lubang-lubang ini harus dilindungi terhadap erosi, dengan membuat pintu air dari batu atau semen atau bisa juga dengan membuat daerah pembuangan yang cukup berumput. Pertumbuhan rumput dalam saluran pengatusan dapat dikendalikan dengan pembabatan secara berkala, dan hasilnya dapat dijadikan sumber bahan mulsa. Erosi bedengan pada teras juga dapat dikurangi dengan pemulsaan. Sebaiknya penggunaan tanah-tanah tak stabil, usaha tani sayuran dibatasi pada derah yang kurang curam, tetapi sayangnya dalam praktik, lereng-lereng yang sangat curam kadang-kadang digunakan untuk budidaya sayuran di daerah tropika. Biasanya usaha tani sayuran semacam ini terletak di stasiun pegunungan (hill station) dimana jenis sayuran iklim sedang yang bernilai ekonomi tinggi dapat diusahakan. Persiapan lahan yang mahal, tetapi produksi sayuran dekat dengan pasar yang sesuai biasanya menguntungkan dan dapat menutup biaya awal yang tinggi. 

Pada tanah-tanah granit dan vulkanik/gunung berapi, lereng yang lebih curam dapat diusahakan dengan aman dan tindakan-tindakan pencegahan yang seksama terhadap longsornya tanah umumnya tidak diperlukan.

menanam-tanaman
Gambar bedengan/teras pada daerah berbukit
(Sumber foto: pkm.openthinklabs.com)