Tampilkan postingan dengan label hidroponik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidroponik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Oktober 2015

Cara Membuat Kayu Lapuk Menjadi Pupuk Organik


Cara Membuat Kayu Lapuk Menjadi Pupuk Organik

Memanfaatkan alam guna melepas ketergantungan dari pupuk berbahan kimia memang sedikit rumit, banyak alasan yang tidak mendukung untuk bertani dengan konsep memanfaatkan alam, salah satu diantaranya adalah karena bertanam dengan proses Instan, oleh karena itu bertani dengan memanfaatkan alam menjadi tidak popular dikalangan petani, padahal lebih banyak manfaat yang bisa kita dapati manakala bertani dengan cara memanfaatkan sumber daya alam sekitar.

Pada beberapa artikel terdahulu juga sudah banyak kita membahas tentang pemanfaatan alam dalam berbudidaya pertanian, seperti memanfaatkan sisa limbah rumah tangga, membuat KCL dari teknik yang Paling sederhana, membuat perangkap untuk serangga. Salah satu yang InsyaAllah kita bahas kali ini adalah tentang pemanfaatan pelapukan tanaman untuk tanaman itu sendiri yaitu kayu lapuk.

Kayu lapuk biasanya menjadi sampah pembakaran saja, padahal kayu lapuk ini bisa dimanfaatkan untuk bahan pupuk alami tanaman, karena didalam kayu lapuk terdapat unsure organic yang sangat besar manfaatnya bagi perkembangan nutrisi tanah, jika selama ini kebanyakan kayu lapuk hanya dijadikan sebagai bahan dasar bangunan, maka tidak ada salahnya anda mencoba memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.

Didalam disiplin ilmu bumi, Para ahli ilmu bumi berpendapat bahwa unsure nitrogen di bumi ini tidak pernah berlebih dan berkurang, semenjak bumi di bentangkan unsure nitrogennya selalu berjumlah sama sampai detik ini, karena itu salah satu yang kita manfaatkan dari kayu lapuk untuk pertumbuhan tanaman adalah dengan mengambil unsure nitrogen yang terkandung didalam kayu lapuk tersebut.

Unsur kimia pada kayu lapuk yang bermanfaat bagi tanaman

Pada sebatang kayu lapuk biasanya terdapat kandungan nitrogen sebanyak 0,04% sampai 0,10 %, hydrogen sebanyak 6%, abu sebanyak 0,20 sampai 0,50, hemiselulosa sebanyak 15 sampai 25 %, semua kandungan kimia kayu tersebut, baik untuk dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.

Cara pemanfaatan kayu lapuk untuk pupuk tanah dan tanaman.

Untuk menjadikan kayu lapuk sebagai pupuk tanah, ada beberapa tahapan yang perlu kita lakukan.

1. Kayu lapuk dicincang halus.

2. Siapkan tanah jenis alfisol, tujuannya untuk sebagai perekat pada tanah yang akan kita jadikan pupuk, kenapa tanah alfisol karena jenis tanah ini tidak banyak mengandung unsure liat.

3. Setelah tanah dicincang halus, campurkan dengan tanah alfisol, kemudian endapkan didalam karung.

4. Setelah tanah diendapkan siapkan air kelapa (satu buah kelapa) atau air sisa pencucian beras, sebaiknya kedua jenis air tadi dicampurkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

5. Air kelapa yang sudah dicampur dengan air bekas cucian beras, disiramkan kedalam campuran kayu lapuk dengan tanah alfisol, sebaiknya campuran kayu lapuk dan tanah tersebut diendapkan selama lebih kurang satu bulan, semakin lama diendapkan akan semakin bagus hasilnya.

Pemberian campuran air kelapa dan air bekas cucian beras pada endapan kayu lapuk, bisa dilakukan setiap hari, selama satu atau dua bulan masa endapan, kegiatan pengendapan ini kayu lapuk dan tanah ini bermaksud untuk mengurai senyawa-senyawa selulosan, lignin, dan hydrogen menjadi senyawa organic yang baik untuk tanah dan tanaman.
Kegiatan pembuatan pupuk dari kayu lapuk diatas sudah saya lakukan, dan dipergunakan untuk bahan dasar tanah pada tanaman cabai polibeg, hingga pengalaman ini saya tulis pertanaman cabai saya tumbuh dengan subur dan sehat, juga tahan terhadap penyakit virus yang disebabkan oleh serangga vector Bemicia Tabacci (kutu kebul).

Selain bagus untuk pupuk tanaman palawija dan hortikultura, pupuk alami dari kayu lapuk ini juga bagus digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman bunga, silahkan dicoba.

*sumber : 

- Wikipedia
- www.academia.edu � �Summary the material of wood�, uploaded by � S.Lumonon
- foto : member of kompas musafir group.



Kamis, 25 Juni 2015

Meluruskan Konsep Bertanam Hidroponik

Meluruskan Konsep Bertanam Hidroponik

Alangkah populernya konsep bertanam dengan cara hidroponik akhir-akhir ini, betapa tidak konsep hidroponik menjanjikan hasil yang lebih baik, dibanding pertanaman konvensional, tentu saja bagi pelaku petani hidroponik hal tersebut bukan sesuatu yang buruk, dan hasil yang lebih baik dibanding bertanam secara konvensional menggunakan areal yang ada, sebenarnya hal itu perlu pengkajian ulang.

Bertanam secara hidroponik sangat popular didaerah perkotaan, pasalnya diperkotaan sulit untuk memperoleh lahan yang memadai untuk bercocok tanam, dan hal itu sangat bertolak belakang dengan suasana pedesaan, dimana di desa ketersediaan lahan masih cukup untuk bercocok tanam.

Tananam hidroponik dari asal katanya menjelaskan, bahwa perlakuan tanaman tersebut lebih terfokus kepada ketersediaan air, dengan mengabaikan unsur tanah orang-orang perkotaan juga bisa bercocok tanam, baik itu di atas rumah maupun di dindingnya, dengan kata lain tanah sudah tidak menjadi prioritas lagi.

Ilmu pertanian dan botani sudah menjelaskan bahwa tanah merupakan syarat utama untuk tumbuhnya suatu tanaman, meski dalam konsep hidroponik tanah hanya sebagai tempat berdirinya batang pokok tanaman, berikutnya ketersediaan unsur senyawa untuk pertumbuhan tanaman digantikan dalam bentuk cair, lebih jauh dari kedua hal tersebut tanaman sesungguhnya membutuhkan sosialisasinya dengan yang lain, seperti serangga liar dan mikroorganisme yang terdapat disekitar tanah pertanaman, konsep tersebut seakan terbantahkan oleh sistim hidroponik, dengan menganggap semakin berkurangnya interaksi sosial tanaman dengan lingkungan alamiahnya, maka kemungkinan tanaman akan tumbuh dengan subur dan baik lebih besar, padahal sebenarnya tidak demikian.

Alam semesta melahirkan berbagai serangga dan mikroorganisme yang berkesinambungan dengan tanaman, maka dari itu ada istilah penyerbukan yang diperbantukan oleh serangga, mikroorganisme yang membantu menguraikan zat makanan tanaman, itu pula mungkin yang sangat mendasari perbedaan bertanam secara hidroponik dengan konvensional di tanah, ketika usaha pertanaman lebih dititik beratkan kepada unsur air, sesungguhnya penggiat hidroponik agak sedikit usaha ekstra, karena memikirkan bagaimana unsur untuk tumbuhnya tanaman ini dirubah bentuknya ke air.

"Sebaik-baiknya pupuk cair lebih baik sebenarnya ketersediaan unsur alami yang terdapat di tanah, di dalam tanah terjadi penguraian yang komplek bagi kebutuhan tumbuh tanaman, hal itu belum lagi jika ditinjau dari segi biaya, ketika tanah yang normal menyediakan segala kebutuhan untuk tumbuhnya tanaman, maka biaya bagi pertanaman konvensional di tanah lebih ringan dibanding dengan pola hidroponik".

Jika anda bermaksud melakukan usaha pertanian dengan gaya hidroponik, alangkah bijaknya jika anda juga menganalisa lebih mendalam, mana yang lebih tepat cara yang anda tempuh dengan hidroponik atau dengan pola konvensional di pertanahan, karena bagaimanapun juga interaksi sosial tanaman dengan lingkungan alaminya merupakan sesuatu yang lebih penting, yang terkadang hal tersebut tidak diperoleh pada pola bertanam hidroponik.

Salam �

Selamatkan tanah dengan organik

Minggu, 14 September 2014

Cara Budidaya Tanaman Kubis Daun Cina, Pak Choi (Brassica chinensis)

Ada dua tipe yang umum untuk Kubis cina ini yaitu pak choi dan choi sam dengan cara budidaya yang hampir sama. Pak choi dikenal dengan nama kubis putih cina, karena memiliki tangkai daun putih yang khusus, walaupun beberapa varietas memiliki tangkai daun yang hijau. Sedangkan varietas choi sam adalah kubis cina berbunga, ciri utamanya adalah tumbuhnya yang tegap dan cepat tumbuh atau biasa dikenal dengan nama sawi hijau.

Budidaya
Cara yang dianjurkan untuk membudidayakan tanaman ini adalah sebagai berikut:
  1. Benih disemaikan terlebih dahulu di dalam kotak-kotak atau bedengan persemaian jika menginginkan panen dalam jangka waktu 4 minggu. Jika dilakukan penyebaran langsung memerlukan enam minggu untuk menunggu waktu siap panen. Sebaiknya  tidak menggunakan polybag pada saat penyemaiannya karena hanya akan membuang biaya yang lebih banyak. 
  2. Tanaman semai dapat dipindah tanam sejak umur tiga minggu dengan jarak tanam 15 cm, dan diberikan naungan selama lima hari pertama. Jika bibit semai besar yang digunakan, tanaman sudah dapat dipanen pada 25 hari setelah pindah tanam dengan hasil panen mencapai 30 ton per ha. Dari pertanaman enam minggu dapat dipanen hasil sebanyak 50 ton per ha.
  3. Pemupukan dapat dilakukan dengan pemberian pupuk dasar 1 ton/ha kapur pada kebanyakan tanah masam dengan pH dibawah 5,5. Untuk semua Cruciferae daun dapat digunakan sampai 20 ton/ha per tahun kompos atau pupuk kandang yang matang. Sayuran ini tidak memerlukan pupuk majemuk jika telah menggunakan pupuk kandang. Jika tidak, dianjurkan melakukan pemupukan dasar dengan menggunakan pupuk majemuk 12:12:17:2 sebanyak 200 kg/ha setiap pertanaman. Kebutuhan nitrogen untuk tanaman ini agar tanggap baik adalah dengan takaran sampai 250 kg/ha pupuk urea.
  4. Urea sebaiknya diberikan melalui penyiraman pada tanaman sepanjang waktu pertumbuhannya sampai satu minggu sebelum panen. Penyiraman yang sering dapat memacu pertumbuhannya.
Perlindungan Tanaman
Spesies ini memiliki rentang penyakit yang sama dengan kubis-kubis barat. Busuk basah Erwinia dapat menjadi parah jika tanaman terluka pada saat kegiatan budidaya . Penyakit akar pekuk dapat sangat parah dan menyebabkan pertumbuhan kerdil yang nyata. Tetapi penyakit bercak daun Alternaria biasanya tidak menjadi masalah. Penyakit rebah semai Pythium spp. akan merusak jika air terlalu banyak diberikan, maka dianjurkan untuk melakukan penyiraman fungisida tembaga.

Tanaman ini umumnya kurang rentan terhadap hama, umumnya tanaman ini diserang oleh ngengat punggung intan meskipun begitu pengaruhnya terhadap tanaman tidak serius. Karena tanaman ini tumbuh cepat, pemeliharaan bedengan benih yang bersih merupakan satu-satunya persyaratan untuk pengendalian gulma.

kompas musafir
(Sumber foto: www.theguardian.com)

Jumat, 05 September 2014

Ekologi Tanaman Cengkeh (Eugenia aromatica)

Hasil utama yang diambil dari tanaman cengkeh ini adalah bunganya, dimanfaatkan untuk rempah-rempah, campuran rokok kretek, obat dan sebagainya. Selain bunganya, tangkai bunga dan daunnya juga dapat dimanfaatkan, selain untuk campuran rokok, minyak atsiri yang dikandungnya dapat juga dijual.

Tanaman cengkeh merupakan tanaman asli dari Indonesia tepatnya dari pulau Makian Maluku. Ketinggian tempat penyebarannya antara ketinggian 0 sampai 900 meter dari permukaan laut. Di atas 900 meter, cengkeh juga dapat tumbuh tetapi umur berbunganya sangat lambat dan produksi bunganya sangat rendah, umumnya keadaan tersebut berkolerasi positif dengan altitude.

Pertumbuhan cengkeh dan proses pembungaannya serta munculnya penyakit-penyakit seperti mati bujang ataupun penyakit lain, erat sekali hubungannya dengan iklim setempat dan tanah tempat tumbuhnya. Akibat yang ditimbulkan adalah gangguan fisiologis, sehingga tanaman menjadi lemah dan mudah terserang penyakit.

Tanaman cengkeh menginginkan suhu antara 21 sampai 2 derajat celsius dengan iklim yang basah. Curah hujan yang disukai oleh cengkeh antara 1500 sampai 3000 mm per tahun merata sepanjang tahun dan sangat disukai curah hujan per bulannya 80 mm atau lebih sedikit.

Cengkeh merupakan tanaman yang sangat tisak tahan terhadap kekeringan. Cengkeh yang gagal berbunga dan tumbuh merana di daerah-daerah yang mempunyai musim kering yang tegas dan daya pengikatan tanah terhadap air rendah. Mengenai curah hujan ini, ternyata berkaitan erat dengan kualitas bunga cengkeh. Untuk rokok kretek, cengkeh yang baik berasal dari daerah-daerah yang mempunyai curah hujan dengan kisaran antara 1500 sampai 1800 mm per tahun.

Cengkeh menyukai tanah yang gembur, tidak ada cadas sampai beberapa meter ke bawah dan berdrainase baik (tidak ada air tergenang). Selain itu, air tanah harus dalam sekitar 3 meter dari permukaan tanah. Sebagai pedoman dapat dilihat pada sumur-sumur yang berdekatan dengan areal pertanaman. Keadaan topografi, juga memiliki pengaruh. Tanah-tanah yang lereng dan menghadap ke arah matahari terbit sangat baik untuk pertanaman cengkeh, yang penting drainase dan aerasinya baik sehingga pertumbuhan akar baik serta sempurna.

Tanah-tanah Latosol, Andosol, dan Podzolik dapat digunakan untuk menanam tanaman cengkeh.

pH tanah yang cukup toleran untuk tanaman cengkeh adalah tanah asam sampai netral dengan kisaran nilai antara 4 sampai 7.

menanam-tanaman
(Sumber foto: www.produknaturalnusantara.com)

Cara Bercocok Tanam Bayam dengan Sistem Hidroponik

Bayam merupakan tanaman yang tersebar  sangat luas keberadaannya, dapat tumbuh liar di banyak tempat. Bayam dapat juga tumbuh di ketinggian sampai 1000 meter dari permukaan laut. tetapi pertumbuhannya jauh lebih jika di dataran rendah tropika. Terdapat banyak varietas; mulai dari yang berwarna hijau tua, hijau muda, merah campur hijau sampai berpigmen merah jelas dengan nilai gizi yang tinggi. Beberapa diantaranya merupakan tanaman hari pendek dan ditanam pada bulan musim panas sebagai sayuran hijau. 

Umur pertanaman bayam adalah 4 - 6 minggu, sehingga dapat disertakan dalam pergiliran pertanaman tiga bulanan dengan cara yang sama seperti pada kangkung. Bayam agak sulit penanamannya jika dibandingkan dengan kangkung, tetapi dengan pemeliharaan yang baik dapat memberikan hasil sebesar 15 - 20 ton/ha selama pertanaman empat minggu. Hasil komersial rata-rata dapat mencapai sekitar 10 ton/ha.

Budidaya

Hampir semua jenis tanah dapat digunakan untuk budidaya bayam; kapur hanya diperlukan jika pH di bawah 5,0. Tanah gambut masam dengan pH 4,0 - 4,5 akan memerlukan 1 ton/ha kapur setiap tahun untuk tanaman ini.

Benihnya sangat kecil dan harus dijaga agar penyebarannya merata dalam lubang-lubang tanam yang berjarak 15 cm. Penyiraman juga harus dilakukan dengan hati-hati agar benih tidak tergusur. Atau dapat juga dilakukan dengan cara; benih disebar merata dan diperjarang, atau dapat juga dicampur dengan pasir halus agar penyebarannya lebih merata. Jika penanaman dilakukan dengan cara pindah tanam (disemaikan terlebih dahulu), tanaman semai harus ditanam pada tinggi 10 cm untuk panen tunggal (yang dipanen dengan mencabut) atau pada tinggi 15 - 20  cm untuk beberapa kali panenan melalui pemotongan berulang tunas-tunas baru. Melalui pindah tanam, hasil maksimum yang diperoleh setelah 7 - 8 minggu, tetapi untuk kualitas hasil panen yang baik perlu dipanen lebih awal. Cara panen yang lazim adalah dengan mencabut tanaman semai, tetapi kualitas yang baik dan hasil yang tinggi dapat juga diperoleh melaui pemotongan (pemangkasan) dengan interval waktu 3 - 4 minggu.

Pemupukan untuk bayam ini sama seperti kangkung. Pemberian air dianjurkan agar dilakukan dengan hati-hati dan sedikit-sedikit, dua kali sehari pada cuaca kering.

Perlindungan Tanaman

Tanaman bayam relatif bebas gangguan. Namun terkadang penyakit busuk daun (Thanatephorus cucumeris) dapat parah pada saat cuaca basah dan pertanaman yang lebat. Dalam kondisi yang sama pula, kapang lendir (Physarum cinereum) dapat menghancurkan daun dan meluas dengan cepat. Kedua penyakit ini dapat dikendalikan dengan fungisida spektrum lebar, seperti Dithane M-45, Daconil dan senyawa-senyawa tembaga.
Berbagai kumbang pemakan daun dibasmi dengan menggunakan pestisida tetapi penggunaan pestisida umur pendek sebaiknya digunakan secara bijaksana.

menanam-tanaman
(Sumber foto: berita.grosirkeripik.com)

Kamis, 04 September 2014

Cara Bercocok Tanam Kangkung (Ipomoea aquatica)

Tanaman kangkung atau biasa juga disebut kang kong merupakan tanaman yang dapat tumbuh dengan cepat serta memberikan hasil panen dalam waktu 4 sampai 6 minggu setelah tanam. Bahkan di dataran rendah tropika, kangkung sudah dapat dipanen ketika berumur 25 hari dan mampu menghasilkan lebih dari 20 ton/ha daun segar. Sedangkan pertanaman komersial mampu menghasilkan 15 ton/ha sepanjang beberapa kali melakukan panen berturut-turut. Sedangkan jika ditanam di daerah pegunungan membutuhkan waktu 40 hari untuk satu kali panen, sehingga kangkung dapat dimasukkan dalam pergiliran dengan pertanaman tiga bulanan dengan dua atau tiga kali penanaman selama periode tanam tersebut.

Ada dua macam kultivar atau jenis kangkung yang telah dikenal, yang pertama adalah kangkung darat, yang ditanam di lahan kering dengan menggunakan biji, atau lebih dikenal dengan nama kangkung cina. Sedangkan varietas yang lainnya adalah varietas yang tumbuh liar di sawah dan tempat berair lainnya.

Budidaya Kangkung

Jika bercocok tanam dengan menggunakan biji dengan ukuran diameter sekitar 3mm, dapat disebar dalam baris-baris berjarak 15 cm dengan jarak tanam kira-kira 5 cm antar masing-masing biji. Kultivar atau varietas yang berbiji dapat tahan terhadap tanah lembab dan tumbuh baik saat musim hujan.

Kapur kurang dibutuhkan dalam pertanaman kangkung, kecuali jika ditanam pada tanah yang sangat masam. Dosis pupuk yang dapat dianjurkan untuk kangkung adalah sebagai berikut:

1. Dengan pupuk organik: 20 ton/ha dan 250 kg/ha urea yang diberikan selama dua minggu pertama, yang diberikan dengan cara disiramkan.
2. Tanpa pupuk organik: 200 kg/ha pupuk majemuk 12:12:17:2 + UM sebagai pupuk dasar dan 250 kg/ha urea dengan cara pemberian seperti di atas.

Dalam sistem pergiliran tiga kali pertanaman yaitu tiga pertanaman berturut-turut masing-masing selama 25 - 28 hari, pertanaman pertama ditumbuhkan dari biji dan dua pertanaman berikutnya adalah hasil dari pertumbuhan kembali tunas-tunas yang telah dipanen sebelumnya. Untuk hasil panen yang baik, diperlukan penyiraman teratur dan sering pada cuaca kering.

Perlindungan Tanaman
Tanaman kangkung tahan dan memerlukan hanya sedikit perlindungan. Penyakit jamur yang biasanya menyerang kangkung adalah karat putih (Albugo ipomoeae - panduratae). Penyakit ini peka terhadap Dithane M-45 atau Benlate, tetapi jika benih diberikan perlakuan kimiawi dengan thiram dan kehigienisannya diperhatikan, maka penyakit ini tidak menjadi masalah. Serangga yang biasanya menyerang adalah serangga pemakan daun yang dapat dikendalikan dengan penyemprotan strategis senyawa organofosfat yang dilakukan jauh sebelum waktu panen.
menanam-tanaman
(Sumber foto: saranaagri.wordpress.com)

Rabu, 03 September 2014

Ekologi Tanaman Padi (Oryza sativa)

Padi merupakan salah satu tanaman sereal yang terpenting. Tanaman ini merupakan bahan makanan pokok hampir separuh penduduk duni, sedangkan di Indonesia merupakan bahan makanan pokok utama.

Pembungaan padi dipengaruhi oleh dua faktor ekologi yaitu suhu dan fotoperiodisma atau fotoperiode.

Suhu rata-rata yang dibutuhkan tanaman padi selama pertumbuhannya adalah antara 20 - 30 derajat celcius, walaupun demikian di jepang padi dapat tumbuh dengan baik dimusim panas pada suhu 21 derajat. Lebih rinci lagi tanaman padi menghendaki suhu minimum pada saat perkecambahan 11 - 13 derajat celcius dan untuk berbunga antara 22 - 23 derajat dan pada saat pembentukan bulir antara 20 - 21 derajat. Bahkan padi dapat tumbuh di ketinggian 3300 meter di Himalaya. Suhu juga berpengaruh terhadap kecepatan masak tanaman padi, semakin rendah suhu rata-ratanya semakin lama proses masak tanaman padi tersebut.

Fotoperiode sangat berpengaruh pada keadaan setelah fase vegetatif dasar. Di daerah tropis hal ini tidak begitu menentukan karena umumnya panjang hari relatif sama. Padi termasuk tanaman heliopytes, oleh karena itu intensitas cahaya  yang tinggi sangat diinginkan, terutama pada stadia generatif. 

Curah hujan yang dikehendaki oleh tanaman padi adalah curah hujan yang merata selama  pertumbuhan, sekitar 25 - 30 mm/ tahun.

Tanah-tanah yang cocok untuk tanaman padi adalah tanah-tanah lempung berliat sampai liat, namun tanah-tanah Alluvial juga baik untuk tanaman padi. Kisarana pH antara 4,5 - 8,7, jika dilihat dari kisaran pH yang disukai oleh padi, ternyata tanaman padi mempunyai kisaran toleransi yang luas terhadap kemasaman tanah. Selain hal di atas, air juga sangat penting untuk tanaman padi terutama pada periode vegetatif dan pembentukan bulir.

menanam-tanaman
(Sumber foto: pertaninak.blogspot.com)

Pengaruh Fotoperiode (Lamanya Penyinaran Matahari) Terhadap Pertumbuhan Tanaman

Fotoperiode adalah lamanya atau masa pencahayaan harian matahari, yang berubah-ubah sepanjang tahun. Kisaran fotoperiode yang dialami di suatu daerah berbanding lurus atau meningkat seiring dengan meningkatnya garis lintang wilayah tersebut, misalnya di daerah khatulistiwa panjang hari hampir konstan sepanjang tahun, tetapi garis lintang yang ekstrim di daerah tropika, panjang hari bervariasi antara 10 jam pada musim dingin hingga 14 jam pada musim panas.
Pengaruh Fotoperiode (Lamanya Penyinaran Matahari) Terhadap Pertumbuhan Tanaman
(Ilustrasi)

Berbunga dan berbuahnya jenis tanaman tertentu dipengaruhi oleh fotoperiode. Beberapa akan berbunga jika panjang hari berkurang dan lainnya akan berbunga jika panjang hari bertambah. Pembentukan umbi lapis dan umbi batang merupakan proses pertumbuhan lain yang dipengaruhi oleh fotoperiode. Beberapa spesies sayuran yang dipengaruhi oleh fotoperiode dijelaskan sebagai berikut:

Kerabat Bawang
Ada dua tipe bawang: bawang hari panjang, membentuk umbi hanya dalam hari yang relatif panjang pada daerah garis lintang tinggi; dan yang kedua bawang tropika, membentuk umbi pada garis lintang tropika. Untuk masing-masing keadaan, pembentukan umbi dan perkembangan reproduksi dipacu panjang hari yang spesifik. Berbagai kultivar berbeda dalam kebutuhan lama penyinaran, dan dianjurkan untuk memilih yang dapat membentuk umbi di lokasi yang akan digunakan, kecuali jika bawang itu hanya diusahakan sebagai bawang daun (spiring onions) atau bawang hijau.

Kerabat Legum
Banyak spesies dan varietas legum bersifat fotoperiodik seperti kedelai, beberapa varietas kacang tunggak dan kecipir serta legum lain tertentu merupakan tanaman hari pendek atau lama penyinaran mataharinya pendek dan tidak akan berbunga kecuali jika harinya cukup pendek. Di lokasi sekitar khatulistiwa, yang fotoperiodenya tidak pernah lebih dari sekitar 12  setengah jam atau kurang dari 11 jam, kebanyakan kultivar kedelai berbunga sangat awal (dalam 30 hari) dan ini menimbulkan masalah untuk perkembangan daun yang cukup. Bagi kedelai di daerah selatan khatulistiwa, perlu digunakan jarak tanam yang rapat, sekitar 30 cm untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Kacang tunggak dan kecipir, menunjukkan tanggapan yang beraneka ragam dalam pembungaan, tergantung dari kultivar; beberapa diantaranya relatif tidak peka terhadap fotoperiode, sedangkan yang lainnya akan berbunga hanya pada fotoperiode yang pendek atau berkurang. Kebanyakan kultivar kacang buncis relatif tidak peka terhadap fotoperiode.

Kentang
Kentang membutuhkan hari pendek untuk pembentukan umbi (tubersation). Meskipun kentang tidak cocok untuk dataran rendah sekitar khatulistiwa karena penyakit layu bakteri, pada ketinggian yang lebih tinggi kentang dapat ditanam dan mudah membentuk umbi. 

Banyak kultivar baru terutama kerabat legum, dihasilkan dari persilangan  untuk bersifat hari netral, maksudnya mereka tidak peka terhadap fotoperiode dan dapat ditanam pada musim apapun. Pengalaman setempat sangat membantu untuk menentukan varietas yang cocok untuk tiap lokasi tanam.

Okra
Beberapa varietas okra (Abelmoshus esculentus) peka terhadap fotoperiode dan berbunga hanya pada hari pendek

Beberapa jenis tanaman diatas merupakan tanaman lingkungan tropika yang sangat dipengaruhi oleh lamanya masa pencahayaan hari, hal ini menjadi panduan penting untuk menentukan jenis tanaman apa yang sebaiknya ditanam di daerah beriklim tropik.

Sekian dulu pembahasan kita, sampai jumpa di artikel lainnya.
Salam ...

Senin, 01 September 2014

Ekologi Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)

Hevea brasiliensis atau lebih dikenal dengan nama tanaman karet merupakan tanaman perkebunan yang menghasilkan bahan baku karet untuk industri. Karet berasal dari suatu lembah di daerah Amazon brasilia. Sekarang, negara-negara yang menjadi penghasil karet utama dunia adalah Indonesia dan Malaysia, serta negara-negara tropis lainnya seperti Vietnam, Ceylon,Brasil.

Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai variasi suhu, curah hujan dan ketinggian tempat. Walaupun demikian, ketinggian tempat yang diinginkan oleh karet adalah antara 0 - 700 meter dari permukaan laut, dengan kisaran suhu antara 25 - 28 derajat celcius. Tentu saja ketinggian tempat berpengaruh pada umur dapat sadap karet. Dimana, jika karet ditanam pada ketinggian di atas 800 meter di atas permukaan laut, tanaman baru matang sadap diumur sekitar 10 tahun sedangkan pada ketinggian di bawah 200 meter dari permukaan laut, umur matang sadap yaitu sekitar 6 tahun.

Tanah yang cocok untuk tanaman karet adalah tanah-tanah yang tidak padat, tidak tergenang air serta memiliki aerasi yang baik. Karet menyukai tanah-tanah masam dan dapat tumbuh baik pada pH tanah dengan kisaran antara 4 - 6,8.

Ditinjau dari aspek penyakit, kelembaban yang terlalu tinggi, baik kelembaban tanah atau kelembaban udara sangat membahayakan tanaman karet. Penyakit-penyakit seperti cendawan akar dan batang sering berkembang dalam kondisi lembab. Akan tetapi, jika suhu terlalu kering, tanaman karet juga tidak tahan karena tanaman karet merupakan tanaman yang dikenal sensitif terhadap kekeringan. Tanaman karet yang mengalami kekeringan akan terlihat merontokkan daunnya. 

Curah hujan untuk tanaman karet adalah 1500 mm/tahun dan merata sepanjang tahun, akan tetapi lebih disenangi curah hujan antara 2500 - 4000 mm/tahun, yang penting pada pagi hari terutama saat penyadapan tidak ada hujan yang turun di pagi hari.

Angin yang kencang tidak baik untuk tanaman karet. Selain menimbulkan kerusakan mekanis seperti dahan patah-patah atau batang tumbang, juga dapat menurunkan produksi lateks. Hal ini disebabkan karena terlalu banyak transpirasi yang terjadi.

menanam-tanaman
(Sumber foto: yopiepangkey.wordpress.com)

Rabu, 27 Agustus 2014

Budidaya Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea)

Kacang tanah (Arachis hypogaea) merupakan tanaman lahan tegalan yang banyak diproduksi sebagai cemilan di pasaran. Banyak kultivar dari kacang tanah ini yang tumbuh dan memberikan hasil yang baik pada tanah gembur yang lepas atau dalam guludan (bedengan). Cara budidaya untuk varietas tipe semak sama dengan cara membudidayakan kedelai, dengan jarak tanam yang dianjurkan sekitar 30 x 15 cm.

Kacang tanah memerlukan pasokan kalsium yang cukup (seperti semua jenis tanaman legum), jika tidak maka biji tidak akan terbentuk dan polong yang dihasilkan akan kosong atau pops. Sekitar 200 kh/ha pupuk majemuk 12:12:17:2 + UM dianjurkan untuk pemupukannya, ditambah dengan sedikit urea (60 kg/ha) yang diberikan pada bulan pertama untuk memastikan pertumbuhan awal yang baik sebelum terbentuknya pembintilan. Untuk kebutuhan kalsiumnya, dianjurkan 200-300 kg/ha gips, diberikan setengah saat tanam dan sisanya pada permulaan terbentuknya ginofor. Pada umumnya lebih baik jika menanam kacang tanah setelah pertanaman sebelumnya mendapatkan pemupukan yang baik.

Perlindungan Tanaman

Penyakit-penyakit yang paling serius pada pertanaman ini adalah karat (Puccinia arachidis) dan bercak daun yang lazim dijumpai (Cercospora arachidicola) dan Cercosporidium personatum. Metode pengendaliannya yang utama adalah dengan cara kebersihan kebun yang baik dan pergiliran tanaman, tetapi sekarang telah tersedia fungisida khusus untuk karat daun ini. Untuk noda-noda Cercospora, belerang sudah cukup murah untuk petani kecil, tetapi fungisida dengan spektrum lebar lebih efektif. Penyakit jamur lain yang juga menyerang adalah busuk akar dan busuk leher akar (Corticium rolfsii, Thanatephorus cucumeris) dan busuk tajuk tanaman (Aspergillus niger). Fungisida tembaga dapat mengendalikan kedua jamur tersebut. Tanaman ini juga rentan terhadap layu bakteri, sehingga perlu berhati-hati jika melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman kerabat Solanaceae. 

Kandungan air (lengas) dalam biji yang akan disimpan dan selama penyimpanan selanjutnya adalah penting untuk diperhatikan dalam mengendalikan infeksi biji oleh Aspergillus flavus, yaitu jamur yang menghasilkan racun yang sangat karsinogen, aflatoxin, karena itu sangat penting menurunkan kandungan air dalam biji secepat mungkin sampai di bawah 9%, setelah panen dan kemudian disimpan baik dengan mempertahankan kandungan air yang sama.

Virus roset adalah penyakit berbahaya, pemusnahan (eradikasi) tanaman singgang (liar) dan pengendalian vektor (Aphis craccivora dan Aphis gossypii) adalah hal mutlak yang harus dilakukan.

Banyak serangga dapat merusak pertanaman; yang menyerang bagian-bagian tanaman yang terdapat dalam tanah, terutama polongnya, pada umumnya adalah yang paling mengkhawatirkan meliputi rayap, uret, kutu putih, kumbang dan serangga penggerek polong lainnya. Situasi setempat harus diperhatikan terutama sekali pada saat pertumbuhan polong.

menanam-tanaman
(Sumber foto: greenmorish.com)

Senin, 25 Agustus 2014

Budidaya Tanaman Kacang Kedelai (Glycine max)

Kedelai merupakan tanaman tegalan (field crop), tetapi kadang biji-biji yang belum tua dapat juga dimakan sebagai sayuran hijau. Masalah utama dalam budidaya kedelai di daerah tropika sekitar khatulistiwa adalah bahwa fotoperiode yang relatif pendek merangsang pembungaan awal pada kebanyakan varietas unggul. 

Kebanyakan varietas kedelai diseleksi untuk pertanaman musim panas di daerah tropika. Tetapi di dalam varietas tertentu terdapat spektrum luas tanggap fotoperiode, termasuk tipe yang dapat ditanam di daerah yang berhari netral (seimbang antara hari panas dan dinginnya), sehingga tersedia hasil seleksi yang berpotensi berproduksi tinggi atau dapat diseleksi melalui penelitian adaptif untuk digunkan di dataran rendah tropika. Dengan jarak tanam yang rapat dan pemupukan yang tinggi diperoleh hasil-hasil tinggi di daerah dengan siang hari yang pendek. Dalam kondisi fisik yang baik jarak antara baris 40 cm sudah cukup untuk daerah tropika sekitar khatulistiwa pada semua ketinggian. Pada kondisi yang lebih buruk dianjurkan jarak tanamnya 25 cm. 

Pupuk yang dianjurkan adalah 200 - 400 kg pupuk majemuk 12:12:17:2 + UM per hektar, tergantung dari tingkat pembintilannya. Kedelai, sekali diinokulasi akan mempertahankan bakteri Rhizobium-nya selama beberapa tahun.

Perlindungan Tanaman
Penyakit karat (Phakospora pachyrrhizi) adalah penyakit yang paling berbahaya dan tersebar luas. Ada beberapa varietas yang agak tahan, tetapi untuk mengendalikannya dengan baik biasanya diperlukan senyawa kimia. Penyakit lain yang juga tersebar luas  adalah penyakit penyebab warna ungu dari biji (Cescospora sojina), bercak cokelat (Septoria glycinesi), serta penyakit bercak daun yang disebabkan oleh jamur Pyrenochaeta glycines. Untuk mengendalikan semua penyakit tersebut, benih bersih merupakan hal mutlak dan perawatan benih perlu juga dilakukan, sedangkan perlakuan kimiawi tidak terlalu dibutuhkan tergantung dari cuaca.

Di antara penyakit-penyakit bakteri, bercak daun (Pseudomonas syringae pv. glycinae), penyakit kutil bakteri (Xanthomonas campestris pv. glycines) dan hawar biasa (Xanthomonas campestris pv. phaseoli) tersebar luas dan merusak dalam kondisi yang cocok; benih terinfeksi lewat polong. Lagi-lagi benih bersih diperlukan dan fungisida tembaga agak memberikan pengaruh dalam pengendaliannya. Virus yang paling lazim adalah virus mozaik, yang dapat mengurangi setengah hasil pada infeksi yang berat. Benih bersih, pembuangan segera tanaman terinfeksi dan pengendalian dengan vektor merupakan cara pengendalian yang mutlak diperlukan.

menanam-tanaman
(Sumber foto: sulsel.litbang.deptan.go.id)

Kamis, 21 Agustus 2014

Usaha Pertanian Sayuran Intensif yang Modern

Usaha pertanian sayuran intensif yang modern dapat dikategorikan mulai dari pengusahaan tanaman tunggal khusus seperti pertanaman wortel, kubis ataupun kentang di daerah dataran tinggi tropika yang memerlukan dosis tinggi pupuk, pestisida dan pengelolaan tanah sampai pada sistem pergiliran tanaman yang kurang intensif, yang mengkombinasikan tanaman pertanian palawija dengan jenis-jenis sayuran lain dan memiliki periode bera (masa istirahat). Atau yang lebih dikenal dengan nama usaha tani konservasi (conservation farming). Salah satu contoh sistem usaha tani konservasi yang menggunakan beberapa jenis tanaman yang telah berhasil dengan baik, adalah sebagai berikut:
Lajur 1:  Sayuran kacang atau legum (diberi pupuk fosfat)
Lajur 2:  Sayuran daun
Lajur 3:  Sayuran buah (diberi pupuk NPK)
Lajur 4:  Sayuran umbi
Lajur 5: Tanaman penutup tanah kacangan (legum) seperti Stylosanthes gracilis, atau legum berumur panjang seperti lablab (kara uceng, kara wedus) atau kacang merah (Vigna umbellata). Di dataran tinggi dapat digunakan 'lucerne' (alfalfa) (Medicago sativa) atau 'vetch' (Vicia sativa).

Tiap lajur menduduki petek atau istirahat selama satu atau dua tahun dan digilir pada waktu penanaman berikutnya. Karena pergiliran tanaman akan membutuhkan satu siklus setiap lima sampai sepuluh tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di daerah dimana pupuk organik atau pupuk anorganik tidak tersedia dalam jumlah besar, diikutsertakannya (bera) legum selama dua tahun menyediakan cukup kesuburan dan bahan organik untuk bertanam terus menerus selama empat tahun, dengan tingkat kesuburan tanah yang masih sangat tinggi. Penggunaan bera-legum merupakan cara yang baik untuk membantu praktik budidaya petani subsisten yang memiliki beberapa kendala seperti sewa lahan yang tinggi atau kekurangan modal.

Tipe usaha tani semi-intensif ini dianjurkan untuk daerah yang harga pupuk dan pestisidanya mahal dan sukar didapatkan. Sayuran buah dan umbi, jika dibutuhkan dapat digantikan dengan serealia atau tanaman lain. Beberapa wilayah tertentu, pertanaman harus dilakukan sepanjang musim untuk mencegah pertumbuhan gulma. Pada daerah dengan musim yang panjang, penyisipan atau menanam secara berurutan harus dilakukan pada pergiliran tanaman. Sehingga dengan adanya pergiliran tanaman dengan jenis-jenis tanaman yang berbeda dalam umur yang berbeda pula, berbagai jenis tanaman akan tersedia sepanjang tahun.

Di daerah dengan jumlah penduduk yang padat, terutama perkembangan industri dan perdagangan haruslah sejalan dengan perkembangan pertanian. Sistem pengusahaan sayuran intensif sangat disarankan. Dalam sistem ini, pupuk kandang, kompos dan pupuk kimia harus digunakan bersama dengan irigasi tambahan untuk memaksimalkan hasil. Di daerah tropika sekitar khatulistiwa variasi suhu umumnya cukup kecil sehingga memungkinkan pertanaman bergilir dengan kombinasi spesies yang sama karena waktu siap panen kebanyakan spesies (tanpa mengikutsertakan jenis yang sangat peka cahaya matahari, fotoperiodik), hampir tidak berubah sepanjang tahun.

menanam-tanaman
(Sumber foto: ict-five.blogspot.com)

Senin, 18 Agustus 2014

Budidaya Tanaman Dengan Ajir/Para-Para

menanam-tanaman
Gambar 1: Para-para/ajir kerangka A
(Sumber foto: tanaman-hias-indonesia.blogspot.com)


Banyak spesies atau jenis sayuran tropika yang bersifat memanjat dan sayuran tersebut harus ditanam dengan menggunakan para-para. Tonggak juga dibutuhkan untuk mencegah kerebahan pada tanah yang stabil. Dalam banyak kondisi, hasil yang lebih tinggi dapat diperoleh dari sayuran dengan budidaya para-para dibandingkan dengan tipe atau sulur dibiarkan tumbuh di permukaan tanah. Kenaikan hasil yang sangat besar dari budidaya para-para ini dapat dilihat dari budidaya tanaman Cucurbitaceae, Leguminosae, dan Solanceae. 

Perkembangan tanaman semak atau varietas bertubuh pendek merupakan ciri utama negara-negara maju karena upah tenaga untuk budidaya para-para merupakan penghalang. Namun di kebanyakan negara tropika, budidaya para-para merupakan masalah yang mudah.

Terdapat berbagai tipe struktur para-para yang dapat digunakan untuk sayuran memanjat. Yang paling sederhana adalah menggunakan tiang atau tonggak lurus dengan tinggi yang sesuai kira-kira 2 meter, yang ditanam kuat dalam tanah hingga kedalaman sekitar 170 - 180 cm di atas permukaan bedengan. Tipe para-para ini sangat cocok untuk buncis memanjat karena buncis tidak membawa buah-buah yang berat yang memerlukan penopang yang lebih rumit. Untuk buncis dan kacang panjang, jarak tanam 60 cm dalam dua baris sepanjang bedengan dengan lebar 120 cm akan memberikan hasil optimal. Buncis memanjat dengan melilit, dan beberapa paku dipasang dengan selang jarak tertentu sepanjang tonggak akan membantu pemanjatan.

Ada dua tipe para-para yang umum digunakan, ditunjukkan pada gambar 1 dan 2. Gambar 1, tipe para-para atau ajir kerangka A; cocok untuk tanaman mentimun, gambas atau pare belut. Tonggak harus ditanam cukup kuat untuk mencegah runtuhnya ke arah barisan bila para-para menyanggah buah yang berat. Cara yang paling sederhana untuk menghindari keruntuhan adalah dengan mengikat tiang-tiang tegak pada tonggak melintang dengan lilitan kawat besi lunak. Sedangkan Gambar 2, Para-para atau ajir kerangka segiempat cocok untuk anggur, pare pahit,maupun pare lainnya dan mentimun. Tipe kerangka ini memerlukan waktu sedikit lebih banyak untuk membuatnya daripada kerangka A, tetapi berguna saat pemanenan dan untuk pare yang memerlukan pembungkusan untuk mencegah kerusakan karena lalat buah. Sulur-sulur tanaman dipelihara pada bagian atas panggung dan buah-buah akan dengan mudah bergantungan di bawahnya.

Untuk membuat semua tipe para-para, dianjurkan untuk menggunakan tiang-tiang kayu keras atau tiang-tiang bakau. Jika disimpan secara benar di dalam gudang yang kering setelah digunakan dan dilindungi dari rayap, kayu-kayu tersebut dapat bertahan selama bertahun-tahun. Tiang bambu dan kayu lunak akan tahan hanya kira-kira satu tahun dalam kondisi tropika basah. Mengoles tiang-tiang dengan minyak bekas pelumas (oli bekas) yang dicampur dengan sedikit minyak tanah dan insektisida (BHC) akan memperpanjang umur kayu tersebut.

menanam-tanaman
Gambar 2: Para-para atau ajir kerangka segi empat
(Sumber foto: epetani.pertanian.go.id)

Kamis, 14 Agustus 2014

Budidaya Tanaman Pare (Momordica charantia )

Pada umumnya tanaman pare dikenal dalam dua varietas yang berbeda terutama dalam hal sifat buahnya. Varietas chinensis umumnya jenis yang lebih umum dikenal, memiliki buah yang besar hingga kira-kira 30 cm panjangnya. Varietas muricata mempunyai buah yang lebih kecil dan bijinya diliputi oleh bubur (pulp) berwarna merah. Pare adalah pemanjat yang ramping dengan daun berbaga dalam yang sangat khas. Varietas chinensis rasanya kurang pahit dan paling baik untuk ditanam bagi keperluan pasar.

Budidaya
Tidak mudah menanam tanaman dengan baik karena membutuhkan pemeliharaan dan kondisi tanah yang baik. Tetapi, jika diusahakan dengan baik, hasil lebih dari 30 ton/ha dapat diperoleh dari pertanaman yang berumur 14 sampai 16 minggu, dengan panenan pertama pada umur sekitar 10 minggu. Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 60 cm, seperti pada mentimun dan gambas. Tanaman ini berbentuk geragih yang ramping yang harus diatur dengan hati-hati dan diikat ke atas pada para-para untuk mencegah menjalarnya di atas tanah. Dianjurkan untuk mengatur liana-liana di atas kerangka para-para untuk memudahkan pemanenan dan pembungkusan buah. Tunas-tunas samping yang tumbuh berlebihan dari bagian bawah batang harus dipangkas; tindakan ini akan memberikan penutupan yang cukup pada atap para-para dan pertumbuhan yang lebih kuat dari liana atau batang utama. Tanaman ini memerlukan lebih banyak perhatian dan pengaturan daripada Cucurbita lain agar mendapatkan hasil yang optimal.

Pemupukan untuk tanaman pare ini sama seperti pada gambas, kecuali pupuk kandang atau bahan organik lain harus selalu digunakan jika tanahnya berliat. Hal ini akan memberikan tingkat kesuburan dan struktur tanah yang lebih baik. 

Perlindungan Tanaman

Tanaman ini mudah terserang embun tepung dan bercak daun yang disebabkan oleh Cercospora citrulilina, dan pengendaliannya seperti pada perlakuan mentimun. Buahnya sangat rentan terhadap serangan lalat buah dan jika hama ini menyerang maka buahnya harus dilindungi dengan cara dibungkus plastik atau pun daun pisang kering.

menanam-tanaman
(Sumber foto: mgaseed.com)



Artikel sebelumnya: Bercocok tanam Gambas

Rabu, 13 Agustus 2014

Bercocok Tanam Gambas atau Sayur Oyong (Luffa acutangula)

Gambas adalah sayuran pasar yang dikenal di banyak bagian daerah tropika. Benih yang ditanam biasany diperoleh dari hasil pertanaman sebelumnya. Liananya memanjat dengan perantara sulur bercabang lima yang khas. Bunga jantan dihasilkan dengan perbungaan terpisah, dan bunga betina menyendiri pada tangkai. Buahnya memiliki gigir yang menyudut.

Budidaya
Tanamannya tegap dan toleran pada tanah yang kurang subur dan kondisi pemeliharaan yang kurang baik dibandingkan dengan mentimun. Di dataran rendah tropika gambas akan mulai menghasilkan sejak kira-kira enam minggu dan memberikan hasil ekonomis selama 14  sampai 16 minggu. Dalam pengusahaan komersial dan dalam petak-petak percobaan, hasil tertinggi yang dapat diperoleh adalah dalam tingkatan 30 ton per ha dan pertanaman yang lamanya 14 minggu; hasil rata-rata adalah sekitar 20 ton per ha dan sebagian besar perbedaan ini dapat dihubungkan dengan perbedaan pemeliharaan dengan variasi iklim. Jarak tanam, penanaman, pengikatan, dan pemantapan keberhasilan pertanaman kurang lebih sama dengan budidaya mentimun.

Gambas kurang tanggap terhadap pemupukan seperti pada mentimun. Hasil suatu percobaan pemupukan menunjukkan, mulanya takaran pemupukan untuk mentimun digunakan juga dalam pengusahaan pertanaman gambas secara komersial, tetapi setelah beberapa kali pertanaman berurutan tampak jelas bahwa tanaman berdaun sangat rimbun dan hasil buahnya menurun. Setelah dilakukan perlakuan tanpa pemupukan selama beberapa kali pertanaman ternyata hasil yang diperoleh pertanaman gambas meningkat. Karena itu, alternatif pemupukan yang disarankan adalah:
1. Dengan 20 ton per ha kompos organik per tahun (untuk empat kali pertanaman), 300 kg/ha pupuk 12:12:17:2 + UM dan 100 kg/ha urea dalam lima takaran yang sama pada saat umur tanaman 2, 4, 6, dan 8 minggu.
2. Tanpa bahan organik, gunakan 500 kg/ha pupuk majemuk dan 120 kg urea dalam lima takaran yang sama seperti di atas.

Tanaman ini tidak layu seperti pada mentimun, dan pada hari-hari yang kering penyiraman setiap hari sudah cukup. Buah dapat dipetik bila masih sangat muda akan tetapi hasil akan menurun atau jika telah mencapai panjang 30 - 40 cm sudah dapat dipetik sebelum gambas menjadi berserat dan tidak dapat dimakan lagi.

Menanam - Tanaman
(Sumber foto: hortikultura.litbang. deptan.go.id)

Selasa, 12 Agustus 2014

Penggunaan Plastik atau Mulsa Dalam Usaha Tani Sayuran Hidroponik

Penggunaan lembaran plastik yang paling umum dalam usaha pertanian sayuran adalah untuk atap dan juga sebagai mulsa. Atap lembaran plastik yang ditopang di antara dua lapis kawat anyaman heksagonal sangat dianjurkan. Jika pemasangannya baik, plastik akan tertahan kuat dan tidak mudah bergerak karena angin, maka atap tersebut akan tahan sampai beberapa tahun atau dengan kata lain memperpanjang umur penyungkup plastik. Cukup efisien untuk jangka waktu serta penyediaan uang dalam pembuatan atap yang mudah dibongkar dan dilapis ulang jika diperlukan. Atap kaca memang awet akan tetapi memerlukan modal dalam pembuatannya yang cukup besar. Di daerah dengan curah hujan rendah, sama sekali tidak memerlukan atap.

Pada tahun-tahun belakangan ini, kini tersedia lembaran plastik polypropilen berkekuatan tinggi dan lembaran plastik poliamid yang tahan terhadap sinar ultraviolet. Keduanya memiliki rentang umur rata-rata sampai delapan tahun dan telah digunakan untuk rumah tanaman berbentuk tabung yang relatif murah harganya. Bangunan-bangunan tersebut kebanyakan digunakan di daerah yang beriklmi sedang untuk menaikkan suhu bagi pertanaman musim dingin. Di daerah tropika penerapan semacam ini masih terbatas, tetapi meskipun demikian tipe lembaran plastik ini dianjurkan pemasangannya untuk rumah pesemaian dengan sistem hidroponik.

Penggunaan plastik yang masih pada tingkat percobaan, tetapi mungkin dapat digunakan dalam usaha tani sayuran, mencakup penggunaan lembaran plastik hitam untuk sterilisasi tanah (lembaran plastik hitam diletakkan di atas tanah dapat menimbulkan suhu yang sangat tinggi di daerah tropika dan lembaran plastik bening untuk perlindungan tanaman terhadap hama dan penyakit. Saat ini juga telah tersedia lembaran plastik yang sangat ringan dengan lubang-lubang halus, dengan berat hanya 15 g/m kuadrat., yang dapat digunakan untuk membungkus tanaman secara menyeluruh.

Lembaran plastik digunakan untuk menaikkan suhu permukaan di lokasi yang dingin dan untuk mengawetkan lengas di lokasi yang kering. Tipe lembaran yang sangat ringan ini dapat digunakan untuk melindungi pertanaman sayuran terhadap hama dan penyakit yang sering mengganggu, misalnya pada kubis terhadap ngengat punggung intan. Lembaran plastik ini diperdagangkan (dibuat) dengan berbagai tipe perlubangan (perforasi).

Menanam - Tanaman
Salah satu contoh penggunaan plastik untuk atap
(Sumber foto: shafwandi08.blogspot.com)

Jumat, 01 Agustus 2014

Cara Bertanam Kubis (Brassica oleracea)

Budidaya
Kubis dapat ditanam dihampir semua jenis tanah dan sangat toleran pada tanah lempng berat. Kubis juga tanggap baik terhadap kapur, dan tentu saja hal ini akan mengurangi penyakit akar pekuk. Membudidayakan tanaman Kubis (Brassica oleracea) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Benih terlebih dahulu harus disemaikan dalam kotak-kotak atau kantong-kantong kertas ataupun polybag yang berisi tanah di pembibitan dan dipindahtanamkan pada umur empat minggu. Polybag dengan ukuran kira-kira 6 x 4  cm sesuai untuk semai dengan umur 3 - 4 minggu, atau dapat juga dibiarkan lebih lama jika jarak antar polybag dijauhkan jaraknya sekitar 8 cm. 

2. Berikan siraman ringan untuk menghindari penyakit rebah semai dan atau perlakuan tanah dengan thiram atau captan. Tanah dapat juga disterilisasikan dengan panas. Sangat dianjurkan untuk menggunakan perlakuan (perawatan) benih seperti menggunakan thiram atau Ceresan (kalomel bila terdapat penyakit akar pekuk), terutama bila sumber benih tidak diketahui.

3. Setelah pemindahtanaman, tanaman semai harus diberikan naungan selama kira-kira satu minggu. Setelah tumbuh dengan baik, penyiraman rutin secara teratur akan mendorong pertumbuhan kubis. Varietas-varietas tertentu seperti "Y.R. Cross" dan "K.k. Cross" tidak dianjurkan untuk ditanam pada tanah gambut karena adanya kecendrungan timbulnya penyakit busuk hati di tanah tersebut, meskipun telah diberikan tambahan boron dan pemupukan yang cukup. Varietas terbaik untuk tanah demikian adalah "Spring Light". Kompos dan bahan organik busuk juga baik untuk kubis dengan takaran 20 ton/ha per tahun, sebagai tambahan pada pupuk anorganik. Kapur diperlukan sebanyak 2 ton/ha yang dapat bertahan sampai beberapa tahun kecuali jika tanahnya sangat masam.

Perlindungan Tanaman
Penyakit akar pekuk (Plasmodiophora brassicae) yang dapat masuk dalam biji, merupakan penyakit penting dan pengendaliannya yang terbaik masih dengan menggunakan 'kalomel' (merkuri klorida), yang juga dapat memberikan perlindungan terhadap tempayak akar. Pemberian kapur juga dapat menghalangi penyakit akar pekuk. Di daerah yang bebas penyakit akar pekuk, perlakuan benih dengan thiram mungkin dapat digunakan untuk melindungi terhadap penyakit terbawa benih lain. Alterinaria brassicae dan A. brassicicola adalah penyakit daun yang umum merusak kubis dan penyakit kaki hitam (Leptophaeria maculans) dapat menjadi penyakit penting di daerah tropika pada ketinggian yang lebih tinggi. Higiene atau kebersihan, benih dan perlakuan benih akan dapat mengendalikan semua penyakit tersebut.

Dua penyakit bakteri penting lainnya adalah penyakit busuk hitam (Xanthomonas campestris) dan penyakit busuk buah (Erwinia spp.). Keduanya dapat menyebabkan pembusukan seluruh bagian tanaman. Pergiliran tanaman, kebersihan lahan serta benih yang bersih adalah hal mutlak. Perlakuan air panas pada benih (25 menit pada suhu 50 derajat celcius untuk kubis atau 15 menit untuk Cruciferae lainnya) ditambah perlakuan benih dengan senyawa merkuri akan menghilangkan bakteri.

Hama tropika utama adalah ulat punggung intan (Plutella xylostella). Berbagai insektisida akan mengendalikannya sama baiknya dengan Bacillus thuringiensis, suatu bakteri pengendali hayati. Serangga dapat cepat menjadi tahan terhadap insektisida kimia dan akan bijaksana untuk menggunakan insektisida berbeda secara bergantian, terutama yang berasal dari kelompok insektisida yang berbeda. Perangkap cahaya di dekat bedengan dengan baskom yang berisi air di bawahnya akan menangkap ngengat dalam jumlah besar. berbagai kumbang pemakan daun, ulat dan afid merupakan hama umum dan dapat dikendalikan dengan berbagai zat kimia.

Pada tanah gambut, penyemprotan hara mikro dan borak mungkin diperlukan. Untuk pengendalian gulmanya, Amels dan Prefar sudah cukup baik.

menanam - tanaman
Penyakit busuk hitam
(Sumber foto: trubushijau.blogspot.com)

Kamis, 17 Juli 2014

Pembuatan Bedengan di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi

Daerah Datar (Daerah Dataran Rendah)
Daerah datar memiliki masalah yang paling kecil jika dilihat dari segi pembuatan bedengan, tetapi sangat mutlak diperlukan untuk terjaminnya pembuangan air yang baik. Pengatusan yang baik dapat dicapai jika dibuatkan parit-parit pengatusan lapangan menuju ke saluran-saluran pengatus alami dan bedengan-bedengan yang relatif tinggi untuk pertanaman sayuran. Parit-parit pengatusan biasanya dibuat menurut pola kisi-kisi (grid pattern). Di daerah yang bercurah hujan tinggi dimana periode kering bukan merupakan masalah, airnya seharusnya selalu tersedia untuk pengairan setiap waktu, tetapi di daerah yang mengalami kekurangan air secara berkala, diperlukan adanya sekat-sekat (tile bunds) sepanjang parit pengatusan untuk meningkatkan penerimaan curah hujan. Dalam hal ini pembuatan guludan dan paliran leboih baik digunakan daripada bedengan yang lebar (bedengan dengan lebar 1 m atau lebih) karena hal ini akan memberikan kemudahan bagi tanaman untuk mencapai air. Di tanah yang sangat rendah, harus dibuatkan bedengan cembung.

Daerah Berbukit (Daerah Dataran Tinggi)
Daerah berbukit seringkali diteras untuk banyak tipe budidaya sayuran. Ini terutama disebabkan karena bedengan memerlukan perhatian lebih untuk semua produksi sayuran pasar, dan jalan masuk ke lahan pertanaman tidak mudah apabila tidak dibuat teras-teras. Pertanaman dengan barisan-barisan berjarak lebar dapat diusahakan dalam barisan tunggal sepanjang lereng bukit.

Pembuatan bedengan menurut menurut garis tinggi diperlukan di daerah berbukit untuk mencegah erosi tanah, yang dapat sangat parah jika tanah diolah naik dan turun bukit. Bedengan dapat dibuat pada teras yang telah dibuat terlebih dahulu atau dapat dibuat sehingga permukaan bedengan sesuai dengan kemiringan umum bukit. Hal ini umumnya dilakukan pada kemiringan yang lebih kecil.

Dalam pembuatan bedengan atau teras perlu dibedakan antara tanah-tanah yang tidak stabil, seperti yang berbahan induk batu lempung (shale) dan batuan pasir dengan tanah-tanah yang stabil sperti tanah-tanah granit dan basalt. Tanah yang pertama membutuhkan pengelolaan yang jauh lebih cermat. Masalah utama pada tanah-tanah tersebut di daerah berbukit adalah kecenderungannya untuk tererosi. Di daerah datar hal ini hanya akan mengakibatkan rebahnya tanaman, tetapi di daerah berbukit resiko tanah longsor sangat besar. Oleh karena itu, dalam perhitungan curah hujan tinggi, teras harus dibuat sedemikian rupa agar mendorong aliran permukaan yang cukup tetapi sekaligus akan menghindari erosi tanah. Di daerah yang curam harus dibuat teras-teras bangku dengan kemiringan 1 - 2o sepanjang teras, dengan lubang-lubang unutk pengatusan pada selang jarak yang tepat. Lubang-lubang ini harus dilindungi terhadap erosi, dengan membuat pintu air dari batu atau semen atau bisa juga dengan membuat daerah pembuangan yang cukup berumput. Pertumbuhan rumput dalam saluran pengatusan dapat dikendalikan dengan pembabatan secara berkala, dan hasilnya dapat dijadikan sumber bahan mulsa. Erosi bedengan pada teras juga dapat dikurangi dengan pemulsaan. Sebaiknya penggunaan tanah-tanah tak stabil, usaha tani sayuran dibatasi pada derah yang kurang curam, tetapi sayangnya dalam praktik, lereng-lereng yang sangat curam kadang-kadang digunakan untuk budidaya sayuran di daerah tropika. Biasanya usaha tani sayuran semacam ini terletak di stasiun pegunungan (hill station) dimana jenis sayuran iklim sedang yang bernilai ekonomi tinggi dapat diusahakan. Persiapan lahan yang mahal, tetapi produksi sayuran dekat dengan pasar yang sesuai biasanya menguntungkan dan dapat menutup biaya awal yang tinggi. 

Pada tanah-tanah granit dan vulkanik/gunung berapi, lereng yang lebih curam dapat diusahakan dengan aman dan tindakan-tindakan pencegahan yang seksama terhadap longsornya tanah umumnya tidak diperlukan.

menanam-tanaman
Gambar bedengan/teras pada daerah berbukit
(Sumber foto: pkm.openthinklabs.com)

Rabu, 16 Juli 2014

Kapur, Pengapuran Tanah Masam untuk Meningkatkan pH Tanah

Di daerah-daerah tropika kebanyakan tanahnya bersifat masam, karena pengaruh curah hujan yang tinggi sehingga basa-basa dapat tukarnya tercuci. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemasaman  tersebut adalah dengan melakukan pengapuran jika akan dilakukan usaha pertanaman sayuran, terutama untuk kerabat Cruciferae (kerabat kubis, kubis bunga dan sebagainya). Tanah-tanah yang terutama membutuhkan kapur adalah tanah Oxisol, Alfisol dan Ultisol yang mengalami pencucian berat. Tanah gambut dataran rendah dan tanah sulfat masam pesisir (sering terdapat bersamaan) tidak dapat digunakan untuk lahan pertanian tanpa terlebih dahulu diberikan kapur, karena pada tingkat kemasaman dibawah sekitar pH 5,5, ion-ion aluminium dan pada bebberapa ion-ion tanah magnesium, dibebaskan dari mineral-mineral lempung dan beracun bagi kebanyakan jenis tanaman.
Kapur, Pengapuran Tanah Masam untuk Meningkatkan pH Tanah
(Ilustrasi)
Banyaknya kapur yang dibutuhkan untuk tanah dan pertanaman tropika berbeda dengan yang telah lazim berlaku di Amerika utara dan Eropa. Ini disebabkan karena tanaman tropika dan varietas-varietasnya teradaptasi lebih baik pada tanah-tanah masam daripada tanaman iklim sedang. Rizobia kacang-kacangan tropika, seperti dari kelompok kacang tunggak yang kadang-kadang digunakan untuk menginokulasi akar legum (kacangan) lain, dapat berfungsi pada tingkat pH yang lebih rendah.

Takaran pupuk yang dianjurkan bervariasi menurut  pH. Pada tanah yang sangat masam seperti tanah-tanah sulfat masam (Tanah sulfat masam biasanya adalah tanah yang terbentuk di daerah pantai), mungkin diperlukan sebanyak 5 ton/ha selama beberapa tahun untuk menetralkan asam yang terbentuk pada waktu pengairan atau pengatusan. Kebanyakan tanah tropika dengan pH dalam kisaran 5,0 sampai 5,5, akan lebih baik jika diberika perlakuan pengapuran kira-kira 1 ton/ha kapur.

Manfaat utama dari kapur adalah sebagai berikut:
1. Kapur meningkatkan mineralisasi nitrogen organik dalam, sisa-sisa tanaman, membebaskan nitrogen sebagai ion ammonium dan nitrat yang demikian tersedia bagi tanaman.
2. Kalsium dan magnesium, yang merupakan unsur pokok utama kapur, adalah hara esensial yang dapat membatasi pertumbuhan tanaman pada tanah-tanah tropika masam.
3. Pada tanah lempung masam, kapur dapat membantu memperbaiki kegemburan tanah dengan meningkatkan struktur remah atau gembur.

Tetapi tanah-tanah tropika dengan nilai pH lebih besar dari 6, tidak akan mendapatkan manfaat dari kapur bahkan pengapuran dapat merugikan atau merusak.

Bahaya pengapuran yang berlebihan dapat menampakkan diri dalam bentuk-bentuk sebagai berikut:
1. Tanaman menjadi klorotik (kuning atau pucat) karena kekurangan zat besi.
2. Seng, tembaga, mangan dan boron dapat menjadi kurang terlarutkan dan dengan demikian akan kurang tersedia bagi tanaman.
3. Fosfor dan molibdenum dapat menjadi kurang tersedia karena pH yang meningkat.

Cara paling lazim untuk mengatasi pengapuran yang berlebihan adalah dengan pemberian bahan organik, seperti pupuk organik hewani dalam jumlah yang besar.

Dalam usaha budidaya sayuran, karena tanah sering diolah, kapur dapat diberikan dalam takaran terbatas pada setiap pertanaman sampai kemudian pH tanah mencapai nilai 6. Beberapa pertanaman, terutama kerabat kubis sangat tanggap baik terhadap kapur dan takaran yang lebih tinggi biasanya menguntungkan, bahkan pada tanah yang relatif tidak masam.

Kapur harus disebarkan merata pada bedengan dan dibenamkan pada waktu pengolahan tanah bedengan.