Tampilkan postingan dengan label Agriculture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agriculture. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Agustus 2015

Bahan Dasar Tanah Polibeg Persemaian

Membuat tanaman tumbuh subur dan berbuah lebat selalu menjadi tujuan utama bagi petani dan penggiat bercocok tanam, karena dengan demikian jerih payah selama melakukan kegiatan pertanaman menjadi terobati, manakala tumbuhan yang kita tanam tersebut tumbuh dengan baik, namun tentu saja membuat keinginan yang demikian terwujud kita perlu melakukan usaha yang maksimal, saran saya yang terbaik untuk semua kegiatan menanam tanaman tersebut adalah, kita melakukan usaha bertanam tersebut dengan tetap mengedepankan konsep non pestisida dan ramah lingkungan.

"Sering rekan-rekan saya sesama petani bertanya, apakah mungkin untuk melakukan kegiatan bercocok tanam tersebut tidak menggunakan bahan kimia buatan? Jawabannya sangat mungkin sekali, orang-orang bercocok tanam selalu menginginkan bagaimana produksi dari tanamannya banyak, namun orientasi yang demikian membuat kita lupa bahwa hasil yang banyak itu apakah sehat untuk kita konsumsi, hal yang baik dan seimbang tentu saja dengan turut mempertimbangkan bahwa hasil yang banyak tersebut juga seharusnya sehat untuk kita konsumsi".

Pembahasan kita kali ini adalah tentang bagaimana kita mempersiapkan tanah persemaian benih tanpa menggunakan pestisida dan ramah lingkungan, untuk melakukan hal tersebut ada beberapa langkah yang perlu kita siapkan.

Bahan dasar tanah persemaian

1. Tanah yang baik kita ambil untuk persemaian adalah tanah yang banyak mengandung humus, untuk mendapatkan humus tanah tersebut bisa kita peroleh dari tanah yang terdapat pada SISA di SEKELILING PEMBAKARAN, ingat tanah yang kita ambil adalah tanah yang berada di SEKELILING PEMBAKARAN, bukan tanah yang terdapat pada pembakaran.

2. Setelah tanah di SEKELILING PEMBAKARAN diambil, kemudian tanah tersebut diayak dengan ayakan halus.

3. Berikutnya kita tinggal persiapkan polibeg pembenihan, setelah tanah diayak semprotkan air bekas cucian beras yang sudah dicampur dengan biang bakteri Em4, aduk tanah sampai rata, jika anda merasakan tanah tersebut terasa dingin itu tandanya adukan sudah bagus.

4. Kemudian masukkan biji yang akan kita jadikan benih.

5. Hal yang perlu diperhatikan berikutnya, kadar air dalam tanah yang sudah didalam polibeg, jangan membuat polibeg terlalu banyak air, karena dengan terlalu banyak air maka jamur juga akan aktif berkembang.

6. Setelah lima langkah diatas sekarang polibeg tinggal kita letakkan ditempat yang disinari cahaya matahari pagi.

Sekarang kita tunggu benih yang sudah disemai dalam polibeg tersebut keluar tallusnya, perlu juga diperhatikan menjelang benih tumbuh, siapkan juga polibeg besar tempat pemindahannya, sekian tips singkat bercocok tanam dari saya tentang bahan dasar tanah persemaian untuk polibeg, selamat mencoba.

Bahan Dasar Tanah Polibeg Persemaian


Mari kita selamatkan tanah dari kimia berbahaya, untuk generasi kita berikutnya.

Kamis, 25 Juni 2015

Meluruskan Konsep Bertanam Hidroponik

Meluruskan Konsep Bertanam Hidroponik

Alangkah populernya konsep bertanam dengan cara hidroponik akhir-akhir ini, betapa tidak konsep hidroponik menjanjikan hasil yang lebih baik, dibanding pertanaman konvensional, tentu saja bagi pelaku petani hidroponik hal tersebut bukan sesuatu yang buruk, dan hasil yang lebih baik dibanding bertanam secara konvensional menggunakan areal yang ada, sebenarnya hal itu perlu pengkajian ulang.

Bertanam secara hidroponik sangat popular didaerah perkotaan, pasalnya diperkotaan sulit untuk memperoleh lahan yang memadai untuk bercocok tanam, dan hal itu sangat bertolak belakang dengan suasana pedesaan, dimana di desa ketersediaan lahan masih cukup untuk bercocok tanam.

Tananam hidroponik dari asal katanya menjelaskan, bahwa perlakuan tanaman tersebut lebih terfokus kepada ketersediaan air, dengan mengabaikan unsur tanah orang-orang perkotaan juga bisa bercocok tanam, baik itu di atas rumah maupun di dindingnya, dengan kata lain tanah sudah tidak menjadi prioritas lagi.

Ilmu pertanian dan botani sudah menjelaskan bahwa tanah merupakan syarat utama untuk tumbuhnya suatu tanaman, meski dalam konsep hidroponik tanah hanya sebagai tempat berdirinya batang pokok tanaman, berikutnya ketersediaan unsur senyawa untuk pertumbuhan tanaman digantikan dalam bentuk cair, lebih jauh dari kedua hal tersebut tanaman sesungguhnya membutuhkan sosialisasinya dengan yang lain, seperti serangga liar dan mikroorganisme yang terdapat disekitar tanah pertanaman, konsep tersebut seakan terbantahkan oleh sistim hidroponik, dengan menganggap semakin berkurangnya interaksi sosial tanaman dengan lingkungan alamiahnya, maka kemungkinan tanaman akan tumbuh dengan subur dan baik lebih besar, padahal sebenarnya tidak demikian.

Alam semesta melahirkan berbagai serangga dan mikroorganisme yang berkesinambungan dengan tanaman, maka dari itu ada istilah penyerbukan yang diperbantukan oleh serangga, mikroorganisme yang membantu menguraikan zat makanan tanaman, itu pula mungkin yang sangat mendasari perbedaan bertanam secara hidroponik dengan konvensional di tanah, ketika usaha pertanaman lebih dititik beratkan kepada unsur air, sesungguhnya penggiat hidroponik agak sedikit usaha ekstra, karena memikirkan bagaimana unsur untuk tumbuhnya tanaman ini dirubah bentuknya ke air.

"Sebaik-baiknya pupuk cair lebih baik sebenarnya ketersediaan unsur alami yang terdapat di tanah, di dalam tanah terjadi penguraian yang komplek bagi kebutuhan tumbuh tanaman, hal itu belum lagi jika ditinjau dari segi biaya, ketika tanah yang normal menyediakan segala kebutuhan untuk tumbuhnya tanaman, maka biaya bagi pertanaman konvensional di tanah lebih ringan dibanding dengan pola hidroponik".

Jika anda bermaksud melakukan usaha pertanian dengan gaya hidroponik, alangkah bijaknya jika anda juga menganalisa lebih mendalam, mana yang lebih tepat cara yang anda tempuh dengan hidroponik atau dengan pola konvensional di pertanahan, karena bagaimanapun juga interaksi sosial tanaman dengan lingkungan alaminya merupakan sesuatu yang lebih penting, yang terkadang hal tersebut tidak diperoleh pada pola bertanam hidroponik.

Salam �

Selamatkan tanah dengan organik

Jumat, 15 Agustus 2014

Bercocok Tanam Kacang Panjang (Vigna sesquipedalis)

Kacang panjang adalah salah satu sayuran pasar yang penting di daerah dataran rendah tropika, dapat ditanam dihampir semua jenis tanah, akan tetapi dapat memberikan hasil yang lebih baik pada tanah lempung daripada tanah gambut. Kacang panjang tidak memerlukan kapur kecuali jika tanahnya sangat masam; di tanah gambur dengan pH di bawah 5,0 dianjurkan 1 ton/ha per tahun. 

Budidaya

Budidaya kacang panjang dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Kacang panjang dapat ditanam dengan para-para kerangka A atau pancang-pancang sepanjang 2 m, dengan jarak 60 cm dalam dua baris pada bedengan dengan lebar 1,2 m. 
2. Dua benih sebaiknya ditanam pada pangkal setiap pancang. Melakukan perendaman benih beberapa jam sebelum tanam akan mempercepat perkecambahan dan keberhasilan pertanaman. Untuk mendapatkan pertumbuhan tajuk penuh.
3. Penyulaman tempat-tempat yang kosong, harus dilakukan dalam satu minggu. Seperti pada sayuran lain, merupakan hal yang baik untuk menanam tanaman cadangan dalam kantong plastik atau polibag. Setiap benih yang mati dapat dapat segera disulam dengan tanaman lain dari tempat cadangan yang mempunyai umur yang sama. Ini akan menjamin tidak adanya perbedaan umur kemasakan.
4. Kacang panjang memanjat dengan cara melilit dan cenderung tergelincir ke bawah jika pancang para-paranya terlalu licin. Beberapa paku yang dipasang pada pancang akan membantu pemanjatan sulur. Jika pancang dibuat dari batang bercabang, maka canag-cabang tersebut dapat dipangkas dengan meninggalkan sisa-sisa ranting 4 - 5 cm sepanjang seluruh panjang cabang. Tanaman harus diikat pada pancang selama beberapa minggu pertama sampai mereka dapat memanjat dengan baik.

Anjuran pemupukan untuk mendapatkan hasil yang baik selama jangka waktu yang panjang adalah sebagai berikut:
1. Pupuk kandang atau pupuk kompos lainnya diperlukan sebanyak 20 ton/ha sekali setahun, bersama dengan 200 kg pupuk majemuk dengan perbandingan 12:12:17:2 + UM dan 100 kg kiserit setiap hektar yang dibagi dalam 5 kali dosis yang sama pada waktu tanaman berumur 2, 4, 6 dan 8 minggu.
2. Tanpa bahan organik, pupuk yang digunakan adalah 200 kg pupuk majemuk, 300 KCl, 200 kg urea, 400 kg superfosfat dan 100 kg kiserit per ha, cara pemberiannya seperti di atas.

Kekurangan magnesium sering terjadi pada kacang tanah, dengan demikian kiserit merupakan komponen penting dari perencanaan pemupukan. Jika magnesium tidak diberikan pada bedeng pertanaman komersial, hasil akan menurun setelah dua kali pertanaman berurutan. Larutan sulfat magnesium (5%) dapat juga disemprotkan pada daun.
Kacang panjang cukup tahan  dan tidak memerlukan penyiraman setiap hari pada tanah dengan lapisan yang dalam. Pada cuaca kering penyiraman dilakukan dua kali seminggu, dengan kepastian pembasahan  yang baik sudah cukup.

Perlindungan Tanaman

Penyakit karat (Uromyces appendiculatus) dan penyakit tepung (Oidium spp) merupakan dua penyakit yang paling berat saat cuaca kering; Bayleton dapat mengendalikan keduanya. Penyakit jamur lainnya adlaah bercak daun Cercospora canescens dan Ascochyta phaseolorum, yang lazim tetapi biasanya tidak terlalu mengganggu. Di daerah lembab yang lebih basah penyakit hawar jaring (web blight) (Thanatephorus cucumeris) dan busuk daun dan buah (Choanephora cucurbitarum) memerlukan pengendalian dengan fungisida spektrum lebar

Penyakit mozaik virus (penyakit kuning) adalah penyakit yang paling berat, ditularkan oleh kumbang dan menyebabkan gejala burik berat, distorsi, dan nekrosis apikal Terjadi penurunan besar hasil bahkan kematian tanaman. Penyakit ini juga tertular pada benih sehingga merupakan keharusan untuk menggunakan benih bersih, yang pemilihannnya harus dari tanaman yang paling kuat dan sehat. Kebersihan, pengendalian vektor dan penggunaan benih sehat akan dapat mengendalikan penyakit ini dengan baik. Cara pengendalian yang lebih rinci dapat dilihat disini.

Lalat buah tidak begitu berat pada tanaman ini dibandingkan dengan buncis, tetapi meskipun demikian memerlukan pengendalian strategis karena larvanya dapat menyebabkan terbelahnya batang tanaman yang sedang tumbuh. Perlakuan tanah pada waktu tanam dengan insektisida sistemik seperti carbofuran atau diazinon akan mengendalikan hama ini. Untuk tanaman yang lebih dewasa mungkin diperlukan penyemprotan insektisida sistemik (misalnya Dimecron). Hama lain adalah afid ( yang juga menularkan beberapa virus), berbagai kumbang dan ulat pemakan daun dan ulat tanah. Pengendalian mungkin diperlukan tetapi ketika pemetikan telah dimulai bahan kimia harus digunakan secara hati-hati, gunakan hanya yang memerlukan jangka waktu kerja yang pendek saja.

Untuk pengendalian gulma dianjurkan menggunakan Basagran, Amex, Amiben dan Pregard.

Menanam-Tanaman
(Sumber foto: produknaturalnusantara.com)