Tampilkan postingan dengan label cengkeh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cengkeh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 November 2014

Penyakit dan Hama Pengganggu Tanaman Cengkeh (Eugenia aromatica), serta Cara Pengendaliannya

Seperti tanaman lain, tanaman cengkeh juga sering diserang oleh penyakit dan hama pengganggu yang dapat menurunkan produktifitas tanaman cengkeh. Berikut beberapa penyakit dan hama yang sering mengganggu tanaman cengkeh beserta anjuran cara pengendaliannya.

1. Penyakit busuk akar
Penyakit yang disebabkan oleh cendawan seperti Pythium, Rhizoctonia, Phytopthora, ini biasanya menyerang pada masa kritis pertama tanaman cengkeh. Gejala yang nampak adalah daun menguning, layu dan kemudian mengering, dan jika tanaman dicabut akan nampak akarnya yang membusuk. 

Anjuran mengatasi penyakit ini adalah: secara teknis, tanaman dicabut kemudian dibakar agar tidak menyebar ke tanaman lain, sedangkan secara kimia, setelah tanaman yang terserang dicabut dan dibakar, tanaman di sekitar tanaman sakit tersebut disemprot dengan menggunakan Koperoxychloride  0,5% atau setiap 5 gr dilarutkan dengan 1 liter air.

2. Penyakit daun
Cendawan Glorosporium piperantum dan Cylindrocladium auinqeseptatum merupakan penyebab penyakit ini. Penyakit daun muncul pada saat persemaian dan awal tanam, disebabkan oleh karena pelindung tanaman terlalu rapat sehingga kondisi tanaman menjadi lembab. Gejala akibat serangan cendawan Glorosporium piperantum yaitu pada daun-daun tua nampak bercak-bercak berwarna kuning kecoklatan, cendawan ini dapat meluas dengan perantara angin. Sedangkan gejala akibat serangan Cylindrocladium yaitu pada daun terlihat bercak-bercak berwarna merah coklat sedangkan di bagian tengah daun berwarna putih, serangannya sangat cepat dengan merusak pucuk dan tangkai. 

Anjuran dalam mengatasi penyakit ini adalah dengan melakukan penjarangan pelindung persemaian, dan karena penyakit ini dapat terbawa angin kencang maka sebaiknya lakukan penyemprotan dengan menggunakan Koperoxychloride 0,5%.

3. Die back atau mati ranting
Penyebab penyakit ini adalah membusuknya sebagian perakaran tanaman sehingga mengganggu pengambilan zat hara dari dalam tanah. Biasanya penyakit ini terjadi pada tanaman umur 5 tahun ke atas yang telah menghasilkan bunga, terutama pohon yang tumbuh dekat dengan permukaan air. Gejala yang dimunculkan adalah daun pada beberapa cabang berubah warna dari kekuning-kuningan menjadi menguning  dan pada akhirnya akan rontok, diikuti dengan matinya cabang tersebut. Tanaman tetap hidup tetapi sebagian dahannya mati.

Cara mengatasi penyakit ini yaitu karena penyebab penyakit ini adalah faktor fisiologis (keadaan lingkungan), maka sebaiknya tanah di sekitar tajuk tanaman segera digemburkan, di luar tajuk tanaman dibuatkan lubang angin, lakukan pemberian pupuk dengan benar serta lakukan perbaikan drainase di sekitar tanaman.

4. Penyakit mati bujang
Penyebab utama penyakit ini adalah kondisi tanah yang kurang sesuai untuk pertumbuhan cengkeh, fraksi tanah terlalu banyak liat atau dapat juga dikarenakan tanah di lapisan bawah terdapat lapisan padas, selain itu, drainase yang kurang baik sehingga daya serap tanah terhadap air berkurang. Pada musim hujan, tanahnya terlalu lekat sedangkan pada musim kemarau tanah dapat retak-retak. Biasanya kondisi ini muncul setelah masa panen, dimana tanah di sekitar batang tanaman akan menjadi padat dan becek pada saat melakukan panen. Akibat yang ditimbulkan adalah akar tanaman akan mati karena kekurangan oksigen dan pada saat becek akar akan menderita keracunan sehingga penyerapan zat hara dapat dikatakan terhenti.

Gejala penyakit ini dicirikan dengan daun-daun di bagian pucuk layu berwarna hijau suram kemudian berubah menjadi kuning dan akhirnya akan rontok dan tanaman pun segera mati.

Untuk mencegah penyakit ini, dianjurkan untuk memilih tanah yang cocok untuk tanaman cengkeh, lakukan pengolahan tanah pengolahan tanah yang baik serta perlakuan persemaian dan cara penanaman yang tepat.

5. Penyakit ganggang
Penyakit ini disebabkan oleh ganggang Cephaleuros mucoda, serangannya tertuju pada bagian daun, sejak daun-daun muda di persemaian sampai pada waktu tanaman tersebut berumur muda setelah ditanam pada lahan. Gejala yang terlihat adalah pada daun terdapat bercak-bercak kecil berwarna merah, sedangkan di bagian tengah daun terdapat bintik-bintik putih kekuningan. Serangan yang hebat dapat menggugurkan daun sehingga ranting tampak seakan-akan mati. Keadaan ini muncul karena kurangnya peneduh atau dapat juga karena kekurangan zat makanan.

Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan memberikan perlindungan atau peneduh yang baik, serta melakukan penyemprotan dengan Koperoxychloride 0,5%. Jika peneduh kurang baik, biasanya pada musim kemarau tanaman akan sangat menderita karena tidak tahan terhadap teriknya sinar matahari, karena itu selain peneduh yang baik lakukan penyiraman dengan baik sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Adapun hama yang sering mengganggu pertumbuhan tanaman cengkeh adalah:
1. Nothopeus hemipterus, Nothopeus fasciati pennis, yang merupakan hama penggerek batang, yang menyerang batang bagian bawah tanaman yang berumur 4 sampai 8 tahun. Biasanya gejala yang tampak adalah adanya lubang gerekan dan kotoran hasil gerekan yang dikeluarkan melalui lubang tadi. Penggereknya berasal dari telur kumbang Nothopeus fasciati pennis yang menetas menjadi larva, pada fase larva inilah hama tersebut melakukan pengrusakan batang tanaman, yang pada akhirnya larva ini akan menjadi kumbang remaja. Untuk memberantas larva tersebut dianjurkan untuk melakukan pembersihan telur-telur kumbang dari tanaman, kemudian lubang gerekan ditutup rapat dengan menggunakan kapas yang telah dibasahi dengan insektisida.

2. Kutu-kutu daun yang terlihat pada tangkai daun tanaman yang masih muda tampak memutih. Hama ini berbahaya bagi pertumbuhan tanaman karena dapat menghisap cairan tanaman pada daun-daun yang ditempatinya, kadang-kadang dapat juga muncul gejala pada daun bagian bawah berwarna hitam (jelaga). Serangan ini dapat melayukan daun muda serta tangkai yang diserangnya karena menghambat proses asimilasi daun. Munculnya kutu-kutu daun tersebut sering juga diikuti dengan munculnya semut, karena cairan yang dihisap oleh kutu daun mengeluarkan cairan yang manis. Pemberantasannya dapat dilakukan dengan penyemprotan dengan medol 0,5% atau endrin 1%.

3. Rayap, juga sering mengganggu tanaman cengkeh dengan menyerang akar-akar tanaman, biasanya akan menyerang bibit yang baru saja dipindahkan ke lahan, untuk mengatasi pengganggu ini dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida .

4. Tupai, di beberapa daerah tupai juga dapat menjadi hama bagi tanaman cengkeh, tupai memakan kulit dan batang tanaman. Cara memberantasnya adalah dengan melakukan pemburuan menggunakan senapan angin, atau dapat juga diberantas dengan memasang perangkap yang telah diracuni.

menanam-tanaman
Gambar Larva Penggerek Batang Cengkeh
(Sumber foto: tugaspertanian.blogspot.com)

Budidaya Tanaman Cengkeh (Eugenia aromatica)

Seperti yang telah dijelaskan di artikel sebelumnya, tanaman cengkeh harus terlebih dahulu dibibitkan sampai berumur 1 tahun atau lebih. Setelah bibit cengkeh berumur 1 tahun, maka sebainya segera lakukan persiapan pemindahan bibit lahan, berikut hala-hal yang harus diperhatikan saat pemindahannya sampai pada perawatan tanamannya.

A. Pemindahan bibit tanaman ke lahan yang dikehendaki
Jika ingin memanfaatkan lahan pekarangan untuk bertanam cengkeh, maka segera buat lubang-lubang tanam dengan ukuran lebar dan dalam 80 cm dengan jarak antar lubang 8 m, kemudian biarkan lubang-lubang tersebut selama 2 sampai 3 bulan. Selanjutnya, 15 sampai 30 hari sebelum bibit ditanam tutuplah lubang-lubang tersebut dengan menggunakan tanah-tanah lapisan atas yang digali dari sekitar lubang. Kemudian jika tiba masa tanam, galilah lubang tadi secukupnya sesuai dengan ukuran tanah pada polybag yang berisi bibit. Sobek dengan hati-hati polybagnya, sebaiknya gunakan pisau yang tajam agar bibit tidak banyak tergoncang. Tanamlah bibit tersebut beserta tanahnya ke dalam lubang tadi, usahakan bibit tersebut tegak dan stabil. Sebaiknya penanaman bibit dilakukan menjelang bulan Desember di mana hujan telah mencukupi untuk pertumbuhan tanaman. 

Jika ingin bertanam cengkeh pada lahan yang lebih luas misalnya 1 ha atau lebih, perlakuan-perlakuannya sama seperti di atas, tetapi ada beberapa persyaratan-persyaratan penting yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Jarak antar tanaman sebaiknya 8 m ke segala arah, jarak yang lebar ini penting untuk pertumbuhan tanaman kelak, serta untuk pembuatan rorak atau selokan-selokan kecil di antara tanaman, agar air tidak tergenang di sekitar tanaman yang baru ditanam, sedangkan jika ditanam pada lahan yang memiliki kemiringan perlu dibuatkan terasering atau sengkedan untuk menghambat laju erosi.

2. Buatkan peneduh untuk tanaman yang baru ditanam tersebut untuk mengurangi teriknya sinar matahari dan terpaan butiran air hujan, sampai pertumbuhan bibit tersebut mulai stabil.

3. Antar barisan tanaman, sebaiknya ditanami tanaman pupuk hijau atau tanaman leguminosa atau kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang tunggak atau jagung, asalkan jangan menanam tanaman ubi kayu.

4. 2 minggu atau lebih setelah penanaman, periksa apakah ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang stabil, jika ada segera lakukan penyulaman atau mengganti tanaman tersebut dengan bibit yang baru, karena itu penting untuk menyiapkan tanaman pengganti.

B. Penyiraman
Jika penanaman dilakukan di areal yang luas dan air hujan yang turun dalam jumlah sedikit, sebainya penyiraman dilakukan pada sore hari sekitar pukul 15.30 dengan menggunakan sprinkle watering (penyiraman pancaran), karena jika menyiram satu per satu akan memakan waktu lama dan tenaga banyak.

C. Pemeliharaan
Gemburkan tanah yang berada di sekitar batang tanaman dengan jarak 1 m, tapi lakukan dengan hati-hati agar tidak memperngaruhi akar tanaman yang baru berkembang dan lakukan pembersihan rumput yang tumbuh di sekitar tanaman.

D. Pemupukan
Pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun, yaitu saat menjelang musim hujan dan menjelang akhir musim hujan atau menjelang musim kemarau. Cara pemupukannya adalah dengan membenamkan pupuk ke dalam tanah di sekitar batang tanaman, agar saat hujan pupuk yang telah diberikan tidak terbawa oleh aliran air hujan. Adapun dosis anjuran untuk pemupukannya adalah sebagai berikut:

1. Sebagai pupuk dasar, yaitu saat menutup lubang-lubang tanam seperti yang dijelaskan di atas, (15 sampai 30 hari sebelum penanaman), jika menggunakan pupuk organik dosisnya sekitar 30 kg per lubang yang dicampurkan secara merata dengan tanah yang akan digunakan sebagai penutup, kemudian dimasukkan ke dalam lubang . Jika menggunakan pupuk kimia, dosis yang digunakan adalah sekitar 70 kg NPK per lubang yang dicampur merata dengan tanah penutup.

2. Sebagai pupuk pemeliharaan (pemupukan yang dilakukan 2 kali setahun), dosis yang digunakan adalah untuk setiap pohon sekitar 100 gr sampai 500 gr NPK (ZA, urea, DS, TS dan ZK), yang harus dibenamkan di sekitar tajuk tanaman, atau selurusan dengan tajuk terluar tanaman).

Pemupukan boleh tidak dilakukan jika menginginkan tanaman cengkeh membutuhkan waktu lama untuk berbunga, artinya tanaman cengkeh yang tidak diberikan pupuk akan berbunga setelah berumur 6 tahun, dan jika dilakukan pemupukan cengkeh akan berbunga pada umur 3,5 tahun.

Sebaiknya dilakukan penyemprotan dengan BB 1 - 2% agar tanaman cengkeh tahan terhadap hama dan penyakit.

E. Masa kritis dalam pertumbuhan
Masa kritis pertama biasanya dialami setelah tanaman berumur 1 hingga 3 tahun, hal dipengaruhi oleh kelembaban. Oleh karena itu, pemeliharaan harus menjadi prioritas utama, jika masa kritis tersebut telah dilalui maka tanaman cengkeh akan tumbuh dengan subur, normal, dan pertumbuhannya menjadi pesat.

Masa kritis kedua yang dialami oleh tanaman cengkeh adalah setelah berumur antara 8 sampai 12 tahun, ada juga yang sampai 20 tahun, yaitu setelah berbuah lebat, daun-daunnya akan berguguran, waluapun demikian kemampuan berbunganya akan tetap baik, jika masa kritis tersebut telah lewat maka tanaman cengkeh akan tumbuh dengan normal hingga berumur 100 tahunan.

menanam-tanaman
(Sumber foto: www.thefloweringgarden.com)


Rabu, 29 Oktober 2014

Kultur Teknik, Cara Penyemaian Tanaman Cengkeh (Eugenia aromatica)

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu pertanaman cengkeh adalah dimulai dari cara melakukan pembibitan atau penyemaian sampai pada pemeliharaan tanaman cengkeh yang telah berproduksi. Penyemaian yang baik dimulai dari proses pemilihan biji yang baik, pembuatan tempat penyemaian hingga perawatannya. Dibutuhkan ketelatenan dalam proses penanaman serta perawatannya, agar tanaman cengkeh menghasilkan bunga seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, perlulah kiranya para petani atau siapa pun yang berkepentingan dalam urusan cengkeh memperhatikan hal-hal berikut.

A. Pemilihan biji untuk pembibitan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih biji yang akan dijadikan bibit adalah sebagai berikut:
1. Pilihlah biji dari pohon induk yang telah berumur 14 tahun ke atas, yang memiliki tingkat produksi yang tinggi, kualitas dan kuantitasnya baik, subur serta tahan terhadap hama dan penyakit tanaman.
2. Biji yang diambil adalah yang berwarna kuning muda, kondisinya mulus, jangan mengambil biji yang berbercak kehitaman.
3. Ukuran biji harus normal, jangan terlalu kecil atau terlalu besar.
4. Biji berisi atau padat, cara mengetahuinya adalah dengan merendam biji yang telah dikupas ke dalam baskom yang berisi air, biji yang tenggelam ke dasar baskom itulah yang digunakan, biji yang mengapung kurang baik untuk dijadikan bibit.

B. Pembuatan penyemaian
Hal yang harus diperhatikan dalam membuat tempat penyemaian adalah tanah yang digunakan serta kondisi lokasi yang harus sesuai dengan syarat tumbuh tanaman cengkeh adalah sebagai berikut:
1. Pilihlah tanah yang gembur dan subur karena mengnadung banyak unsur hara sebagai bahan makanan tanaman, jangan menggunakan tanah yang mengandung batuan dan tanah liat karena akan menghalangi pertumbuhan akar tanaman.
2. Kontur tanah sebaiknya yang agak miring (tapi jangan terlalu miring) agar memudahkan pembuangan air hujan yang berlebihan dan menghadap ke arah timur.
3. Berikan peneduh yang akan berfungsi untuk menahan jatuhnya butir-butir hujan yang terlalu besar, mencegah sinar matahari yang terlalu terik, serta penahan tiupan angin yang terlalu kencang.
4. Sebaiknya lokasi penyemaian dekat dengan sumber air untuk memudahkan penyiraman, lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah agar memudahkan dalam pengawasannya, serta sebaiknya dibuat berpencar untuk memudahkan penyebaran bibit nantinya.

C. Penyemaian
Biji tanaman cengkeh tidak dapat ditanam langsung ke tanah atau lahan, terlebih dahulu harus dilakukan penyemaian untuk menumbuhkan kecambahnya setelah itu dilakukan penyemaian tetap. Dalam penyemaian tetap ini, ada dua hal yang biasanya dapat dilakukan yaitu penyemaian tetap secara langsung dan tidak langsung, yang dimaksudkan dengan langsung disini adalah, bibit yang telah berkecambah pada bak perkecambahan dibuatkan bedengan, kemudian bibit tersebut dicabut dan dipindahkan ke penyemaian tetap. Sedangkan cara tidak langsung adalah dengan memindahkan kecambah-kecambah tersebut ke dalam polybag yang kemudian dipelihara sampai berumur kurang lebih satu tahun. Namun, yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah penyemaian secara tidak langsung.

Dalam menumbuhkan perkecambahan tanaman cengkeh harus dilakukan beberapa persiapan, yaitu:
1. Siapkan bak-bak perkecambahan yang dibuat dari peti kayu atau bahan lain yang tahan, panjang dan lebarnya sesuai dengan kebutuhan, asalkan dapat menampung campuran pasir dan gambut setebal kurang lebih 30 cm dari dasar bak, dengan perbandingan 3 : 1.
2. Biji yang telah siap tanam harus segera ditanam dalam lubang-lubang pasir dengan jarak 3 x 5 cm atau 5 x 5 cm. Perhatikan saat menanam biji, upayakan jangan sampai terbalik karena akan menyusahkan bibit cengkeh.
3. Jagalah kelembaban bak perkecambahannya karena itu gunakan naungan tetapi jangan terlalu rapat.
4. Jangan melakukan penyiraman langsung pada biji agar posisi biji tidak berubah, karena lakukan dengan cara dipercik-percikkan sampai basah. Ada baiknya menggunakan jerami atau karung goni, karena air yang disiramkan akan terlebih dahulu membasahi jerami atau karung goni yang nantinya akan diteruskan ke permukaan pasir dimana niji ditanam.

Penyemaian tetap secara tidak langsung
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Gunakan polybag yang agak tebal dengan lebar sekitar 15 - 20 cm, dan tinggi 20 - 25 cm. Isilah polybag dengan tanah yang telah dicampur dengan pupuk organik perbandingan 2 : 1, dan jangan dipadatkan.
2. Tanamlah kecambah pada polybag tersebut, usahakan penanamannya ditengah-tengah polybag. Kemudian susun polybag tersebut ke dalam bedengan dengan jarak antar polybag 30 x 30 cm atau 30 x 40 cm.

D. Pemeliharaan penyemaian
1. Penyiraman dilakukan jika hari tidak hujan, lakukan saat pagi dan sore hari, jangan terlalu basah karena dapat menyebabkan penyakit Gloe sporium. Jika bibit telah besar, penyiraman sebaiknya dikurangi.
2. Lakukan penggemburan tanah di sekitar batang tanaman, dan sebaiknya berhati-hati agar tidak merusak akar tanaman.
3. Peneduh atau atap penutup bedengan jangan terlalu rapat karena akan lembab sehingga jamur akan lebih mudah tumbuh, dan jangan pula terlalu jarang karena sinar matahari yang terik akan membakar daun-daun muda. Jika tanaman telah berumur 2 bulan, sebaiknya lakukan penjarangan atap pelindung secara bertahap, untuk melatih bibit tanaman sehingga tahan terhadap penyinaran.
4. Jangan sampai air hujan tergenang di sekitar bedengan untuk mencegah kebusukan. Dan jagalah kebersihan sekitar bedengan dari rumput dan segala macam kotoran yang dapat mengganggu pertumbuhan bibit tanaman.
5. Lakukan pemupukan jika tanaman telah berumur sekitar 3 - 4 bulan, gunakan pupuk yang mengandung NPK 1:1:1, tiap bibit diberikan dosis kurang lebih 1 gram, jika agak merepotkan gunakan takaran berikut: takar pupuk dengan menggunakan gelas plastik bekas aqua sebanyak 1 gelas dan air sebanyak 1 tangki penyemprotan. Jika hanya menggunakan pupuk urea saja gunakan takaran 0,5 gram/bibit. Pemupukan kedua dilakukan saat bibit berumur 8 bulan dengan dosis NPK 2 gram/bibit atau jika menggunakan urea 1 gram/bibit.

menanam-tanaman
(Sumber foto: udtunasmudasejahtera.indonetwork.co.id)




Jumat, 05 September 2014

Ekologi Tanaman Cengkeh (Eugenia aromatica)

Hasil utama yang diambil dari tanaman cengkeh ini adalah bunganya, dimanfaatkan untuk rempah-rempah, campuran rokok kretek, obat dan sebagainya. Selain bunganya, tangkai bunga dan daunnya juga dapat dimanfaatkan, selain untuk campuran rokok, minyak atsiri yang dikandungnya dapat juga dijual.

Tanaman cengkeh merupakan tanaman asli dari Indonesia tepatnya dari pulau Makian Maluku. Ketinggian tempat penyebarannya antara ketinggian 0 sampai 900 meter dari permukaan laut. Di atas 900 meter, cengkeh juga dapat tumbuh tetapi umur berbunganya sangat lambat dan produksi bunganya sangat rendah, umumnya keadaan tersebut berkolerasi positif dengan altitude.

Pertumbuhan cengkeh dan proses pembungaannya serta munculnya penyakit-penyakit seperti mati bujang ataupun penyakit lain, erat sekali hubungannya dengan iklim setempat dan tanah tempat tumbuhnya. Akibat yang ditimbulkan adalah gangguan fisiologis, sehingga tanaman menjadi lemah dan mudah terserang penyakit.

Tanaman cengkeh menginginkan suhu antara 21 sampai 2 derajat celsius dengan iklim yang basah. Curah hujan yang disukai oleh cengkeh antara 1500 sampai 3000 mm per tahun merata sepanjang tahun dan sangat disukai curah hujan per bulannya 80 mm atau lebih sedikit.

Cengkeh merupakan tanaman yang sangat tisak tahan terhadap kekeringan. Cengkeh yang gagal berbunga dan tumbuh merana di daerah-daerah yang mempunyai musim kering yang tegas dan daya pengikatan tanah terhadap air rendah. Mengenai curah hujan ini, ternyata berkaitan erat dengan kualitas bunga cengkeh. Untuk rokok kretek, cengkeh yang baik berasal dari daerah-daerah yang mempunyai curah hujan dengan kisaran antara 1500 sampai 1800 mm per tahun.

Cengkeh menyukai tanah yang gembur, tidak ada cadas sampai beberapa meter ke bawah dan berdrainase baik (tidak ada air tergenang). Selain itu, air tanah harus dalam sekitar 3 meter dari permukaan tanah. Sebagai pedoman dapat dilihat pada sumur-sumur yang berdekatan dengan areal pertanaman. Keadaan topografi, juga memiliki pengaruh. Tanah-tanah yang lereng dan menghadap ke arah matahari terbit sangat baik untuk pertanaman cengkeh, yang penting drainase dan aerasinya baik sehingga pertumbuhan akar baik serta sempurna.

Tanah-tanah Latosol, Andosol, dan Podzolik dapat digunakan untuk menanam tanaman cengkeh.

pH tanah yang cukup toleran untuk tanaman cengkeh adalah tanah asam sampai netral dengan kisaran nilai antara 4 sampai 7.

menanam-tanaman
(Sumber foto: www.produknaturalnusantara.com)