Selasa, 28 Juli 2015

Beralih ke Usaha Pertanian Organik

Eri demikian nama lelaki paruh baya yang berprofesi sebagai petani cabe di Sungai Kambuik, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya. Ia sudah menghabiskan dana lima puluh jutaan agar areal seperempat hektar yang ia jadikan tempat bertanam cabe, bisa tumbuh dengan baik dan berbuah lebat, namun nasib berkata lain, ditengah perjalanannya areal pertanaman cabenya diserang berbagai penyakit dan hama, salah satunya penyakit virus kuning keriting dan Antraknosa.

Tim P3L-Dharmasraya berkunjung ke kebun Eri pada awal puasa Ramadhan Juni lalu, ia putus asa melihat areal perkebunan cabenya sudah tidak punya harapan lagi, ditengah kemelut yang mendera hatinya, tim P3L-Dharmasraya mencoba memberikan solusi terkait penyakit yang diderita tanaman cabenya.

Sebagaimana tujuan utama dari pejuang P3L-Dharmasraya yakni, usaha menciptakan pertanian organic, ramah lingkungan, dan memproduksi hasil tani yang sehat untuk dikonsumsi keluarga, tanpa ketergantungan kepada produk kimia, serta mempersiapkan lahan tanah yang baik untuk keberlangsungan anak cucu, kami menawarkan solusi yang kiranya baik untuk menyelamatkan cabe Eri yang sudah diserang berbagai penyakit tersebut.

Pada akhirnya dalam situasi yang sangat genting tersebut, kami menawarkan biang bakteri organic yang baik untuk mengatasi berbagai penyakit tersebut, biang bakteri itu terangkum dalam botol pupuk cair �Bio � Organik Herbafarm�, akhirnya Eri mencoba menyelamatkan tanaman cabenya dengan 2 botol pupuk cair herbafarm. 

Pada hari lebaran ketiga tepatnya hari selasa tanggal 21 Juli 2015, salah seorang tim P3L-Dharmasraya kembali memantau perkembangan cabe yang sudah diperlakukan Eri dengan pupuk cair Herbafarm tersebut, diluar dugaan setibanya tim di lokasi areal pertanaman cabe Eri terlihat buah cabe yang tumbuh lebat, meski daun terlihat kuning keritiang, usaha penyelamatan oleh herbafarm ini masih sanggup membantu cabe untuk berbuah lebat. 

Aher salah seorang Karyawan Eri kepada tim P3L-Dharmasraya, dilokasi mengatakan ia sudah berkali panen dengan situasi pertanaman yang demikian.

Ambo kira cabe ini hanya sekali saja berbuahnya, namun uda bisa lihat sendiri batang cabe itu berbunga lagi, dan kami sudah berkali-kali panen setelah pemberian pupuk cair Herbafarm ini�, katanya bersemangat.

Setelah mengamati dan mencatat perkembangan cabe Eri, tim kembali ke posko P3L di Sitiung, sebelum pulang Aher membeli tiga botol lagi pupuk cair Bio-Organik Herbafarm, ia juga berjanji pada periode berikutnya ia dan Eri akan kembali bertanam cabe dengan metode hidroponik, dan meminta kami (P3L-Dharmasraya) untuk mendampingi hingga panen.

Beralih ke Usaha Pertanian Organik
(Foto : Aher ditengah tanaman cabenya yang terserang berbagai penyakit Virus, namun masih berbuah lebat, berkat pemberian pupuk cair Bio-Organik Herbafarm yang ramah lingkungan)

Kamis, 25 Juni 2015

Meluruskan Konsep Bertanam Hidroponik

Meluruskan Konsep Bertanam Hidroponik

Alangkah populernya konsep bertanam dengan cara hidroponik akhir-akhir ini, betapa tidak konsep hidroponik menjanjikan hasil yang lebih baik, dibanding pertanaman konvensional, tentu saja bagi pelaku petani hidroponik hal tersebut bukan sesuatu yang buruk, dan hasil yang lebih baik dibanding bertanam secara konvensional menggunakan areal yang ada, sebenarnya hal itu perlu pengkajian ulang.

Bertanam secara hidroponik sangat popular didaerah perkotaan, pasalnya diperkotaan sulit untuk memperoleh lahan yang memadai untuk bercocok tanam, dan hal itu sangat bertolak belakang dengan suasana pedesaan, dimana di desa ketersediaan lahan masih cukup untuk bercocok tanam.

Tananam hidroponik dari asal katanya menjelaskan, bahwa perlakuan tanaman tersebut lebih terfokus kepada ketersediaan air, dengan mengabaikan unsur tanah orang-orang perkotaan juga bisa bercocok tanam, baik itu di atas rumah maupun di dindingnya, dengan kata lain tanah sudah tidak menjadi prioritas lagi.

Ilmu pertanian dan botani sudah menjelaskan bahwa tanah merupakan syarat utama untuk tumbuhnya suatu tanaman, meski dalam konsep hidroponik tanah hanya sebagai tempat berdirinya batang pokok tanaman, berikutnya ketersediaan unsur senyawa untuk pertumbuhan tanaman digantikan dalam bentuk cair, lebih jauh dari kedua hal tersebut tanaman sesungguhnya membutuhkan sosialisasinya dengan yang lain, seperti serangga liar dan mikroorganisme yang terdapat disekitar tanah pertanaman, konsep tersebut seakan terbantahkan oleh sistim hidroponik, dengan menganggap semakin berkurangnya interaksi sosial tanaman dengan lingkungan alamiahnya, maka kemungkinan tanaman akan tumbuh dengan subur dan baik lebih besar, padahal sebenarnya tidak demikian.

Alam semesta melahirkan berbagai serangga dan mikroorganisme yang berkesinambungan dengan tanaman, maka dari itu ada istilah penyerbukan yang diperbantukan oleh serangga, mikroorganisme yang membantu menguraikan zat makanan tanaman, itu pula mungkin yang sangat mendasari perbedaan bertanam secara hidroponik dengan konvensional di tanah, ketika usaha pertanaman lebih dititik beratkan kepada unsur air, sesungguhnya penggiat hidroponik agak sedikit usaha ekstra, karena memikirkan bagaimana unsur untuk tumbuhnya tanaman ini dirubah bentuknya ke air.

"Sebaik-baiknya pupuk cair lebih baik sebenarnya ketersediaan unsur alami yang terdapat di tanah, di dalam tanah terjadi penguraian yang komplek bagi kebutuhan tumbuh tanaman, hal itu belum lagi jika ditinjau dari segi biaya, ketika tanah yang normal menyediakan segala kebutuhan untuk tumbuhnya tanaman, maka biaya bagi pertanaman konvensional di tanah lebih ringan dibanding dengan pola hidroponik".

Jika anda bermaksud melakukan usaha pertanian dengan gaya hidroponik, alangkah bijaknya jika anda juga menganalisa lebih mendalam, mana yang lebih tepat cara yang anda tempuh dengan hidroponik atau dengan pola konvensional di pertanahan, karena bagaimanapun juga interaksi sosial tanaman dengan lingkungan alaminya merupakan sesuatu yang lebih penting, yang terkadang hal tersebut tidak diperoleh pada pola bertanam hidroponik.

Salam �

Selamatkan tanah dengan organik

Cara Membuat Singkong Tumbuh Dengan Banyak Umbi


Cara Membuat Singkong Tumbuh Dengan Banyak Umbi
(Summber foto : agroexpres.com)
Bertanam singkong atau ketela pohon tentu tidak asing lagi bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, dari zaman dahulu kala singkong dikenal dengan tumbuhan perdu yang sangat mudah ditanam, bahkan ketika potongan batangnya dicampakkan ia juga akan tumbuh dengan baik, dan singkong bertahun tahun menjadi makanan pokok setelah beras bagi rakyat Indonesia.

Budidaya singkong tidak terlalu rumit, namun membuatnya tumbuh dengan baik menghasilkan umbi yang besar dan banyak, tentu membutuhkan keterampilan yang mumpuni sehingganya anda bisa panen dengan hasil melimpah, bagaimana cara membuatnya tumbuh dengan baik dan menghasilkan umbi yang banyak, kita akan coba bahas berikut ini.

Singkong atau dengan nama latinnya Manihot Utilissima termasuk dalam suku Euphorbiacieae, sebagai syarat tumbuh tanaman ini sanggup tumbuh pada tanah jenis apapun, namun belum tentu umbi yang dihasilkannya banyak, nah untuk membuat hasil umbi yang banyak kita membutuhkan beberapa teknik pemupukan, dengan memanfaatkan potensi lingkungan disekitar rumah tangga, anda bisa membuat tanaman ini menghasilkan umbi yang banyak, caranya yakni dengan menggunakan limbah rumah tangga, seperti dari sisa-sisa masakan yang bisa diurai, misalkan potongan sayur, kulit bawang dan aneka sisa produk rumah tangga lainnya, yang intinya semua itu bisa diurai oleh alam.

Membuat pupuk untuk singkong dari limbah rumah tangga tersebut cukup mudah, anda tinggal membuat sebuah lubang kemudian masukkan semua limbah rumah tangga tersebut, setelah terkumpul cukup banyak, kemudian tutup dengan plastic dan biarkan selama lebih kurang lima belas hari.

Setelah pengomposan selesai pada hari ke lima belas, buka kembali kompos dari olahan limbah rumah tangga tersebut, kemudian campurkan dengan tanah bekas unggunan sampah, sambil diaduk jika perlu tambahkan dengan air garam, atau cairan Em4, atau anda bisa juga memanfaatkan pupuk cair Bio Organik Herbafarm produksi sidomuncul.

Ketika pengadukan selesai tutup rapat kembali kompos limbah rumah tangga anda, kemudian diamkan selama lima hari, setelah itu kompos siap digunakan, cara perlakuannya adalah dengan menaburkan kompos disekeliling tanaman singkong, waktu terbaik memberikan kompos ini adalah ketika umur tanaman singkong sekitar satu bulan, kompos yang anda berikan tadi mengandung banyak mikroorganisme yang mampu mengurai unsur hara tanah, sehingga tanaman singkong anda mampu menyerap lebih banyak hara, dan pertumbuhannya akan baik, karena dengan suburnya tanaman singkong tidak terlepas dari peran umbinya yang tumbuh lebat dan banyak.

Ternyata jika kita mau memanfaatkan lingkungan rumah tangga tanpa menggunakan pupuk kimia, manfaatnya sangat banyak terutama bagi usaha pertanaman di lingkungan pekarangan anda, termasuk tanaman singkong ini, demikian tips ringan dari kami untuk membantu tanaman singkong anda menghasilkan umbi yang banyak, selamat mencoba.

Cara Membuat Singkong Tumbuh Dengan Banyak Umbi, kandungan gizi singkong
(Sumber foto : singkongday.wordpress.com)

Salam �

Selamatkan tanah dengan organic.

Selasa, 23 Juni 2015

Rahasia membuat tanaman cabe berbuah lebat selebat-lebatnya


Musim ramadhan tahun ini hampir semua harga kebutuhan pokok meroket naik, kenaikan tersebut menyengsarakan bagi masyarakat non tani, dan menjadi suatu kesenangan bagi petani cabe, terutama petani yang sedang dalam tahap panen hingga lebaran nanti, nah khusus bagi anda petani cabe, bagaimana caranya agar buah cabe anda tumbuh rimbun dan banyak? Pupuk apa saja yang digunakan agar cabe kesayangan anda berbuah lebat? Berikut kita coba bahas rahasianya.

Tanaman cabe merupakan tanaman yang mudah tumbuh dimana saja, tanaman yang masih tergolong dalam family "Solanacearum" ini, tidak banyak tuntutan untuk tumbuh asalkan kita rajin menyediakan air pada areal pertanamannya, maka ia akan tumbuh subur, apalagi jika dalam penanamannya dilakukan dengan cara organic atau ramah lingkungan, namun demikian jika ada pula diantara anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang cabe rawit dan bagaimana rahasianya agar cabe rawit anda sukses tumbuh dan menghasilkan buah yang banyak melimpah silahkan baca artikel kami disini [Rahasia sukses budidaya cabe rawit].

Rahasia membuat tanaman cabe berbuah lebat selebat-lebatnya
Rahasia bagaimana cara membuat tanaman cabe anda berbuah lebat selebat-lebatnya, dipengaruhi oleh beberapa factor.

1. Ketersediaan air dan unsur hara

Pengalaman saya beberapa kali menindaklanjuti penyelamatan lahan cabe yang sudah kritis, persoalan utamanya kebanyakan terletak pada kurangnya air, ketika tanaman cabe sudah memunculkan buah terkadang kita sudah percaya diri, padahal sesungguhnya pada saat itu cabe membutuhkan air yang cukup untuk melakukan pertumbuhan.

Demikian juga halnya dengan unsur hara, areal pertanaman cabe yang terlalu banyak diperlakukan secara kimia, besar kemungkinan unsur hara tanahnya banyak tertutupi oleh kadar kimia tersebut, anda bisa menemukan di artikel kami yang satu ini tentang cara praktis mengelola unsur hara tanah, untuk areal pertanaman sayuran, pada link [ini], disamping itu penggunaan bahan kimia untuk memperbaiki unsur hara tanah juga kurang bagus untuk kesehatan, demikian juga halnya dengan penggunaan pestisida kimia, juga sama buruknya untuk kesehatan sayuran,  bahaya unsur kimia dan pestisida kimia pada sayuran akibat penggunaan berlebihan, dapat anda baca selengkapnya di artikel yang ini [bahaya kimia dan pestisida untuk sayuran].

Oleh karena itu untuk membuat tanaman cabe anda berbuah lebat-selebat-lebatnya saya sangat menganjurkan, sebisa mungkin perlakukanlah tanah dan tanaman anda dengan cara organic, caranya juga tidak terlalu rumit, hanya dengan menggunakan pupuk kompos maka tanah dan tanaman anda akan tumbuh dengan baik, selain itu untuk mendapatkan pupuk kompos berkualitas juga paling mudah, bahkan dengan limbah rumah tangga pun anda sudah bisa menciptakan pupuk kompos berkualitas tinggi, simak pembahasan kami tentang pemanfaatan limbah rumah tangga untuk kompos pada artikel kami pada link ini [Cara mengolah limbah rumah tangga menjadi kompos berkualitas].

Namun dengan memperhatikan ketersediaan unsur hara saja tidak pula cukup, untuk membuat tanaman cabe mampu berbuah lebat, tidak bisa kita pungkiri pupuk juga berperan penting dalam produksi buah cabe, untuk itu disamping ketersediaan unsur-unsur hara, baik hara makro (N, P, K, Ca, Mg dan S) ataupun hara mikro (Zn, Fe, Mn, Co, dan Mo) yang cukup dan seimbang dalam tanah merupakan faktor penting untuk mendapatkan hasil cabai merah yang tinggi dengan kualitas yang baik.

Setiap unsur hara mempunyai peran spesifik di dalam tanaman. Kekurangan atau kelebihan unsur hara dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil. Jenis pupuk yang digunakan untuk menambah hara N, P, K dan S adalah Urea, ZA, TSP/SP-36, KCl, ZK (K2SO4). Untuk menambah hara Ca dan Mg dengan pemberian kapur atau dolomit. Sebagai sumber hara mikro umumnya dari pupuk kandang atau kompos.

Dalam budidaya cabai merah, pemakaian pupuk organik seperti pupuk kandang atau kompos merupakan kebutuhan pokok, di samping penggunaan pupuk buatan. Pupuk organik atau kompos, selain dapat mensuplai unsur hara bagi tanaman (terutama hara mikro), juga dapat memperbaiki struktur tanah, memelihara kelembaban tanah, mengurangi pencucian hara, dan meningkatkan aktivitas biologi tanah. Berbagai limbah pertanian, seperti limbah pabrik gula (blotong), limbah media jamur, limbah kebun dan limbah pasar, dapat digunakan sebagai pupuk organik, dan dalam dosis yang sama dapat memberikan hasil cabai merah yang tidak jauh berbeda dengan pupuk kandang atau kompos.

Dalam dosis yang sama, jenis pupuk kandang yang paling baik untuk penanaman cabai merah di dataran tinggi adalah pupuk kandang ayam, tetapi harganya lebih mahal. Menurut penelitian Subhan hubungan antara dosis pupuk kandang ayam dan hasil cabai merah bersifat linier.

Kebutuhan pupuk untuk penanaman cabai merah bervariasi, tergantung pada kultivar, jenis lahan, lokasi, musim tanam, dan jenis pupuk yang digunakan. Di bawah ini diuraikan kebutuhan pupuk untuk cabai merah pada berbagai jenis lahan dan sistem tanam.

A. Penanaman cabai merah pada lahan kering di dataran tinggi/ medium (jenis Andisol/ Latosol)

� Pemupukan dasar terdiri atas pupuk kandang kuda (20 - 30 t/ ha) atau pupuk kandang ayam (15 - 20 t/ ha) dan pupuk SP - 36 (300 kg/ha), yang dilakukan seminggu sebelum tanam. Pupuk kandang dihamparkan pada garitan-garitan atau lubang-lubang tanaman, di atasnya diletakkan pupuk SP-36. Pupuk susulan terdiri atas pupuk Urea (200-300 kg/ha), ZA (300-400 kg/ha) dan KCl (250-300 kg/ha), yang diberikan 3 kali pada umur 3, 6 dan 9 minggu setelah tanam, masing-masing sepertiga dosis. Pupuk susulan disebar di sekitar lubang tanaman, kemudian ditutup dengan tanah (Sumber : Hilman dan Suwandi 1992; Nurtika dan Hilman 1991; Rosliani et al. 1998).

Atau :

� Pemupukan dasar terdiri atas pupuk kandang kuda (20-30 ton/ha) dan pupuk NPK 16-16-16 (700-1000 kg/ha), yang diberikan satu minggu sebelum tanam. Pupuk susulan adalah NPK 16-16-16 (300-500 kg/ha), diberikan dengan cara dicor, yaitu pupuk dilarutkan dalam air (2 g/l), kemudian disiramkan pada lubang tanaman atau disekitar tanaman (100-200 ml per tanaman). Pupuk susulan diaplikasikan setiap 10-14 hari, yang dimulai sejak tanaman berumur satu bulan sesudah tanam (Sumber : Hidayat et al. 2003).

B. Penanaman cabai merah pada lahan sawah di dataran rendah (jenis Aluvial)

Seminggu sebelum tanam, pupuk kandang ayam (15-20 t/ ha) atau kompos (5-10 t/ ha) dan SP-36 (300-400 kg/ha) diberikan sebagai pupuk dasar. Pupuk susulan yang terdiri atas Urea (150-200 kg/ha), ZA (400-500 kg/ha) dan KCl (150-200 kg/ha) atau pupuk NPK 16-16-16 (1,0 t/ ha), diberikan 3 kali pada umur 0,1 dan 2 bulan setelah tanam masing-masing sepertiga dosis.

C. Penanaman cabai merah secara tumpanggilir dengan bawang merah

� Pupuk untuk bawang merah :

Pupuk kandang (10-20 t/ ha) dan SP-36 (200-250 kg/ha) diberikan 7 hari sebelum tanam dengan cara dihamparkan pada jalur-jalur penanaman. Pupuk susulan yang terdiri atas Urea (150-200 kg/ha), ZA (400-500 kg/ha) dan ZK (150-200 kg/ha) diberikan setengah dosis pada umur 7 serta 25 hari setelah tanam, dengan cara disebar di sekitar tanaman lalu ditutup dengan tanah.

� Pupuk untuk cabai merah :

Pupuk kandang (10-15 t/ ha) dan SP-36 (150-200 kg/ha) diberikan 7 hari sebelum tanam. Pupuk susulan yang terdiri atas Urea (100-150 kg/ha), ZA (300-450 kg/ha) dan KCl (100-150 kg/ha) diberikan sepertiga dosis pada umur 4, 7 serta 10 minggu setelah tanam cabai merah (Sumber : Nurtika dan Hilman 1991; Nurtika dan Suwandi 1992).

D. Penanaman cabai merah dengan sistem tumpangsari dengan kubis atau tomat

Sebagai pupuk dasar pupuk kandang (30-40 t/ ha) dan pupuk NPK 16-16-16 (700-1000 kg/ha) diberikan 7 hari sebelum tanam cabai merah, dengan cara dihamparkan pada jalur-jalur penanaman lalu ditutup dengan tanah, kemudian mulsa plastik hitam perak dipasang. Pupuk susulan, yaitu NPK 16-16-16 (300 - 500 kg/ha) diberikan dengan cara dicor, yaitu dilarutkan dalam air (2 g/l), kemudian disiramkan pada lubang-lubang tanam (100-200 ml per tanaman). Pupuk susulan diaplikasikan setiap 10-14 hari, yang dimulai pada 1 bulan sesudah tanam cabai merah. Satu bulan sesudah tanam cabai merah kubis atau tomat ditanam di antara tanaman cabai merah (Sumber : Hidayat et al. 2003).

2. Menggunakan pestisida kimia

Pestisida kimia sebenarnya tidak membasmi serangga hama, karena sesungguhnya pestisida kimia hanyalah menciptakan bentuk pertahanan baru bagi hama serangga, bahkan pestisida kimia juga mempercepat terjadinya pembuahan pada telur serangga hama, anda bisa membuat pestisida nabati dengan cara yang sangat sederhana dan mudah, bahan-bahannya juga cukup tersedia disekitar lingkungan anda, tidak ada salahnya anda mencoba membuat pestisida alami dari bawang putih, caranya bisa anda temukan pada artikel kami di link ini [Cara membuat pestisida nabati ampuh mudah dan murah meriah dengan memanfaatkan bawang putih].

Dengan memanfaatkan daun-daun tanaman yang biasanya banyak tumbuh disekitar lingkungan anda, anda juga bisa membuat pestisida nabati ampuh dan ramah terhadap lingkungan, pestisida nabati khusus untuk membasmi serangga penghisap, jenis kutu-kutuan, dan hama tanaman cabe lainnya, telah kami bahas pada link artikel ini [RAMUAN AMPUH PEMBASMI HAMA TANAMAN CABE], silahkan dibaca.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa pestisida yang dibuat dari alam memanglah tidak memperlihatkan dampak kinerja secepat pestisida kimia, karena itu beberapa dari petani kita juga menggunakan pestisida kimia.

Untuk anda yang ingin menemukan cara lengkap mengobati tanaman cabe dari berbagai penyakit, kami telah sediakan artikel khusus yang membahas persoalan tersebut, silahkan baca di [Cara Mengatasi Berbagai Penyakit Pada Tanaman cabe], pada artikel tersebut kita bahas persoalan penyakit tanaman cabe, mulai dari biji, masa persemaian, masa pertumbuhan, masa produksi buah hingga gangguan dari lingkungan sekitarnya, karena seperti yang kita ketahui tanaman cabe rentan terhadap serangan berbagai penyakit disepanjang masa pertumbuhannya.

3. Penyiangan tanaman cabe

"Nah disinilah letak rahasianya, pada tanaman cabe sangat perlu sekali dilakukan penyiangan, namun penyiangan disini maksudnya tidak membasmi gulma secara keseluruhan, karna gulma juga berperan besar dalam metode pengendalian hama secara hayati pada areal pertanaman cabe, panyiangan yang paling utama diperhatikan adalah pada perakaran dan batang cabe, gulma yang tumbuh dekat perakaran cabe perlu di cabut, kemudian perhatikan daun-daun yang sudah kering dan mati pada bagian pangkal batang, jika terdapat daun-daun yang sudah mati dipangkas saja, demikian juga dengan tunas yang tidak penting sebaiknya dipangkas saja, hal ini karena yang kita fokuskan pada tanaman cabe adalah rimbunnya buah, maka dari itu pemangkasan penting dilakukan".

Selain pemangkasan yang perlu diperhatikan lagi adalah, memangkas buah dan daun yang terserang penyakit, seperti klorosis pada daun, busuk buah atau antraknosa pada buah.

Ketiga pokok diatas adalah rahasia suksesnya, jika anda mengiinkan tanaman cabe anda berbuah rimbun lebat selebat-lebatnya, buah cabe yang lebat menghasilkan produksi buah yang banyak dan harganya juga tinggi, sehingga menguntungkan bagi petani cabe, namun ada satu hal yang paling penting dari semua cara rahasia diatas, yakni jika tanaman cabe anda memberikan keuntungan yang berlipat ganda, jangan lupa keluarkan zakatnya sebanyak 2,5% untuk asnaf yang delapan, karena dibalik keberhasilan anda itu juga ada hak orang lain (anak yatim, fakir miskin dan asnaf delapan lainnya) yang harus anda tunaikan.

Selain dari rahasia ini, bagi anda yang ingin mencoba bertanam cabe dalam pot/ polybag secara hidroponik silahkan kunjungi artikel bermanfaat kami berjudul "Menanam cabe dalam pot secara hidropinik", mudah-mudahan anda menemukan ide untuk pola bertanam cabe kesayangan anda.

Demikianlah rahasianya, salam hangat �

Selamatkan tanah dengan Organik!!

Sumber : Panduan teknis cabai merah - Nani Sumarni dan Agus Muharam

Jumat, 29 Mei 2015

Budidaya Tanaman Jahe (Zingiber officinale)

Jahe

Tanaman Jahe ditanam untuk mendapatkan hasil berupa rimpang, di daerah tropika basah dapat dipanen pada enam bulan. Jahe cocok dalam pergiliran dengan tanaman-tanaman yang samaumurnya. Karena tanaman ini dihuni oleh bakteri layu, sebaiknya jangan diikut sertakan dalam pergiliran (tumpangsari) dengan tanaman kerabat solanaceae yang peka terhadap penyakit in, dan terutama sekali dengan tomat, terong, cabai besar dan kebanyakan cabai pedas. Meskipun demikian, ia dapat digunakan dalam pergiliran tiga tahun, yang memanfaatkan batang bawah terong atau cabi yang resisten.

Terdapat banyak varietas dan dua variasi warna daging, satu kemerahan dan yang lain putih atau kuning muda. Di dataran rendah kultivar atau varietas dari daerah dataran tinggi cenderung menderita karena adanya berbagai penyakit busuk akar. Oleh karena itu, sebaiknya dicari varietas-varietas yang dapat beradaptasi dengan daerah setempat. Hasil yang diperoleh sangat bervariasi mulai dari 5 sampai 30 ton per ha. Pada pemanenan awal, mungkin memberikan hasil yang lebih rendah, akan tetapi diperoleh jahe dengan kualitas yang lebih baik sebagai jahe gula-gula.

Budidaya

Seperti dengan tanaman umbi-umbian lain, jahe juga menghendaki tanah yang gembur. Tanah gambut sesuai untuk tanaman ini, akan tetapi semua jenis tanah dengan pH kurang dari 5 harus diberi kapur dengan dosis 2 ton per ha.

Bibit jahe dapat diperoleh dari potongan-potongan kecil rimpang sepanjang 3 cm, lakukan pencelupan dalam fungisida (sebagai contoh, Aretan atau kaptan), setelah itu potongan-potongan rimpang tersebut harus dikeringkan dan disimpan selama satu atau dua minggu sebelum ditanam, ini bertujuan agar luka bekas sayatan dapat tertutup dengan baik. Potongan-potongan ini sebaiknya jangan terkena sinar matahari langsung.

Tanaman jahe ini ditanam pada bedengan selebar 1,2 m dengan jarak 30 cm per bibit ditanam dalam empat baris. Dengan jarak ini sudah cukup baik untuk pertanaman sampai umur 6 bulan.

Tanaman jahe ini tanggap terhadap kesuburan tanah yang tinggi, 20 ton per ha bahan organik matang dicampur dengan 500 kg per ha pupuk majemuk 12:12:17:2, ditambah 200 kg per ha urea, dapat diberikan dalam bagian-bagian yang sama pada saat jahe berumur 1, 2, 3, 4 dan 5 bulan. Untuk hasil yang lebih baik, jahe memerlukan pemberian air yang teratur tetapi sedikit pada saat cuaca kering. Pemulsaan pada daerah kering juga sangat dianjurkan, baik menggunakan mulsa plastik ataupun menggunakan mulsa organik.

Perlindungan Tanaman

Di dataran rendah tropika tanaman jahe mempunyai beberapa masalah penyakit. Penyakit jamur berupa bercak daun adalah penyakit yang paling lazim dan serius ditemui, penyakit ini disebabkan oleh Phyllosticta zingiberis. Jamur ini dapat menyebabkan nekrosis pada daun yang berat. Usaha pertanian komersial haruslah mempertimbangkan penyemprotan mingguan dengan menggunakan zineb. Tanaman jahe ini rentan terhadap penyakit layu bakteri dan perlu kehati-hatian dengan tempat penanamanna dalam pergiliran. Rimpangnya dapat menjadi sasaran penyakit busuk oleh banyak jamur dan bakteri kelompok Erwinia. Pengatusan atau pengairan untuk tanaman jahe ini harus baik. Penggerek batang dapat menjadi masalah, dan pada tanah berpasir, populasi nematoda juga perlu dipantau.

Panduan Praktis Pengelolaan Tanah untuk Bertanam Sayuran

COLLECTIE TROPENMUSEUM 'Bemestingsproef van bi...
COLLECTIE TROPENMUSEUM 'Bemestingsproef van bibit in ingegraven potten TMnr 10012056 (Photo credit: Wikipedia)
Tanah walaupun dilihat sepintas sama, tetapi memiliki sifat-sifat yang berbeda antara satu jenis tanah dengan jenis tanah yang lainnya. Bahkan, dalam setiap jengkal tanah memiliki sifat yang berbeda, apalagi jikalau tanah tersebut berbeda tempat. Oleh karena itu, ketika kita hendak bertanam sayuran harus diperhatikan cara pengelolaan tanah tersebut, khususnya dalam segi karakteristik wilayah. Berikut panduan praktis dalam pengelolaan tanah.

Tipe tanah dan pengolahan Lahan

Tipe tanah yang dimaksud disini adalah sifat kimia dari tanah tersebut seperti apakah terlalu banyak mengandung pasir, debu (lempung) ataukah terlalu banyak mengandung liat. Tipe tanah dan lahan utama yang mungkin dihadapi dalam usaha pertanian sayuran di daerah tropika khususnya adalah sebagai berikut:

Areal atau daerah datar atau lempungan rendah dengan pengelolaan sebagai masalah utama. Daerah demikian dapat terdiri dari beberapa jenis tanah Inceptisol, Entisol (yang merupakan tanah-tanah muda yang masih berkembang), Mollisol (tanah-tanah lunak atau tanah dengan solum dangkal), tanah Vertisol (tanah dengan sifat plastis yang mudah mengembang dan mengerut), dan di kawasan dengan intrusi garam serta tanah Aridisol (tanah di daerah dengan curah hujan yang rendah atau kering). Kebanyakan tanah ini adalah tanah masam (pH di bawah 7), tetapi tanahVertisol dan Aridisol dapat mendekati netral atau basa. Kebanyakan tanah-tanah tersebut berasal dari fraksi yang sangat mudah lapuk daribahan induknya dan sangat sukar dikelola, kecuali Vertisolyang berasal dari bahan induk basalt. Beberapa tanah marin atau tanah di daerah pantai, bila dikelola, dapat menjadi sangat masam (tanah sulfat masam). Beberapa daerah rendah mungkin juga mempunyai lapisan gambut di lapisan subsoilnya. 

Tanah-tanah pasir koluvial, daerah dengan kontur datar atau sedikit berbukit dengan pengatusan yang lebih baik, atau terbentuk dari hasil endapan sedimen di dekat atau diantara bukit-bukit atupun didaerah atas dataran banjir (flood plain). Beberapa tanah koluvial berasal dari bahan letusan gunung api atau batu kapur sehingga dari segi pengolahannya lebih mudah ditangani.
Tanah-tanah pedalaman berbukit, mencakup daerah landai sedang sampai curam yang dalam pengelolaannya memerlukan penterasan konstruksi bedengan untuk budidaya sayuran. Tanah dalam kategori ini adalah tanah Oxisol, Alfisol dan Ultisol. Tergantung bahan induknya, tanah-tanah ini dapat mudah atau sukar diolah dan mantap atu sangat peka terhadap erosi

Banyak tanah dataran yang mengandung fraksi debu yang sangat mudah lapuk memiliki sifat yang kurang baik, yaitu mengeras jika kering. Sifat ini akan menghalangi pertumbuhan semai dan memerlukan pengolahan permukaan tanah yang intensif untuk memecah keraknya. Untuk pengolahan tanah jenis ini dapat digunakan mulsa untuk menjaga agar permukaan tanah tetap basah. 

Tanah-tanah tersebut juga dapat menjadi sangat lekat dan sukar diolah ketika basah. Dalam kondisi basah, juga sangat sulit untuk berjalan atau menggunakan peralatan di tanah tersebut, karena tanah melekat pada alas kaki dan roda kendaraan serta mesin-mesin. Untuk melakukan kegiatan pertanian sangat diperlukan papan-papan untuk berjalan. Ini dapat berupa papan pendek biasa yang panjangnya 1-2 m, dilengkapi dengan gelang-gelang kaki sehingga dapat dipindah-pindahkan atau dibuat permanen. 

Masalah utama lainnya (khususnya pada tanah lempung dan berpasir) adalah kerentanannya yang besar terhadap erosi. Hujan lebat selama beberapa hari dapat melarutkan banyak tanah. Oleh karena itu, solusi untuk masalah ini adalah penggunaan mulsa. Pemberian mulsa organik pada bedengan yang baru ditanami selalu menguntungkan pada tanah yang bertekstur halus. Pada akhirnya, mulsa akan terurai tetapi pada saat itu tajuk tanaman akan sudah menutup tanah dengan baik. Bila bedengan diberi mulsa jerami, kompetisi gulma akan ditekan selama beberapa minggu sesudah pengolahan tanah. Setelah itu, apabila tanaman tumbuh baik, mulsa boleh di sisihkan karena sudah tidak dibutuhkan lagi untuk menutup permukaan tanah.

Panduan Praktis Pengelolaan Tanah untuk Bertanam Sayuran

Memperbaiki tanah dengan Pupuk Organik

English: Electron shell diagram for nitrogen, ...
English: Electron shell diagram for nitrogen, the 7th element in the periodic table of elements. (Photo credit: Wikipedia)
Untuk memperoleh hasil pertanian yang tinggi, tanah haruslah berstruktur baik dan dapat menerima air dan hujan tanpa mengerak, tererosi atau longsor. Tanah ini harus dapat menahan lengas pada tingkatan yang memadai dan memiliki tingkat kemasaman dalam rentang yang dapat diterima tanaman (di daerah tropika biasanya pH 5,5 sampai 6,8). KPKnya harus diatas 5 miliekuivalen/100 g sebagai batas minimum mutlak. Dalam budidaya sayuran, KPK kebanyakan tanah jauh lebih tinggi daripada ini.

Salah satu cara untuk memperbaiki tanah adalah dengan penggunaan bahan organik. Bahan organik mampu memperbaiki kemampuan memegang nutrien (KPK) dan kemampuan memegang air, serta memperbaiki pengatusan dan kemantapan tanah melalui perbaikan struktur tanahnya. Inilah alasan utama menekankan pemberianbahan organik secara teratur pada kebanyakan tanah tropika yang digunakan untuk produksi sayuran, terutama pada budidaya sayuran yang intensif.

Cara-cara praktis untuk memelihara ketersediaan bahan organik tanah dalam bertanam sayuran, sebagai berikut:

Pupuk Organik dan Kompos
Pupuk organik, disamping memasok beberapa nutrisi yang diperlukan untuk hasil sayuran yang tinggi, juga memegang peranan penting lainnya, mencakup perbaikan struktur tanah dan kapasitas penahan air dalam daerah perakaran, aerasi yang meningkat dari media perakaran, kerapatan massa tanah yang lebih rendah dan meningkatnya KPK serta pemegangan nutrien utama lainnya seperti nitrogen dan fosfor. Tetapi pupuk organik harus mempunyai komposisi yang benar dan harus memiliki nisbah nitrogen terhadap karbon yang tinggi; apabil tidak, mereka dapat menahan sementara nutrien tanaman dan mengurangi pertumbuhan tanaman.

Bila pupuk organik diberikan pada tanah, nitrogen yang terkandung didalamnya dipergunakan oleh jasad renik (mikroorganisme) untuk pertumbuhannya sendiri. Dengan bahan organik yang mempunyai kandungan nitrogen rendah (nisbah karbon terhadap nitrogen, atau C/N tinggi), seperti jerami padi atau brangkas jagung, jasad renik akan mengambil nitrogen yang diperlukan untuk mengurai bahan tersebut dari tanah, dengan demikian menyebabkan kekurangan hara tanaman yang paling esensial untuk sementara waktu. Inilah sebabnya mengapa dianjurkan memberikan pupuk anorganik sebagai tambahan pada pupuk kandang untuk mengoptimalkan hasil pertanaman, kecuali bila pupuk kandang tersebut bermutu sangat tinggi.

Kompos, pupuk segar (yakni tanpa jeram atau sekam padi dan bahan-bahan lainnya) tidak cocok untuk digunakan secara langsung, karena disamping kesulitan penanganannya juga dapat menyebabkan terbakarnya tanaman. Oleh karena itu, bahan-bahan tersebut harus dikomposkan sebelum digunakan. 

Sumbangan hara dari kompos meningkat dengan penambahan pupuk nitrogen, fosfor, dan kalium pada waktu penbuatan. Setiap ton kompos diberi dosis pupuk sebagai berikut;
sulfat ammonia (nitrogen) 20 kg
superfosfat 30 kg
kalium nitrat 40 kg

Pupuk Hijau dan Sisa Pertanaman (Organik)
Di beberapa daerah, pupuk hewani tidak tersedia dalam jumlah cukup, dan untuk mempertahankan bahan organik pada tingkat yang memadai bagi pengelolaan tanah liat maupun tanah pasiran, diperlukan pupuk hijau disertai pembenaman sisa-sisa pertanaman. Pupuk anorganik saja mungkin tidak sesuai terutama pada tanah liat.

Celakanya banyak sisa tanaman yang memiliki nisbah C/N yang terlalu tinggi, terutama bila mulsa (biasanya jerami atau rumput kering) digunakan sebagai suatu perlakuan budidaya dan kemudian dibenamkan dalam tanah. Untuk penguraian jerami yang cukup, nisbah C/Nnya harus 10 atau dibawahnya. Karena alasan inilah perlu ditanam tanaman legum untuk kemudian dibenamkan dalam tanah. Tanaman legum dapat ditanam sekali dalam satu sampai tiga tahun dalam pergiliran di dalam pertanian sayuran, tergantung dari kondisi tanah dan kebutuhannya. Cara menaikkan tingkat bahan organik ini berguna di daerah dimana pupuk pabrik sulit didapatkan atau mahal. Penanaman legum ini juga akan mencegah tumbuhnya gulma. Jika tingkat bahan organik dipertahankan pada tingkatan yang layak (kira-kira 5% bahan organik atau 2% karbon), tanah untuk penanaman sayuran itu akan terolah baik dan secara konsisten memberikan hasil pertanaman yang baik. Nisbah C/N dapat juga diatur dengan menggunakan pupuk nitrogen.

 Memperbaiki tanah dengan Pupuk Organik