Selasa, 12 Agustus 2014

Penggunaan Plastik atau Mulsa Dalam Usaha Tani Sayuran Hidroponik

Penggunaan lembaran plastik yang paling umum dalam usaha pertanian sayuran adalah untuk atap dan juga sebagai mulsa. Atap lembaran plastik yang ditopang di antara dua lapis kawat anyaman heksagonal sangat dianjurkan. Jika pemasangannya baik, plastik akan tertahan kuat dan tidak mudah bergerak karena angin, maka atap tersebut akan tahan sampai beberapa tahun atau dengan kata lain memperpanjang umur penyungkup plastik. Cukup efisien untuk jangka waktu serta penyediaan uang dalam pembuatan atap yang mudah dibongkar dan dilapis ulang jika diperlukan. Atap kaca memang awet akan tetapi memerlukan modal dalam pembuatannya yang cukup besar. Di daerah dengan curah hujan rendah, sama sekali tidak memerlukan atap.

Pada tahun-tahun belakangan ini, kini tersedia lembaran plastik polypropilen berkekuatan tinggi dan lembaran plastik poliamid yang tahan terhadap sinar ultraviolet. Keduanya memiliki rentang umur rata-rata sampai delapan tahun dan telah digunakan untuk rumah tanaman berbentuk tabung yang relatif murah harganya. Bangunan-bangunan tersebut kebanyakan digunakan di daerah yang beriklmi sedang untuk menaikkan suhu bagi pertanaman musim dingin. Di daerah tropika penerapan semacam ini masih terbatas, tetapi meskipun demikian tipe lembaran plastik ini dianjurkan pemasangannya untuk rumah pesemaian dengan sistem hidroponik.

Penggunaan plastik yang masih pada tingkat percobaan, tetapi mungkin dapat digunakan dalam usaha tani sayuran, mencakup penggunaan lembaran plastik hitam untuk sterilisasi tanah (lembaran plastik hitam diletakkan di atas tanah dapat menimbulkan suhu yang sangat tinggi di daerah tropika dan lembaran plastik bening untuk perlindungan tanaman terhadap hama dan penyakit. Saat ini juga telah tersedia lembaran plastik yang sangat ringan dengan lubang-lubang halus, dengan berat hanya 15 g/m kuadrat., yang dapat digunakan untuk membungkus tanaman secara menyeluruh.

Lembaran plastik digunakan untuk menaikkan suhu permukaan di lokasi yang dingin dan untuk mengawetkan lengas di lokasi yang kering. Tipe lembaran yang sangat ringan ini dapat digunakan untuk melindungi pertanaman sayuran terhadap hama dan penyakit yang sering mengganggu, misalnya pada kubis terhadap ngengat punggung intan. Lembaran plastik ini diperdagangkan (dibuat) dengan berbagai tipe perlubangan (perforasi).

Menanam - Tanaman
Salah satu contoh penggunaan plastik untuk atap
(Sumber foto: shafwandi08.blogspot.com)

Senin, 04 Agustus 2014

Budidaya Lobak (Raphanus sativus) dengan Sistem Hidroponik

Lobak-lobak Cina dapat beradaptasi baik untuk ditanam di daerah tropika, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi sekitar 1000 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini termasuk dalam suku kubis (Cruciferae), yang merupakan tanaman berumbi akar dan dimakan segar ataupun setelah dimasak.

Budidaya
Lobak memberikan hasil yang baik jika diberikan kapur pada tanah-tanah masam. Pada tanah gambut, kapur dapat digunakan dengan takaran 4 ton per ha. Cara membudidayakan tanaman Lobak dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: Pertanaman dimulai dari benih. Untuk kultivar non-hibrid, benih yang akan ditanam dengan sistem hidroponik dibuatkan tempat menanam terlebih dahulu (caranya dapat dilihat disini), sedangkan jika ditanam di tanah secara langsung, sebaiknya benih disebar jarang dalam empat baris dalam bedengan selebar 1 - 2 m dan dilakukan penjarangan menjadi 10 - 15 cm bila tanaman telah tumbuh. Untuk hibrida (Minowase Cross) diperjarang menjadi 20 cm.

Pemupukan
Meskipun tanaman ini berupa umbi akar, Lobak juga memberikan tanggapan yang baik terhadap nitrogen dan serbuk bahan organik. Pemupukan yang dianjurkan untuk tanaman lobak ini adalah sebagai berikut:
1. 20 ton per ha bahan organik per tahun, 500 kg pupuk majemuk 12:12:17:2 + UM dan 150 kg urea yang diberikan selama enam minggu pertama. Sebagai alternatif dapat diberikan 500 kg 'Nitrophoska Permanen' pada waktu awal tanam, dengan 100 kg urea yang diberikan  selama empat minggu pertama.
2. Tanpa bahan organik dapat diberikan 800 kg pupuk majemuk 12:12:17:2 + UM dan 250 kg urea yang diberikan selama empat minggu pertama atau 800 kg 'Nitrophoska Permanen' pada waktu awal tanam, 200 kg urea selama empat minggu pertama.

Lobak memberikan tanggapan yang baik terhadap pemberian air yang sedikit tetapi rutin dan harus dijaga agar tidak merusak akar tanaman selama kegiatan budidaya.

Perlindungan Tanaman
Varietas unggulan seperti Minowase Cross dapat sangat menderita karena penyakit busuk akar (Erwinia carotovara) dan sebaiknya menanam varietas lokal yang telah beradaptasi dengan baik. Penyakit akar pekuk dapat juga menyerang cukup parah dan dianjurkan untuk menggunakan benih yang bersih.

Ngengat punggung intan dapat juga menyerang lobak, tetapi tidak separah pada kubis. Karena tanaman lobak ini dihuni oleh hama tersebut dan dapat menjadi sumber hama bagi Cruciferae lain yang rentan. Bahkan diperlukan tindakan pengendalian sebagai pencegahan hama tersebut. Selain bagian umbi, daun-daunnya pun mudah terserang oleh kutu dan kumbang lain.

Lobak eropa dapat juga dicoba tanam di daerah dataran rendah, tetapi masalah umum yang dapat terjadi adalah keretakan umbi dan pembuangan hasil yang kurang bagus. Varietas-varietas yang dianjurkan untuk daerah dataran rendah adalah French breakfast, scarlet globe, Cina rose, dan Grenadier. Varietas-varietas ini dapat dipanen dalam waktu empat sampai lima minggu.

menanam - tanaman
(Sumber foto: agamextension.blogspot.com)


  

Jumat, 01 Agustus 2014

Cara Bertanam Kubis (Brassica oleracea)

Budidaya
Kubis dapat ditanam dihampir semua jenis tanah dan sangat toleran pada tanah lempng berat. Kubis juga tanggap baik terhadap kapur, dan tentu saja hal ini akan mengurangi penyakit akar pekuk. Membudidayakan tanaman Kubis (Brassica oleracea) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Benih terlebih dahulu harus disemaikan dalam kotak-kotak atau kantong-kantong kertas ataupun polybag yang berisi tanah di pembibitan dan dipindahtanamkan pada umur empat minggu. Polybag dengan ukuran kira-kira 6 x 4  cm sesuai untuk semai dengan umur 3 - 4 minggu, atau dapat juga dibiarkan lebih lama jika jarak antar polybag dijauhkan jaraknya sekitar 8 cm. 

2. Berikan siraman ringan untuk menghindari penyakit rebah semai dan atau perlakuan tanah dengan thiram atau captan. Tanah dapat juga disterilisasikan dengan panas. Sangat dianjurkan untuk menggunakan perlakuan (perawatan) benih seperti menggunakan thiram atau Ceresan (kalomel bila terdapat penyakit akar pekuk), terutama bila sumber benih tidak diketahui.

3. Setelah pemindahtanaman, tanaman semai harus diberikan naungan selama kira-kira satu minggu. Setelah tumbuh dengan baik, penyiraman rutin secara teratur akan mendorong pertumbuhan kubis. Varietas-varietas tertentu seperti "Y.R. Cross" dan "K.k. Cross" tidak dianjurkan untuk ditanam pada tanah gambut karena adanya kecendrungan timbulnya penyakit busuk hati di tanah tersebut, meskipun telah diberikan tambahan boron dan pemupukan yang cukup. Varietas terbaik untuk tanah demikian adalah "Spring Light". Kompos dan bahan organik busuk juga baik untuk kubis dengan takaran 20 ton/ha per tahun, sebagai tambahan pada pupuk anorganik. Kapur diperlukan sebanyak 2 ton/ha yang dapat bertahan sampai beberapa tahun kecuali jika tanahnya sangat masam.

Perlindungan Tanaman
Penyakit akar pekuk (Plasmodiophora brassicae) yang dapat masuk dalam biji, merupakan penyakit penting dan pengendaliannya yang terbaik masih dengan menggunakan 'kalomel' (merkuri klorida), yang juga dapat memberikan perlindungan terhadap tempayak akar. Pemberian kapur juga dapat menghalangi penyakit akar pekuk. Di daerah yang bebas penyakit akar pekuk, perlakuan benih dengan thiram mungkin dapat digunakan untuk melindungi terhadap penyakit terbawa benih lain. Alterinaria brassicae dan A. brassicicola adalah penyakit daun yang umum merusak kubis dan penyakit kaki hitam (Leptophaeria maculans) dapat menjadi penyakit penting di daerah tropika pada ketinggian yang lebih tinggi. Higiene atau kebersihan, benih dan perlakuan benih akan dapat mengendalikan semua penyakit tersebut.

Dua penyakit bakteri penting lainnya adalah penyakit busuk hitam (Xanthomonas campestris) dan penyakit busuk buah (Erwinia spp.). Keduanya dapat menyebabkan pembusukan seluruh bagian tanaman. Pergiliran tanaman, kebersihan lahan serta benih yang bersih adalah hal mutlak. Perlakuan air panas pada benih (25 menit pada suhu 50 derajat celcius untuk kubis atau 15 menit untuk Cruciferae lainnya) ditambah perlakuan benih dengan senyawa merkuri akan menghilangkan bakteri.

Hama tropika utama adalah ulat punggung intan (Plutella xylostella). Berbagai insektisida akan mengendalikannya sama baiknya dengan Bacillus thuringiensis, suatu bakteri pengendali hayati. Serangga dapat cepat menjadi tahan terhadap insektisida kimia dan akan bijaksana untuk menggunakan insektisida berbeda secara bergantian, terutama yang berasal dari kelompok insektisida yang berbeda. Perangkap cahaya di dekat bedengan dengan baskom yang berisi air di bawahnya akan menangkap ngengat dalam jumlah besar. berbagai kumbang pemakan daun, ulat dan afid merupakan hama umum dan dapat dikendalikan dengan berbagai zat kimia.

Pada tanah gambut, penyemprotan hara mikro dan borak mungkin diperlukan. Untuk pengendalian gulmanya, Amels dan Prefar sudah cukup baik.

menanam - tanaman
Penyakit busuk hitam
(Sumber foto: trubushijau.blogspot.com)

Minggu, 20 Juli 2014

Memelihara Semai Di Persemaian

Kebanyakan sayuran berbiji halus di daerah tropika pertama kali ditumbuhkan dalam persemian dan kemudian dipindah tanamkan. Ada beberapa faktor yang dapat mempengarui keberhasilan persemaian, seperti:

Naungan
Persemaian sayuran paling baik dibuat di bawah naungan. Suatu keangka pancang dengan tinggi melebihi kepala orang dewasa yang menopang penutup plastik sudah cukup untuk keperluan ini. Penutup harus mempunyai bubungan yang cukup untuk menghindari berkumpulnya air hujan dan harus dilindungi terhadap tiupan angin dengan jaring kawat. Lembaran plastik pertanian modern yang cocok untuk tujuan ini adalah yang tahan terhadap sinar ultraviolet dan tahan sampai beberapa tahun. Lembaran atau jaring plastik ringan akan memberikan sekedar naungan (shade), tetapi idak boleh melebihi 40%. Lembaran plastik untuk naungan dapat dianjurkan karena juga dapat memberikan perlindungan semai terhadap hujan.

Tanah
Tanah untuk kotak-kotak benih atau untuk mengisi kantong polybag harus merupakan cmpuran pasir, geluh dan bahan oganik dalam keseimbangan yang tepat, yang memugkinkan pengatusan yang baik. Campuran yang cocok terdiri atas dua bagian (menurut volume) geluh, satu bagian pasir dan satu bagian kompos, gambut, sabut kelapa atau bahan organik lain yang cocok. Jika lempung yang digunakan menggantikan geluh, kandungan pasirnya harus ditambah. Tanah harus diaduk dan disaring untuk membuang gumpalan-gumpalan. Untuk setiap meter kubik tanah, harus dicampurkan 2 kg pupuk dengan susunan 12:12:17:2 atau pupuk majemuk yang sama, secara merata: pupuk harus dihaluskan untuk mencegah adanya gumpalan-gumpalan.

Transplanting (Pemindah tanaman)
Taraf yang tepat untuk pemindahan bervariasi menurut kerapatan penyebarannya atau ukuran wadahnya dan menurut ketegaran atau pertumbuhan semainya. Jika menggunakan kantong kertas bergaris tengah 2,5 - 3 cm dan panjang 5 - 7 cm, semai akan siap tanam pada umur tiga atau empat minggu. Jika dipindahtanam sebagai semai cabutan diperlukan naungan pada waktu hari panas selama minggu pertama.

Waktu yang tepat untuk mencabut dan menanam semai ke tanah adalah ada saat menjelang siang hari kurang lebih pukul 09.00 sampai pukul 12.00 karena tanaman sudah memasak makanannya sehingga ketika dipindahtanam tanaman akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

menanam-tanaman
(Sumber foto: pengertian-definisi.blogspot.com )

Jumat, 18 Juli 2014

Cara Membuat Alat Penguji Benih Sederhana untuk Peningkatan Hasil Usaha Pertanian

Salah satu bagian dari proses produksi pertanian yang kadang dianggap sepele tetapi penting untuk mendapatkan hasil pertanian yang baik adalah ketersediaan benih yang bermutu baik. Benih yang baik merupakan hal yang mutlak untuk keberhasilan sistem produksi semua jenis tanaman khususnya untuk sayuran, yang kualitas serta keragaman hasilnya sangat penting dalam hal pemasarannya kepada konsumen. Bagaimanapun usaha pemeliharaan yang baik dan masukan bahan kimiawi mahal yang dicurahkan tidak akan dapat mengatasi hambatan awal dikarenakan penggunaan benih yang berkualitas jelek. Beberapa petani menjual hasil terbaik dari pertaniannya dan menyimpan yang terjelek untuk benih, suatu yang berlawanan dengan apa yang seharusnya diperbuat. Cara yang demikian ini hanya akan menyebabkan penurunan kualitas dan hasil untuk pertanaman selanjutnya yang pada akhirnya akan menurunkan keuntungan bagi petani.

Salah satu cara untuk mengetahui apakah benih yang akan digunakan merupakan benih yang bermutu baik atau jelek adalah dengan melakukan pengujian benih. Pengujian benih sederhana dapat menunjukkan kemampuan perkecambahan sebenarnya dan vigor dari persediaan benih dan apakah takaran penyebaran perlu ditingkatkan sehingga populasi tanaman yang tepat dapat tercapai, sehingga hasil lanjutannya jika keadaan lain-lain tepat dalam usaha pertanamannya maka dapat diperoleh hasil maksimum. Tidak masuk akal jika menyebar atau menanam benih dengan daya kecambah rendah, dengan mengharapkan adanya keajaiban yang akan mengatasi cacat dasar dari benih. Dalam praktiknya, keajaiban seperti itu jarang terjadi dan rencana pertanian yang didasarkan pada pada harapan tersebut biasanya mahal dan mengecewakan.

Petani dapat menguji benihnya sendiri dengan cara menaruh 100 benih di atas media yang basah seperti kapas, kertas koran atau pasir basah. Tergantung dari jenis tanamannya, dalam satu sampai dua minggu dapat diperoleh perkiraan yang layak dari persentase tanaman yang tumbuh normal. Semai yang abnormal dalam bentuk apapun tidak dihitung.

Dapat pula dibuat semacam desikator atau alat sederhana untuk pengujian benih dengan cara: menyiapkan stoples kaca bening, pada dasarnay dimasukkan bahan pengering (desiccant) berupa silica gel (butiran berwarna biru yang harus diovenkan terlebih dahulu hingg berwarna pink cerah, biasanya dijual di toko-toko kimia) atau menggunakan biji buncis kering yang telah diovenkan terlebih dahulu sampai kering. Kemudian lapisan di atasnya dipasangi dasar lengas dari kardus atau lempeng logam, kemudian ditaruh beberapa bungkus benih yang telah dibuka dibagian atasnya (jangan dilipat, biarkan terbuka), dan terakhir di tutup rapat agar kedap udara.

Cara Membuat Alat Penguji Benih Sederhana untuk Peningkatan Hasil Usaha Pertanian

Kamis, 17 Juli 2014

Pembuatan Bedengan di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi

Daerah Datar (Daerah Dataran Rendah)
Daerah datar memiliki masalah yang paling kecil jika dilihat dari segi pembuatan bedengan, tetapi sangat mutlak diperlukan untuk terjaminnya pembuangan air yang baik. Pengatusan yang baik dapat dicapai jika dibuatkan parit-parit pengatusan lapangan menuju ke saluran-saluran pengatus alami dan bedengan-bedengan yang relatif tinggi untuk pertanaman sayuran. Parit-parit pengatusan biasanya dibuat menurut pola kisi-kisi (grid pattern). Di daerah yang bercurah hujan tinggi dimana periode kering bukan merupakan masalah, airnya seharusnya selalu tersedia untuk pengairan setiap waktu, tetapi di daerah yang mengalami kekurangan air secara berkala, diperlukan adanya sekat-sekat (tile bunds) sepanjang parit pengatusan untuk meningkatkan penerimaan curah hujan. Dalam hal ini pembuatan guludan dan paliran leboih baik digunakan daripada bedengan yang lebar (bedengan dengan lebar 1 m atau lebih) karena hal ini akan memberikan kemudahan bagi tanaman untuk mencapai air. Di tanah yang sangat rendah, harus dibuatkan bedengan cembung.

Daerah Berbukit (Daerah Dataran Tinggi)
Daerah berbukit seringkali diteras untuk banyak tipe budidaya sayuran. Ini terutama disebabkan karena bedengan memerlukan perhatian lebih untuk semua produksi sayuran pasar, dan jalan masuk ke lahan pertanaman tidak mudah apabila tidak dibuat teras-teras. Pertanaman dengan barisan-barisan berjarak lebar dapat diusahakan dalam barisan tunggal sepanjang lereng bukit.

Pembuatan bedengan menurut menurut garis tinggi diperlukan di daerah berbukit untuk mencegah erosi tanah, yang dapat sangat parah jika tanah diolah naik dan turun bukit. Bedengan dapat dibuat pada teras yang telah dibuat terlebih dahulu atau dapat dibuat sehingga permukaan bedengan sesuai dengan kemiringan umum bukit. Hal ini umumnya dilakukan pada kemiringan yang lebih kecil.

Dalam pembuatan bedengan atau teras perlu dibedakan antara tanah-tanah yang tidak stabil, seperti yang berbahan induk batu lempung (shale) dan batuan pasir dengan tanah-tanah yang stabil sperti tanah-tanah granit dan basalt. Tanah yang pertama membutuhkan pengelolaan yang jauh lebih cermat. Masalah utama pada tanah-tanah tersebut di daerah berbukit adalah kecenderungannya untuk tererosi. Di daerah datar hal ini hanya akan mengakibatkan rebahnya tanaman, tetapi di daerah berbukit resiko tanah longsor sangat besar. Oleh karena itu, dalam perhitungan curah hujan tinggi, teras harus dibuat sedemikian rupa agar mendorong aliran permukaan yang cukup tetapi sekaligus akan menghindari erosi tanah. Di daerah yang curam harus dibuat teras-teras bangku dengan kemiringan 1 - 2o sepanjang teras, dengan lubang-lubang unutk pengatusan pada selang jarak yang tepat. Lubang-lubang ini harus dilindungi terhadap erosi, dengan membuat pintu air dari batu atau semen atau bisa juga dengan membuat daerah pembuangan yang cukup berumput. Pertumbuhan rumput dalam saluran pengatusan dapat dikendalikan dengan pembabatan secara berkala, dan hasilnya dapat dijadikan sumber bahan mulsa. Erosi bedengan pada teras juga dapat dikurangi dengan pemulsaan. Sebaiknya penggunaan tanah-tanah tak stabil, usaha tani sayuran dibatasi pada derah yang kurang curam, tetapi sayangnya dalam praktik, lereng-lereng yang sangat curam kadang-kadang digunakan untuk budidaya sayuran di daerah tropika. Biasanya usaha tani sayuran semacam ini terletak di stasiun pegunungan (hill station) dimana jenis sayuran iklim sedang yang bernilai ekonomi tinggi dapat diusahakan. Persiapan lahan yang mahal, tetapi produksi sayuran dekat dengan pasar yang sesuai biasanya menguntungkan dan dapat menutup biaya awal yang tinggi. 

Pada tanah-tanah granit dan vulkanik/gunung berapi, lereng yang lebih curam dapat diusahakan dengan aman dan tindakan-tindakan pencegahan yang seksama terhadap longsornya tanah umumnya tidak diperlukan.

menanam-tanaman
Gambar bedengan/teras pada daerah berbukit
(Sumber foto: pkm.openthinklabs.com)

Rabu, 16 Juli 2014

Kapur, Pengapuran Tanah Masam untuk Meningkatkan pH Tanah

Di daerah-daerah tropika kebanyakan tanahnya bersifat masam, karena pengaruh curah hujan yang tinggi sehingga basa-basa dapat tukarnya tercuci. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemasaman  tersebut adalah dengan melakukan pengapuran jika akan dilakukan usaha pertanaman sayuran, terutama untuk kerabat Cruciferae (kerabat kubis, kubis bunga dan sebagainya). Tanah-tanah yang terutama membutuhkan kapur adalah tanah Oxisol, Alfisol dan Ultisol yang mengalami pencucian berat. Tanah gambut dataran rendah dan tanah sulfat masam pesisir (sering terdapat bersamaan) tidak dapat digunakan untuk lahan pertanian tanpa terlebih dahulu diberikan kapur, karena pada tingkat kemasaman dibawah sekitar pH 5,5, ion-ion aluminium dan pada bebberapa ion-ion tanah magnesium, dibebaskan dari mineral-mineral lempung dan beracun bagi kebanyakan jenis tanaman.
Kapur, Pengapuran Tanah Masam untuk Meningkatkan pH Tanah
(Ilustrasi)
Banyaknya kapur yang dibutuhkan untuk tanah dan pertanaman tropika berbeda dengan yang telah lazim berlaku di Amerika utara dan Eropa. Ini disebabkan karena tanaman tropika dan varietas-varietasnya teradaptasi lebih baik pada tanah-tanah masam daripada tanaman iklim sedang. Rizobia kacang-kacangan tropika, seperti dari kelompok kacang tunggak yang kadang-kadang digunakan untuk menginokulasi akar legum (kacangan) lain, dapat berfungsi pada tingkat pH yang lebih rendah.

Takaran pupuk yang dianjurkan bervariasi menurut  pH. Pada tanah yang sangat masam seperti tanah-tanah sulfat masam (Tanah sulfat masam biasanya adalah tanah yang terbentuk di daerah pantai), mungkin diperlukan sebanyak 5 ton/ha selama beberapa tahun untuk menetralkan asam yang terbentuk pada waktu pengairan atau pengatusan. Kebanyakan tanah tropika dengan pH dalam kisaran 5,0 sampai 5,5, akan lebih baik jika diberika perlakuan pengapuran kira-kira 1 ton/ha kapur.

Manfaat utama dari kapur adalah sebagai berikut:
1. Kapur meningkatkan mineralisasi nitrogen organik dalam, sisa-sisa tanaman, membebaskan nitrogen sebagai ion ammonium dan nitrat yang demikian tersedia bagi tanaman.
2. Kalsium dan magnesium, yang merupakan unsur pokok utama kapur, adalah hara esensial yang dapat membatasi pertumbuhan tanaman pada tanah-tanah tropika masam.
3. Pada tanah lempung masam, kapur dapat membantu memperbaiki kegemburan tanah dengan meningkatkan struktur remah atau gembur.

Tetapi tanah-tanah tropika dengan nilai pH lebih besar dari 6, tidak akan mendapatkan manfaat dari kapur bahkan pengapuran dapat merugikan atau merusak.

Bahaya pengapuran yang berlebihan dapat menampakkan diri dalam bentuk-bentuk sebagai berikut:
1. Tanaman menjadi klorotik (kuning atau pucat) karena kekurangan zat besi.
2. Seng, tembaga, mangan dan boron dapat menjadi kurang terlarutkan dan dengan demikian akan kurang tersedia bagi tanaman.
3. Fosfor dan molibdenum dapat menjadi kurang tersedia karena pH yang meningkat.

Cara paling lazim untuk mengatasi pengapuran yang berlebihan adalah dengan pemberian bahan organik, seperti pupuk organik hewani dalam jumlah yang besar.

Dalam usaha budidaya sayuran, karena tanah sering diolah, kapur dapat diberikan dalam takaran terbatas pada setiap pertanaman sampai kemudian pH tanah mencapai nilai 6. Beberapa pertanaman, terutama kerabat kubis sangat tanggap baik terhadap kapur dan takaran yang lebih tinggi biasanya menguntungkan, bahkan pada tanah yang relatif tidak masam.

Kapur harus disebarkan merata pada bedengan dan dibenamkan pada waktu pengolahan tanah bedengan.